TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

RUU Ciptaker Disahkan, Rakyat Semakin Sengsara



Secara diam-diam, Senin malam 5 Oktober 2020, DPR RI telah mengesahkan RUU Ciptaker alias omnibus law. Pembahasan pertama selesai dirampungkan pada Sabtu malam. Anggota DPR yang biasa bolos dan tidur saat rapat, tiba-tiba memenuhi kursi untuk membahas RUU Ciptaker. Seharusnya, RUU Ciptaker baru akan dibahas pada 8 Oktober mendatang. Namun, karena alasan pandemi Covid-19, DPR RI memutuskan untuk memajukan ke 5 Oktober. Sangat tidak berkolerasi.

Linimasa Twitter dan Instagram dipenuhi oleh rakyat yang bergemuruh dan berteriak betapa tak adilnya hidup yang akan mereka jalani. RUU Ciptaker disahkan, rakyat semakin sengsara.

Pengangguran akibat Covid-19 meningkat, ditambah lagi dengan adanya RUU Ciptaker yang salah satu tujuannya akan menyambut TKA ke Indonesia. Rakyat pribumi mau makan apa?

Begitu banyak concern yang bisa kita cermati, betapa bobroknya RUU Ciptaker atau omnibus law dan semakin memperlihatkan bobroknya sistem Indonesia saat ini.

Para pekerja atau buruh tak akan lagi mendapatkan pesangon apabila mengundurkan diri atau pensiun bahkan kecelakaan kerja. Para pekerja akan mudah di PHK karena aturan menjadikan pekerja sebagai karyawan tetap telah dihapuskan. Selain itu, juga hanya akan mendapat gaji per jam, karena gaji UMP dan UMR akan dihapuskan. Kita semua tahu, dengan adanya gaji UMP dan UMR saja masih banyak pekerja tak mendapat hak yang sama.

Lantas apa yang harus dilakukan sekarang? Apakah cukup dengan menjegal RUU Ciptaker ini? Apakah cukup hanya dengan turun ke jalan berdemo untuk mencabut RUU Ciptaker ini?
Tidak. Sekali lagi tidak.

Para pemimpin berdasi di atas sana, semuanya harus diganti, termasuk sistem demokrasi dan kapitalis yang sedang kita semua jalani. Para pemimpin yang disumpah di atas kitab suci Al-Qur'an juga seharusnya patuh kepada aturan Ilahi. Dunia seharusnya patuh kepada aturan Sang Pencipta alam semesta Allah SWT, agar ketidakmanusiawian seperti ini tak terjadi lagi. 

Hanya ada satu kata ‘lawan’ dengan melakukan perang pemikiran agar dunia patuh akan perintah Allah SWT, sehingga akan terwujud sebuah negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Tentunya, negara yang dimaksud adalah negara yang menerapkan seluruh hukum Islam secara kaffah, yakni kekhilafahan Islam. Allahu Akbar. []


Oleh: Fajria Anindya Utami S.Pd., Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Posting Komentar

0 Komentar