TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tujuh Pilar Islam Memutus Mata Rantai Penularan Covid-19

Foto: Dr. Rini Syafri


TintaSiyasi.com-- Islam memiliki tujuh pilar yang menjadikan lima prinsip memutus mata rantai penularan pandemi Covid-19 (lockdown syar’i, pengisolasian yang sakit, pengobatan hingga sembuh bagi yang terinfeksi meski tanpa gejala, social dan phyisical distancing, penguatan imunitas dan pemberlakukan protokol kesehatan) berjalan efektif.

“Yang dimiliki Islam dan tidak dimiliki oleh sistem politik mana pun yaitu tujuh pilar yang menjadikan lima prinsip pemutusan mata rantai penularan berjalan efektif,” ungkap Pengamat Kebijakan Publik, Dr. Rini Syafri dalam Forum Tokoh Muslimah Depok: Khilafah Solusi Tuntas Pandemi, Ahad (27/9/2020) via Zoom Meeting di Depok.

Adapun ketujuh pilar tersebut adalah: “Pertama, bervisi global sebagai ‘pembebas’ dan penyejahtera seluruh alam. Kedua, fungsi negara yang sehat dan model kekuasaan yang benar. Ketiga, politik pembiayaan berbasis baitul mal dengan anggaran mutlak, penyediaan SDM kesehatan berbasis sistem pendidikan Islam. 

Keempat, politik riset berbasis politik DL-LN negara khilafah, politik industri berbasis industri berat. Kelima, edukasi nasihat dan komunikasi efektif dan sanksi bersifat sebagai pencegah dan penjera. 

Keenam, ketakwaan individu, amar ma’ruf nahi mungkar dan pelaksanaan  peraturan perundang-undangan syariat oleh negera. Ketujuh, politik luar negera sebagai pembebas,” bebernya di hadapan sekitar 230 tokoh Kota Depok.


Tujuh Pilar

Dalam acara yang ditayangkan di kanal YouTube Muslimah Inspirasi ID, Dr  Rini menjelaskan ketujuh prinsip tersebut, yakni: Pertama, bervisi global sebagai ‘pembebas’ dan penyejahtera seluruh alam. 

“Ini (Islam) adalah satu-satunya negara, model pemerintahan yang mempunyai visi penopang. Kalau Amerika masih menggunakan visi nation state-nya, begitu juga Cina. Visi Islam agar membuat semua dunia,  semua makhluk tunduk, patuh kepada syariat Allah. Itulah visi global, pembebas manusia dari beribadah  kepada selain Allah  hanya  untuk beribadah kepada Allah,” terangnya.

“Yang menariknya juga adalah pada pemerintahan Islam ini pula melekat satu pilar yang luar biasa, bahwa Khilafah Islam itu pewujud rahmatan lil aalamiin. Allah sendiri sudah menegaskan hal itu dalam Al-Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 107,” tambahnya sambil membacakan ayat tersebut.         

Kedua, fungsi negara yang sehat dan model kekuasaan yang benar. 

“Pemutusan mata rantai penularan bisa berjalan efektif karena fungsi negara yang sehat. Fungsi negara yang sehat hanya pada khilafah. Kalau kita perhatikan dengan baik, Rasulullah SAW, ‘Innamâ al-imâmu junnatun yuqâtalu min warâ`ihi wa yuttaqâ bihi fa in amara bitaqwallâhi wa ‘adala kâna lahu bidzâlika ajrun wa in ya`muru bi ghayrihi kâna ‘alayhi minhu.’ Dalam negara khilafah melekat karakter sebagai junnah/pelindung. Pelindung nyawa kita, harta kita, kehormatan kita, akal kita dan sebagainya. Dan juga sebagai pelayan, pengelola, pengatur urusan masyarakat. Itu adalah fungsi sehat yang melekat pada khilafah tadi,” bebernya.

“Kemudian menariknya juga adalah khilafah Islam ini memiliki model kekuasaan yang benar sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW  kepada kita adalah yakni kekuasaan yang bersifat sentralisasi dan administrasi bersifat desentralisasi. Rasulullah mengatakan ’Idzaa buyi'a likhalifataini, faqtul al-akhar minhuma.’ (HR Muslim no.3444) Itu menunjukkan tidak boleh ada penguasa atau pemilik kekuasaan  yang berbilang, harus bersifat sentral,” tambahnya.

Ketiga, politik pembiayaan berbasis baitul mal dengan anggaran mutlak, penyediaan SDM kesehatan berbasis sistem pendidikan Islam.

“Sudah sangat jelas, lockdown dilakukan, social distancing dilakukan, kemudian orang-orang yang berada di areal wabah tersebut, butuh dijamin oleh negara, tidak hanya kebutuhan pokok publik mereka  yang memang dijamin dalam kondisi normal, tetapi juga kebutuhan-kebutuhan individu mereka dijamin oleh negara. Dan itu pasti membutuhkan biaya yang besar dan pasti juga memerlukan sistem pangan yang bagus, sistem kesehatan yang tangguh dan lain sebagainya,” ungkapnya.

“Pada sistem politik Islam juga, melekat karakter konsep penyediaan penyediaan SDM kesehatan berbasis sistem pendidikan Islam yang memungkinkan bisa disegerakan SDM kesehatan yang hari ini berkurang,” tambahnya.

Keempat, politik riset berbasis politik DL-LN negara khilafah, politik industri berbasis industri berat. 

Kelima, edukasi nasihat dan komunikasi efektif dan sanksi bersifat sebagai pencegah dan penjera. 

“Lima konsep penanggulangan pemutus rantai penularan itu akan efektif ketika ada edukasi dari negara, nasihat, komunikasi efektif. Disamping adanya  sanksi yang bersifat pencegah dan penjera. Allah sudah mendesain aspek itu melekat pada negara khilafah tersebut,” imbuhnya.

Keenam, ketakwaan individu, amar ma’ruf nahi mungkar dan pelaksanaan  peraturan perundang-undangan syariat oleh negera. 

“Semua aspek ini  memang dijalankan oleh setiap individu dengan dorongan ketakwaan kepada Allah SWT dan berlangsungnya amar ma’ruf nahi mungkar di samping tetanam syariat Islam oleh negara,” jelasnya.

Ketujuh, politik luar negera sebagai pembebas “Yang terakhir adalah politik luar negeri di negara khilafah yang memang  bersifat sebagai pembebas. Politik luar negeri adalah dakwah dan jihad,” pungkasnya. [] Siti Aisyah

Posting Komentar

0 Komentar