TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Racun Korean Wave



Ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap budaya Korea semakin marak. Hal tersebut ditunjukkan dimana kalangan anak muda Indonesia menggemari pernak pernik khas Korea, semakin mudah kita mendapat Skin Care asli Korea di Indonesia, tidak jarang berbagai resto saat ini menawarkan beragam pilihan makanan Khas Korea. Selain itu, K-Drama juga digemari anak muda saat ini, tak ketinggalan KPOP juga sangat diminati.

Ditengah pandemi covid 19 seperti ini, Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin memberikan statemen “Maraknya budaya K-pop diharapkan dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragamana budaya Indonesia ke luar negri”. Pernyataan tersebut disampaikan memperingati 100 tahun kedatangan warga Korea di Indonesia. (dilansir tirto.id 20/09/2020).

Kiai Ma’aruf ingin anak muda Indonesia seperti orang Korea yang kreatif, yang mana K-Drama dan K-Pop mendunia, hingga banyak turis asing yang berwisata ke Korea gara-gara menonton K-Drama. Jika ditelisik lebih dalam K-Drama yang disuguhkan kental dengan budaya materialisme, hedon hingga individualisme. Terlepas dari semua itu, budaya permisif menjadi bagian dari gaya hidup kalangan remaja di Korea Selatan. 

Mereka tidak malu untuk hidup serumah meski tanpa ikatan resmi pernikahan. Faktanya remaja di Korea pada usia 22 tahun telah hilang keperawanannya. Profesor Urologi dari Fakultas Kedokteran Korea menggelar survei kepada 3.000 orang. Dimana rata-rata para pria Korea pertama kali mendapat pengalama seksual pada usia 21,8th dan perempuan pada usia 23,9th. (Dilansir KapanLagi.com 23/04/2015)

Miris sekali melihat fakta tersebut. Bagaimana mungkin fase riskan untuk mencoba hal-hal yang seharusnya dilakukan saat sudah menikah  telah dilakukan oleh remaja yang belum menikah. Ini adalah produk cacat liberalisme, meskipun mereka adalah negara maju baik dari segi ekonomi dan teknologi tapi mereka mundur untuk segi moral. 

Segala aktivitasnya dibebaskan tanpa ada aturan. Bahkan pemerintah Korea melegalkan seks bebas. Di Korea terdapat aturan diperbolehkannya berhubungan dengan lawan jenis jika umur kita 16th keatas, Aturan tersebut dibuat untuk melindungi remaja dari kejahatan seksual atau pemerkosaan terhadap anak terlepas dari dugaan persetujuan. 

Dalam bidan musik yakni K-Pop tak ayal, pakaian yang mereka kenakan sangat amat terbuka serta gerakan diatas panggung yang sangat vugar. Semua mereka lakukan demi profesionalitas dalam industri yang mendewakan syahwat. Musik yang ditawarkan bergenre Pop dapat membius seluruh kalangan anak muda dengan instrument yang apik. Mereka yang awalnya merasa terganggu mendengar alunan musik tersebut, kini sangat menikmati bahkan sangat hafal. Tak jarang banyak yang mengaitkan dunia K-Pop dengan iluminati, karena lagu yang disuguhkan mampu “menyihir” siapapun.

Bahkan remaja saat ini rela membeli album idolanya dengan harga yang tidak masuk akal. Tidak hanya album, mereka mengoleksi seperti kaos, foto-foto, bahkan selimut yang bergambar idolnya. Mereka beranggapan supaya ketika tidur bisa bertemu dengan idolanya tersebut. Bahkan remaja saat ini lebih hafal lagu-lagu K-POP dibanding Al-Quran yang merupakan surat cinta Allah.

Kasus bunuh diri sangat meningkat di Korea, diantara para idol yang melakukan bunu diri. Mereka merasa depresi dengan kehidupan yang dijalaninya. Bahkan kasus bunuh diri ini layak menjadi budaya di Korea. Pihak agensi ataupun pemerintah setempat, tidak bisa menangani kasus ini. Beberapa faktor yang menyebabkan idol melakukan bunuh diri:

1. Kontrak kerja ala budak. Mereka yang memulai debut sebagai artis akan menandatangani kontrak kerja selama 7-10 tahun. Dengan jangka waktu selama itu, belum tentu mereka lolos sampai bergabung dengan boyband atau girlband 

2. Terjebak skandal seksual dan popularitas. Dengan jangka waktu kerja yang sangat lama, bahkan belum tentu bergabung dengan boyband atau girlband banyak trainer menjual dirinya dengan petinggi di Korea. Kadang mereka dipaksa oleh pihak agensi, supaya mereka laku dipasaran.

3. Jam kerja yang terlewat batas. Para idol dipaksa untuk bekerja selama 20jam, hanya memiliki beberapa jam saja untuk istirahat. Bahkan jam tidur bagi para idol adalah hal yang mewah dibanding uang ataupun mobil

4. Standar pubik yang tinggi. Standar yang ditetapkan oleh agensi Korea sangatlah tinggi, seperti tubuh langsing, wajah cantik, hidung mancung, memiliki kelopak mata ganda. Para idol dituntut untuk tampil tanpa celah, baik kepribadian maupun perilaku dihadapan publik.

 Karena standar yang ditetapkan oleh agensi yang menaungi mereka sangat ketat, tak ayal banyak para idol yang melakukan operasi plastik. Tidak hanya oprasi plastik, mereka rela diet ekstrim agar tubuh mereka tetap ideal. Diet ekstrim ini bahkan sampai merenggut nyawa mereka sendiri.
(Dilansir cnbc 15/10/2019)

Menyoal operasi plastik yang merebak di Korea, pemerintah Korea memberikan fasilitas sebagai paket wisata yang ditawarkan. Remaja di Korea mulai melakukan operasi plastik sejak usia 16 tahun. Banyaknya idol yang melakukan oprasi plastik, membuat sejumlah remaja ikutan melakukan, sebut saja artis Song Hye Kyo, yang banyak dijadikan tujuan melakukan operasi plastik. Operasi plastik ini menjadi sebuah kado kelulusan untuk remaja di Korea. Bahkan operasi plastik yang dilakukan oleh remaja Korea digunakan untuk mencari pekerjaan, yang mengedepankan standar fisik.

Dengan adanya tontonan-tontonan seperti itu maka tak heran jika banyak pemuda muslim saat ini yang krisis identitasnya. Mereka cenderung untuk ikutan melakukan hubungan seks dengan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan. Inikah yang diinginkan pemerintah?? Merusak remajanya dengan tontonan-tontonan unfaedah. Inilah racun liberalisme, yang jika terus dijejalkan pada remaja tak ayal mereka akan menjadi generasi yang hancur, tidak memiliki pegangan hidup. Yang mereka pikirkan hanyalah kesenangan duniawi yang sementara. 

Standar hidup remaja saat ini, berdasarkan kriteria manusia. Yang mana setiap kita memenuhi kriteria yang ditetapkan tidak akan pernah puas. Bahkan kriteria yang ditetapkan cenderung bias, misalnya jam kerja yang ditetapkan, waktu mereka terkuras habis menyelesaikan pekerjaannya, padahal disatu sisi mereka memiliki kehidupan sendiri, seperti dengan keluarga ataupun dengan sahabat.

Remaja saat ini dalam pemahaman sosok yang diidolakan bergeser, yang seharusnya meniru cara hidup ala Rasululah, kini mereka mengikuti sosok-sosok yang menjadi budak dunia. Tak jarang ketika idolanya dihujat, mereka rela untuk menghujat balik, atau ketika idolanya meninggal karena depresi tak ayal mereka sedih sesunggukan, dan ketika idolanya sedang perform disalah satu kota, mereka rela datang dan membeli tiket yang harganya sangat fanstastik.

Ketika dunia yang dikejar, maka yang didapat juga dunia. Begitun para idol mereka mengejar dunia, dan ketika dunia tidak didapat, yang ada hanyalah kecewa, tak jarang mereka melakukan hal-hal ekstrem seperti diet ekstrim karena dibilang gendut, bahkan sampai bunuh diri. Pemikiran yang sempit seperti ini adalah racun bagi generasi sekarang. Pemikiran jangka pendek seperti ini yang sangat miris, keimanan pada diri seseorang telah hilang.

Pemerintah hari ini hanya memikirkan keuntungan yang didapat dari mengadopsi Korean Wave tanpa mengetahui makna terselubung liberalisme didalamnya. Korean Wave, merupakan serangan yang tersistem. Oleh karenanya butuh lebih, dari sekedar keimanan individu. Negara yang mampu menjadi benteng pertahanan serta menjadi perisai untuk menghalau segala macam bahaya. Negara bertugas untuk melindungi warga negara dari budaya kufur, negara bertugas, menjaga jawil iman (kondisi keimanan) masyarakat. Negara akan mengatur konten apa saja yang layak diakses oleh kaum muslim, terutama remaja.

Keharusan bagi kita kaum muslim untuk mengembalikan kehidupan ini kembali ke aturan Islam, dengan menjalankan seluruh aktivitasnya berdasarkan hukum syara’. Oleh karennya kita harus kembali ke aturan Islam, yang telah sempurna mengatur kehidupan didunia. Bahkan Islam memberikan solusi dari semua masalah kita.[]

Oleh: Alfia

Posting Komentar

0 Komentar