TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tolak UU Cipta Kerja dengan Aksi dan Solusi



Ricuh, korban massa aksi telah berjatuhan. Begitulah suasana yang diberikan oleh rakyat dalam merespon Undang-Undang Cipta Kerja Omnibus Law yang telah disahkan pemerintah.

Dikutip dari, CNN Indonesia, (7/10), Wakil walikota Bandung, Yana Suryana, menyatakan "Tadi ke Cikapayang termasuk juga ke gedung dewan. Pemerintah kota cukup menyayangkan unjuk rasa hari ini berakhir dengan kericuhan," di Bandung, Selasa (6/10/2020).

Kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah dengan disahkan UU Cipta Kerja, memberikan dampak kemarahan. Karena mereka dianggap telah mengkhianati janji-janji mereka pada saat kampanye. Salah satu janjinya adalah dengan membuat kebijakan yang mampu mensejahterakan kaum buruh. 

Namun, pada faktanya justru melukai hati kaum buruh dengan UU Ciptaker yang memgancam kesejahteraan mereka. Disinyalir, hak-hak mereka sebagai buruh ditiadakan. Pemerintah terkesan berpihak pada pengusaha, tanpa memperdulikan nasib kaum buruh. 

Tampak jelas, ke mana arah kebijakan tersebut. Hal itu merupakan suatu hal yang biasa dalam sistem kapitalisme. Dimana, posisi penguasa adalah sebagai perpanjangan tangan para pemilik modal dalam melanggengkan hajat bisnis mereka.

Tanpa mempertimbangkan kepentingan rakyat dan dampak lingkungan, yang justru bisa berdampak buruk bagi berlangsungnya kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Aksi anarkis yang saat ini masih terus berlangsung diberbagai daerah di Indonesia, merupakan efek dari ketidakpuasaan dan kekecewaan mereka terhadap rezim berkuasa saat ini. Hal itupun bisa mempengaruhi elektabilitas pemerintah dalam mengatur negara, dikhawatirkan tingkat kepercayaan masyarakat pun akan menurun. 

Perlawanan itu dengan Pemikiran

Menyadari, bahwasanya sistem yang saat ini diemban oleh negara yaitu sistem Kapitalisme dengan penerapan politik demokrasi. Seakan mematahkan esensi demokrasi dimana rakyat menjadi kedaulatan negara, slogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat hanyalah pemanis saja. 

Akan tetapi, kenyataannya aspirasi rakyat tidak didengarkan. Rakyat semakin terjepit di tengah bayang-bayang resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19. 

Melawan dengan kekerasan pun bukan menjadi solusi yang tepat, karena pemerintah pun telah mempersiapkan benteng keamanan dan pertahanan. Akhirnya yang terjadi adalah bentrok sesama rakyat antara massa aksi dan kepolisian. 

Memahami kondisi yang tidak kondusif dan ketidak berpihakan sistem saat ini adalah hasil dari kekeliruan dalam memaknai amanah kepemimpinan. 

Paradigma kehidupan yang keliru, pasti akan menghasilkan aturan yang tidak akan mendatangkan kebaikan. Satu-satunya jalan adalah dengan mengubah pada pemahaman yang benar pasti akan mewujudkan sistem pemerintahan yang adil. Sejatinya saat ini Indonesia masih terjajah tetapi bukan terjajah fisik melainkan terjajahnya pemikiran. 

Neoliberalisme-Neoimperialisme merupakan kerusakan yang nyata, meskipun penjajah telah pergi namun hukum perundang-undangan masih bercokol di negeri ini. 

Oleh sebab itu, perlawanan yang tepat adalah dengan merubah konsep berpikir dari memisahkan agama dari kehidupan menuju konsep berpikir Islam. 

Islam Solusi Praktis 

Rasululllah SAW. merupakan teladan terbaik bagi umatnya. Suatu hari dikisahkan pertemuan tukang batu dengan Rasulullah.

Seraya Rasululllah pun bertanya pada si tukang batu, mengapa tangannya begitu kasar? lalu tukang batu pun menjawab bahwa, tangannya dipergunakan untuk membelah batu-batu. Lalu batu-batu itu dibawa kepasar untuk dijual agar bisa mendapatkan uang demi menafkahi keluarganya. 

Tanpa ragu Rasululllah pun mencium tangan tukang batu tersebut, sambil berucap " “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada” (Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya).

Dari kisah tersebut, tergambarkan bagaimana Islam memposisikan buruh sebagai tulang punggung dalam menafkahi keluarga sangat mulia. 

Islam memandang kekuasaan merupakan amanah besar yang kelak dipertanyakan di yaumil hisab. Oleh karena itu, kepentingan rakyat merupakan prioritas utama dibandingkan dengan kepentingan pribadi maupun kelompok. 

Islam memiliki konsep tata negara yang tegas dan jelas, tidak akan membiarkan intervensi negara lain melalui berbagai pesanan kebijakan yang membuat rakyat sengsara. 

Pengelolaan SDA dan SDM dalam Islam dikembalikan lagi untuk kemasalahatan umat, karena sesungguhnya pemimpin merupakan pelayan dan penjaga bagi rakyatnya. 

Pemikiran Islam harus dipahami dan diterapkan secara menyeluruh pada seluruh aspek kehidupan, kesejahteraan pun bukan hanya milik para pekerja, petani maupun nelayan. Tetapi juga pada seluruh bidang pekerjaan. 

Sebagaimana sabda Rasululllah SAW: 

“Imam itu adalah laksana penggembala, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya)” (HR. Imam Al Bukhari  dan Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Umar r.a.)

Maka, melawan kezaliman adalah dengan penerapan Islam secara menyeluruh membutuhkan sistem yang telat yaitu adalah sistem Islam kaffah.[]

Oleh: Sri Astuti Am.Keb (Aktivis Muslimah Peduli Negeri) 

Posting Komentar

0 Komentar