TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Remaja Cemerlang hanya dengan Islam



Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat dikejutkan dengan sering terjadi tindak kriminalitas yang dilakukan remaja. Tidak dipungkiri tindakan kriminalitas yang terjadi di berbagai daerah dilakukan oleh remaja pada awalnya dianggap hanya kenakalan remaja biasa. Namun seiring berjalannya waktu, kenakalan remaja sudah menampakkan pergeseran perilaku yang menjurus pada tindak kriminalitas seperti pencurian, tawuran, membegal, human trafficing, perkosaan bahkan sampai pembunuhan. 

Dilansir dari tribunlombok.com, 05 September 2020, “Polisi mengamankan seorang remaja berinisial ARA (17) karena diduga menjual pacarnya sendiri berinisial RA (15) lewat aplikasi MIChat. ARA  diamankan saat terlibat keributan di Jalan Sumber Jaya, Simpang Nagapita, Kecamatan Siantar Martoba, Pematang siantar, Sumatera Utara.

Begitu pula dengan berita di Tribunnewswiki.com, Kamis, 09 Juli 2020,  “Polisi berhasil menangkap tersangka pelaku pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Efriza Yuniar alias Yuyun (45), guru SD Negeri 11 Muaro Telang, Banyuasin, Sumsel. Tim Puna Polres Banyuasin membekuk tersangka Ardiansyah (18) warga jalur V marga Rahayu Marga Telang Kabupaten Banyuasin.

Mencermati fenomena tersebut,  banyak kasus kriminal  serupa yang aktor utamanya adalah remaja. Kasus-kasus kriminalitas remaja menjadi ironi yang kian menambah panjang catatan kriminalitas negeri ini. Kasus-kasus ini membuktikan bahwa remaja Indonesia mengalami dekadensi moral sampai titik nadir.
 
Pengadopsian budaya-budaya liberal barat oleh remaja yang kian hari kian melekat. Mulai dari pemikiran, pergaulan, dan gaya hidup. Mereka merasa menjadi remaja yang tidak “kekinian” ketika belum berpakaian layaknya idola mereka di layar televisi dan dunia maya. Ditambah lagi dengan tontonan yang tidak mendidik didapatkan setiap hari. Remaja yang masih dalam masa coba-coba, meniru semua yang ditontonnya tanpa filter negara. Ditambah dengan lemahnya pengawasan orang tua dan lingkungan. Sehingga  perilaku remaja diluar batas pun terjadi. Alhasil masa depannya berantakan dan harapan orang tua hancur. Bagaimana tidak, mereka yang diharapkan menjadi agen perubahan dan aset masa depan Indonesia tapi faktanya malah  menjadi bagian permasalahan negeri ini. Miris!

Anehnya, saat  ini seperti pro kepada  remaja  bermasalah. Seorang remaja plagiator yang sampai detik ini masih mengeluarkan ucapan-ucapan kontroversi.  dihadiahi undangan makan siang ke istana. Selebriti yang nyata-nyata menghina lambang pancasila  dengan ucapan “bebek Nungging” ditetapkan sebagai duta pancasila. Miris!

Di sisi-sisi lain, ada remaja yang mencoba menjalankan ajaran Islam secara totalitas. Mulai dari cara berpakaian, pergaulan dan gaya hidup. Mereka  akan dianggap remaja kuper karena tidak bisa bergaul bebas. Tidak bisa “nongkrong” bersama lawan jenis. Berpakaian tidak mengikuti perkembangan zaman. Mereka dianggap orang-orang yang tidak modern. Miris!

Inilah ketika remaja dididik dengan peradaban Kapitalisme-liberal yang sudah nyata-nyata merusak remaja. Remaja  yang lahir  adalah remaja yang rusak dari peradaban abal-abal dan serba bebas. Serba bebas dan akhirnya rusaklah remajanya. Kehancuran negeri ini sudah di depan mata.

Peradaban Kapitalisme-liberal terbukti gagal melahirkan remaja-remaja cemerlang. Peradaban ini banyak mencetak kenakalan remaja seperti pencurian, tawuran, penyalahgunaan narkoba, pembunuhan, perkosaan, dan lain-lain. Kenakalan remaja diluar batas menjadi renungan bagi kita untuk mengatasinya dengan tuntas.  Sudah saatnya remaja kembali pada nilai-nilai Islam. Remaja akan menemukan jati diri sebagai tulang punggung peradaban. Karena kelak, remaja akan menjadi penentu kemana negeri ini akan dibawa.

Islam mencetak remaja cemerlang

Pada faktanya 13  abad yang lalu, Islam datang dalam rangka merubah peradaban jahiliyah menjadi peradaban yang bermartabat dan mulia. Sesuai dengan fitrah manusia.  Saat turun ayat tentang khimar (kerudung), perempuan-perempuan yang beriman di zaman Rasulullah Saw. mengambil apa saja yang bisa mereka jadikan khimar. Bahkan ada yang merobek kelambu untuk penutup kepala. Khimar saat itu adalah pembeda wanita jahiliyah dengan wanita muslim. Terbukti,  pakaian dan cara pergaulan yang diajarkan Islam  adalah lambang kemajuan peradaban. 

Dalam masalah pergaulan, tidak boleh laki-laki dan perempuan berkhalwat dan  bercampur baur dengan yang bukan mahram. Apalagi sampai melakukan zina. Allah SWT berfirman :
وَلَا تَقۡرَبُوا الزِّنٰٓى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً  ؕ وَسَآءَ سَبِيۡلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk (Q.S Al-Isra ayat 32)

Penerapan Islam berabad-abad lamanya, mampu menciptakan remaja cemerlang. Islam menjadi negara adidaya dengan remajanya yang terkenal tangguh, tidak takut kecuali pada Allah SWT.  Remaja mengharumkan nama daulah Islam ke seantero bumi. Sebut saja Ibnu Sina, penemu kedokteran modern. Seorang ilmuan bidang kedokteran dan penulis aktif dimulai dari ia remaja. Beliau lahir di zaman keemasan peradaban Islam.  Ibnu Sina adalah pengarang 450 buku yang memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Buku-buku karangan beliau menjadi rujukan sampai saat ini dalam dunia kedokteran.

Begitu pula, Sultan Mehmed II atau Muhammad Al-Fatih? Pemuda Islam yang membuktikan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam untuk menaklukkan Konstantinopel. Dalam sejarah, Konstantinopel telah berkuasa selama 11 abad.  dengan strategi perang yang mengagumkan dan prajurit-prajurit pilihan akhirnya Konstantinopel tahkluk di bawah kepemimpinannya. Beliau ahli di bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 6 bahasa. Muhammad Al-Fatih diangkat menjadi Sultan saat usianya masih 12 tahun dan menaklukkan Konstantinopel saat usia 21 Tahun. Itulah  potret segelintir pemuda yang hidup dalam sistem Islam. Khilafah Islam yang diterapkan selama 13 abad telah terbukti melahirkan banyak remaja cemerlang.
 
Apresiasi dari negarapun tak tanggung-tanggung. Profesi penulis, negara akan memberikan hadiah emas seberat buku yang ditulisnya. Bagi peneliti, negara akan memfasilitasi dan menanggung semua biaya terkait penelitiannya. Agar ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang. Begitulah cara Islam memberi support kepada rakyatnya yang berprestasi. Masihkah ragu hidup dalam sistem Islam? Saatnya muhasabah.

oleh: Ummu Safia Uwais
Aktivitas Muslimah dan Penulis




Posting Komentar

0 Komentar