TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Taubat dan Taat Totalitas Langkah Tepat Atasi Covid-19


Wabah covid-19 telah menyebar luas selama kurang lebih enam bulan terakhir ini. Tampak dari data yang ada bahwa penyebaran virus ini terus naik, bahkan belum ada tanda-tanda penurunan jumlah rakyat yang terdampak.

Di tengah kondisi yang semakin buruk ini, Bapak Jokowi selaku presiden republik Indonesia mengajak masyarakat untuk berbagi saat pandemi, memperbanyak infaq, dan shodaqoh.

"Kita juga tidak boleh melupakan istighfar, dzikir, taubat kepada Allah SWT, dan memperbanyak infak dan sedekah," kata Jokowi yang memberi sambutan dari Istana Kepresidenan Bogor.

"Karena banyak saudara-saudara kita yang memang perlu dibantu di tengah kesulitan yang mereka hadapi," sambungnya.

Selain itu beliau menyampaikan kita tidak boleh menyerah pada keadaan, harus tetap berikhtiar untuk mengendalikan penyebaran wabab covid-19 ini.

"Dalam menghadapi cobaan ini kita tidak boleh menyerah, kita harus terus berikhtiar, berikhtiar dengan sekuat tenaga untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 dan agar sekaligus membantu saudara-saudara kita agar tidak semakin terpuruk karena kesulitan ekonomi," kata Jokowi.

Ia menegaskan pemerintah tak bisa menghadapi pandemi ini sendirian. Jokowi menegaskan tidak ada cara lain memutus rantai penularan Corona kecuali seluruh masyarakat disipilin dalam menjalankan protokol kesehatan, mulai dari mengenakan masker, menjaga jarak, serta rutin mencuci tangan.Selanjutnya, beliau menutup dengan mengajak berdo'a bersama agar Allah segera mengangkat wabah ini dari Indonesia.
(https://nasional.kompas.com/read/2020/09/26/11360811/jokowi-ajak-umat-islam-berbagi-saat-pandemi-perbanyak-infak-dan-sedekah)

Wabah adalah Peringatan dari Allah

Allah Subhananahu wa ta'alaa berfirman di dalam surah Ar-Rum ayat 41 yang bunyinya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ {٤١}

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Al-Rûm [30]: 41)

Di dalam tafsir Al-Muyassar dari Kementerian Agama Saudi Arabia mengatakan bahwa:

"Telah terlihat kerusakan di daratan dan di lautan seperti kekeringan, minimnya hujan, banyaknya penyakit dan wabah, yang semua itu disebabkan kemaksiatan-kemaksiaan yang dilakukan oleh manusia, agar mereka mendapatkan hukuman dari sebagian perbuatan mereka di dunia, supaya mereka bertaubat kepada Allah dan kembali kepadaNya dengan meninggalkan kemaksiatan, selanjutnya keadaan mereka akan membaik dan urusan mereka menjadi lurus."

Dengan demikian taubat kepada Allah dan kembali kepada-Nya dengan meninggalkan  kemaksiatan dan menjalankan seluruh perintahnya adalah kunci agar Allah segera mengangkat wabah ini dari negeri kita. Namun, mentaubati dosa-dosa pribadi saja tak cukup untuk mengatasi wabah ini, karena ada maksiat yang jauh lebih besar lagi telah terjadi di negeri kita ini, yaitu diabaikannya syariat Allah di dalam kehidupan, baik bidang ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesehatan, dan lain-lain (read: menghalalkan khamar, banyak perzinaan yang pelakunya tidak dihukum rajam/cambuk, pencuri yang tidak di potong tangannya, kehidupan liberal, dan lain-lain)

Sehingga agar taubat kita menjadi sempurna, maka setelah bertaubat dengan kesungguhan hendaknya di ikuti pula dengan mentaati aturan-aturan Allah SWT dengan kembali kepada petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk mengatur kehidupan bernegara.

Syariat Taubat di Kala Wabah

Adalah Rasulullah Shallahu 'alayhi Wassalaam tatkala menghadapi kemarau beliau berdo'a hingga ketiaknya terlihat karena tingginya beliau mengangkat tangan.

Anas bin Malik berkata, "Nabi Allah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah mengangkat kedua tangannya ketika berdo`a kecuali pada shalat istisqa`. Beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya kedua ketiak beliau."
(HR. Ibnu Majah 1170)

Diceritakan dalam buku The Great of Umar bin Khoththob saat beliau menjadi khalifah kaum muslimin pernah terjadi musibah kekeringan di Ibukota Khilafah Islam yakni Madinah Al-Munawwaroh selama sembilan bulan lebih.

Khalifah Umar ra. mengimami salat isya bersama para jamaah yang lalu pulang, sementara ia terus salat hingga di penghujung malam. Setelah itu, Umar keluar rumah mendatangi perkampungan dan meronda. Abdullah bin Umar ra. meriwayatkan, ia berkata,

Pada suatu malam di waktu sahur saya mendengar ia berdoa, “Ya Allah, janganlah Kau binasakan umat Muhammad saat saya menjadi pemimpin mereka.”

Ia pun berdoa, “Ya Allah, janganlah Kau binasakan kami dengan kemarau dan lenyapkanlah musibah dari kami.”

Ia mengulang-ulang kata-kata tersebut.

Khalifah juga langsung memimpin tawbat[an] nasûhâ. Bisa jadi bencana/krisis yang ada akibat kesalahan-kesalahan atau dosa yang telah dilakukan oleh Khalifah dan atau masyarakatnya. Khalifah menyerukan tobat. Meminta ampun kepada Allah agar bencana segera berlalu.

Demikianlah hakikat taubat yang sesungguhnya, memohon ampun kepada Allah SWT dengan menjadikan bencana dan musibah sebagai bahan untuk bermuhasabah dan intropeksi akan kemaksiatan-kemaksiatan yang telah dilakukan. Namun tak cukup sampai disitu, setelah bertaubat maka semestinya harus dibarengi ketaatan-ketaatan terhadap syariat Allah lainnya, sehingga dengan begitu dengan izin Allah bencana dan musibah segera berakhir. Wallahu’alam bisshawab.[]

Oleh: Haryati, S. Pd

Posting Komentar

0 Komentar