TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Terkait Omnibus Law, Pakar Biologi Molekuler: Semua Korban Sistem, Tak Sengaja Jadi Iblis? Nauzubillah




TintaSiyasi.com-- Menanggapi aksi yang ricuh terkait penolakan UU Ciptaker Omnibus Law, Pakar Biologi Molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Ph.D. angkat bicara bahwa semua adalah korban dari sistem.

"Kita semua ini adalah korban, korban dari sistem, menjadi iblis secara tidak sengaja? Nauzubillah," tuturnya dalam acara FGD Doktor Muslim #7: Menimbang Dampak UU Omnibus Law (Ideologi Politik Ekonomi Sosial Budaya Pertahanan dan Keamanan), Sabtu (10/10/2020) melalui kanal Youtube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.

"Baik polisi, mahasiswa, adik-adik STM adalah korban dari suatu sistem yang memungkinkan semua itu terjadi," tambahnya.

Menurutnya, inilah saatnya orang harus berdiskusi mencari solusi yang benar bukan karena tekanan. Karena ketidakpercayaan sudah sangat tinggi yaitu antara rakyat dan wakilnya. "Padahal kalau tidak ada kepercayaan tidak ada rahmat, tidak ada keberkahan," tandasnya.

Ia memaparkan, terkait Omnibus Law ini memang sangat panjang pembahasannya. "Bagaimana pekerja mendapat pengupahan yang layak, bagaimama jaminan kebutuhan pokok pekerja, bagaimana sistem penjaminnya? Bagaimama pengelolaan sumber daya alam? Untuk siapa, rakyat atau oligarki saja?" tanyanya.

Ia menegaskan, Islam tidak anti bisnis dan Islam juga mendorong investasi yang sangat besar. "Tetapi yang diajarkan Islam adalah investasi yang mau berbagi untung dan rugi, inilah bedanya dengan sistem saham misalnya. Pemegang saham menuntut harus untung terus, karena melihat semuanya serba untung," bebernya.

Ia mencontohkan rusaknya sistem kesehatan yang terkuak saat terjadi wabah pandemi Covid-19, padahal sektor kesehatan harusnya bisa dinikmati oleh orang banyak. "Jadi pertanyaaanya, apakah orang yang mampu beli yang bisa mengakses kesehatan atau orang harus jatuh miskin dulu baru mendapatkan kesehatan?" sanggahnya.

Ia menjelaskan, Islam mempunyai aturan, SDA tidak boleh diprivatisasi, kesehatan juga demikian. "Ini harus clear. Kalo kita ingin semua orang harus sehat, terlepas dari pendapatan mereka, maka harus dipikirkan sistemnya," tegasnya.

Ia melihat sistem kesehatan yang bermasalah, karena paradigmanya keliru,  tidak jelas antara aspek sosial dan kapitalisme. "Ini kan gak sehat, nah di situ negara harus hadir," pungkasnya.[] Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar