TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sebaik-baik Jihad adalah Mengoreksi Pemimpin yang Zalim



UU Cipta Kerja yang baru saja disahkan sebagai Undang-Undang nampaknya menuai respons beragam dari masyarakat. Berbagai kalangan menolak putusan ini, mulai dari buruh, mahasiswa, ulama, profesor, ahli hukum, kepala daerah dan masih banyak kalangan lainnya. Mereka menganggap undang-undang ini lebih berpihak pada pengusaha dan pemilik modal serta merugikan pekerja dan lingkungan hidup. Aksi unjuk rasa besar - besaran pun terjadi di berbagai daerah untuk menolak UU ini. 
Beberapa kalangan menyayangkan aktivitas unjuk rasa ini karena dilakukan di tengah pandemi. 

Aksi unjuk rasa yang menyebabkan kerumunan massa yang berjarak dekat dalam durasi yang lama dikhawatirkan akan menyebabkan penyebaran virus yang masif.  Bahkan mereka serta merta mengharamkan kegiatan tersebut. Mereka bicara bahwa tugas koreksi kepada penguasa harusnya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi atau empat mata secara langsung.

Padahal Islam mengatur bahwa mengoreksi penguasa yang lalai, salah dan keliru, termasuk perkara yang harus dilakukan. Salah satu hadits yang mendorong untuk mengoreksi penguasa, menasihati mereka, adalah hadits dari Tamim al-Dari –radhiyaLlâhu ’anhu-, bahwa Nabi Muhammad –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– bersabda:

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ»

“Agama itu adalah nasihat”
Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?” Nabi–shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– bersabda:

«لِلّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَتِهِمْ»

"Untuk Allah, kitab suci-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan kaum Muslimin pada umumnya.”(HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad. Lafal Muslim)

Juga ada hadits-hadits lain yang menjelaskan tentang keutamaan mengkoreksi penguasa, 

«أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ»

“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar kepada pemimpin yang dzalim.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud, al-Nasa’i, al-Hakim dan lainnya)
Serta dalil yang seringkali kita dengar yaitu,

«سَيِّدُ الشُهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدُ الْمُطَلِّبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ»

“Penghulu para syuhada’ adalah Hamzah bin ‘Abd al-Muthallib dan orang yang mendatangi penguasa dzalim lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), kemudian ia (penguasa zhalim itu) membunuhnya.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath)

Maka, boleh untuk melaksanakan aksi dan menyuarakan pendapat secara umum, selama isi dari seruan itu tidak bertentangan dengan syariah islam.
Salah satu ulama salaf terdahulu, · 

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berdiri di atas mimbar untuk mengkritik dan memberikan nasihat kepada Gubernur Yahya bin Sa’id yang terkenal dengan julukan Ibnu Mazâhim Al-Dzâlim Al-Qadha. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata, “Semoga orang Islam tidak dipimpin oleh orang yang paling dzalim; maka apa jawabanmu kelak ketika menghadap Tuhan semesta alam yang paling pengasih? Gubernur itu gemetar dan langsung meninggalkan apa yang dinasihatkan kepadanya”. 

Dalam keterangan lainnya, beliau mengoreksi Khalifah al-Muqtafi terang-terangan di atas mimbar masjid karena mengamanahkan jabatan hakim peradilan kepada orang yang berbuat kedzaliman-kedzaliman. Maka teruslah sampaikan yang haq dihadapan penguasa yang zalim.

Sesungguhnya agama ini memerintahkan kita untuk menasehati dalam kebenaran dan keadilan, tentu saja dengan tetap memperhatikan  protokol kesehatan karena kita masih dalam masa pandemi. Wallahu’alam bi showab.[]


Oleh: Kamilah Azizah

Posting Komentar

0 Komentar