Rindu padamu Ya Rasul...


Suatu ketika, dalam persiapan perang Khandak beberapa sahabat RA sempat mengeluh akibat merasa lelah dan lapar. Tapi begitu mengetahui, Engkau meletakan 3 (tiga) batu dalam buntalan di perut untuk mengganjal rasa lapar, seketika para sahabat kehilangan rasa lapar dan lelah.

Disaat malam yang mulia, satu malam ini lebih utama daripada ribuan malam keluarga Umar RA, Abu Bakar RA menemanimu didalam Gua, dengan penuh kecemasan. Engkau katakan kepada Abu Bakar RA 'La Tahzan, Innallahu Ma ana', seketika hati Abu Bakar RA menjadi tenteram.

Para Ahlus Suffah, yakni kalangan orang fakir yang tinggal di serambi Masjid Nabawi, lebih mendapat keutamaan dalam hal makanan ketimbang keluargamu. Ibunda Aisyah, Ummul Mukminin bahkan pernah satu bulan tak menyalakan tungku, mencukupkan diri dengan kurma dan air putih.

Saat Abu Bakar RA mencoba mengambil alih peranmu, memberikan makan kepada Yahudi buta di sudut kota Madinah. SahabatMu, Abu Bakar RA benar-benar tak dapat meniru kelembutanMu dalam melayani dan memberi makan rakyatMu yang beragama Yahudi. Hingga sang yahudi menyadari, orang yang menyediakan makanan bukanlah Engkau yang biasa mengunjunginya.

Dan... Ketika Sayyidah Fatimah Az Zahra, memohon syafaat kepadaMu atas kebaikan Takdir Sayyidina Hasan dan Husein, Engkau berkata 'Syafaatku hanya untuk umat ku di akhir zaman'.

Ya Rasulullah, betapa Engkau mengutamakan kami umat Mu ini atas diriMu juga atas keluargaMu. Ya Rasulullah, betapa Engkau mencintai kami Umat Mu ini, hingga menjelang ajal Mu Engkau selalu menyebut kami umat Mu.

Ya Rasulullah, tidak ada seujung kuku pun perjuangan kami untuk agama yang telah engkau  wariskan. Agama yang kami akan selamat ketika berpegang teguh terhadapnya.

Namun kami terus berupaya meneladaniMu, berdakwah sebagaimana engkau berdakwah, mencari pertolongan agar agama Allah ini mendapat kemenangan, dengan tegaknya Daulah Khilafah yang kedua, sebagaimana telah kau kabarkan.

Saat ini kezaliman merajalela, hukum Allah SWT ditelantarkan, manusia diliputi kegelapan karena menerapkan hukum sekuler demokrasi. Umat akhir zaman ini, justru mengikuti Milah Yahudi, ittiba' pada Montesqueu dengan menerapkan sekulerisme Demokrasi dan mencampakkan hukum Allah SWT.

Umat Mu ini tersesat jauh, dengan mengikuti perintah yang menyelisihi perintah Allah SWT, dan meninggalkan larangan yang bukan berasal dari Allah SWT. Hukum hawa nafsu telah mengambil alih peran hukum Wahyu.

Kebenaran Al Qur'an dan as Sunnah, dikalahkan dengan suara manusia, suara rakyat yang dihasilkan dari perdebatan wakil rakyat di parlemen. Mereka, mengharamkan apa yang Allah SWT halalkan. Sebaliknya, mereka menghalalkan apa yang Allah SWT haramkan.

Mereka, atas nama UU rakyat, telah menghalalkan barang tambang, sumber daya alam milik umum, diserahkan kepada swasta, bahkan asing. Mereka, telah merampas manfaat sumber daya alam dalam bentuk tambang yang depositnya melimpah, dari rakyat dan diberikan kepada swasta, korporasi penjajah asing dan aseng. Padahal menurut syariat Islam, seluruh harta yang terkategori milkiyatul Ammah, baik tambang atau harta yang secara asalnya terlarang untuk dimiliki secara individual, harus dikuasai oleh Negara dan dikelola untuk dikembalikan kepada rakyat selaku pemiliknya.

Dengan dalih UU rakyat, mereka menghalalkan riba, judi, minuman keras, zina, dan mengumbar aurat. Padahal, Allah SWT tegas mengharamkan riba, judi, minuman keras, zina, dan mengumbar aurat. 

Hudud sebagai hak Allah SWT, juga ditelantarkan. UU KUHP warisan penjajah Belanda justru dilestarikan. Ketika diserukan untuk kembali kepada agama Allah SWT, mereka menentang dengan menyatakan penerapan sekulerisme demokrasi ini telah menjadi kesepakatan agama nenek moyang.

Ada yang menolak syariah Islam dengan  berdalih 'Darul Ahdi Wa Syahadah', ada juga dengan dalih 'Ummatan Wasathah', ada yang menggunakan dalih Islam di negeri ini adalah Islam Nusantara bukan Islamnya Rasulullah SAW, sehingga tak perlu menerapkan hudud sebagaimana telah diterapkan oleh Rasulullah SAW. Mereka semua berdusta dan menyesatkan umat manusia, dengan lisan dan kata kata.

Ya Rasulullah, keluargaMu, para dzuriyatMu, saat ini juga dizalimi dan dihinakan. Ada yang terusir dari negerinya, dijauhkan dari keluarga dan kampung halamannya. Ada yang di penjara, dan belum juga keluar dari penjara telah ditunggu dengan kasus lainnya. Maafkan kami ya Rasulullah, tidak bisa menjaga dan memuliakan dzuriyatmMu secara maksimal.

Karena itu ya Rasulullah, melalui Maulid Mu ini, kami memohon wasilah. Agar kami dapat segera menegakkan Daulah Khilafah sebagaimana telah Engkau kabarkan, sebagaimana telah Allah SWT janjikan. 

Agar kami dapat maksimal melindungi dan memuliakan dzuriyatMu, menerapkan hudud, menegakkan Qisos, memberikan Ta'jier, menerapkan Islam dan mengemban misi dakwah Islam keseluruh penjuru alam. []

Oleh: Ahmad Khozinudin, Sastrawan Politik

Posting Komentar

0 Komentar