TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pertolongan Allah tidak Turun Tiba-tiba




RUU Ciptaker yang sedari awal ditolak oleh para pekerja dan buruh akhirnya di sahkan oleh DPR RI pada senin, 5 Oktober 2020. Meski menuai protes besar-besaran di penjuru negeri dan telah menelan korban jiwa yang tidak sedikit, Pemerintah nampaknya tidak akan membatalkan apa yang telah mereka rumuskan. Dilansir dari kompas.com, 09/10/2020 Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah membeberkan rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) selanjutnya setelah DPR mengesahkan RUU Omnibus Law Cipta Kerja menjadi UU Cipta Kerja. Menurut Ida, kini dirinya ditugaskan Presiden Jokowi untuk merumuskan paling banyak 5 Peraturan Pemerintah (PP) yang akan jadi regulasi turunan dari UU Cipta Kerja yang terkait klaster ketenagakerjaan. 

Kasus ini merupakan salah satu dampak dari keengganan manusia menerapkan aturan yang berasal dari Allah Swt. 

Padahal Allah telah berfirman,
أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Artinya : “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [TQS Al-Maidah : 50]

Dan dengan tegas Allah menyebutkan 
…إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّه…
“…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah…” [TQS Al-An’am : 57]

Kedua ayat di atas, menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak menetapkan aturan yang  dipakai dalam mengatur kehidupan manusia di muka bumi. Selain dari itu, peranan keimanan yang dimiliki oleh seorang muslim meyakinkan bahwa hanya Allah lah pembuat hukum yang terbaik sebagaimana Ia telah sangat sempurna menciptakan segala sesuatu. 

Oleh karena itu, manusia yang memiliki sifat terbatas, lemah, serba kurang dan yang membutuhkan pada yang lain mesti menyadari kekurangannya sehingga dengan keimanannya, manusia tunduk pada aturan yang diberikan oleh Allah Swt. 

Di setiap peradaban manusia akan senantiasa ada yang menyerukan kepada ajaran Allah yang mulia, bahkan keberadaan manusia-manusia terbaik di zamannya banyak diceritakan oleh Allah di dalam Alquran yang mulia. Salah satunya pada kisah Nabi Musa as, 

وَاِذۡ نَجَّيۡنٰکُمۡ مِّنۡ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ يَسُوۡمُوۡنَكُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ يُذَبِّحُوۡنَ اَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُوۡنَ نِسَآءَكُمۡ‌ؕ وَفِىۡ ذٰلِكُمۡ بَلَاۤءٌ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ عَظِيۡمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu.” [TQS. Al-Baqarah: 49]

Pada ayat ini, Allah menggunakan kata najjainakum (Kami selamatkan kalian) dengan wazan Fa'ala-Yufa'ilu karena waktunya lama, bukan tiba-tiba. Kedzaliman itu tidak langsung ditumpas. Hal ini terlihat pada kata yudzabbihuuna (membunuh) dengan keterangan berkali-kali. Firaun telah berkali-kali membunuh anak laki-laki dari bani Israil kala itu. Meski demikian, mereka tidak akan berhasil karena yang mereka lawan adalah Allah Swt. 

Kemudian setelah melakukan dakwah yang sangat panjang dan melelahkan, Allah memberitakan di dalam ayat berikutnya

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedang kamu menyaksikan.” [TQS. Al-Baqarah: 50]. 

Allah menggunakan kata Fa Anjainakum dengan wazan Af'ala-Yuf'ilu, karena menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari Laut Merah tidak membutuhkan waktu lama, tapi singkat. Cara Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya juga di luar nalar, meski ada hukum sebab akibat yang harus dilakukan sebagai syarat, yaitu memukulkan tongkat ke laut, sehingga Allah membelah, dan terbelahlah laut itu (TQS. al-Syu'ara': 63)

Karena itu, bersabar terhadap kezaliman orang zalim yang enggan menerapkan aturan syariat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah akan membutuhkan waktu yang panjang. Sekaligus menguji kebenaran iman dan komitmen para pengemban kebenaran (Islam). Namun satu hal yang pasti, Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya. Oleh karenanya, sandarkan hati kita kepada Allah 100% dan berikan ikhtiar terbaik yang mampu kita berikan, semoga Allah menyegerakan pertolongannya.[]


Oleh : Novida Sari (Santri Daring I’robul Quran di Bawah Asuhan KH. Hafidz Abdurrahman)

Posting Komentar

0 Komentar