TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Perempuan dalam Ranah Domestik dan Publik


Membicarakan perempuan berikut perannya pada saat ini, menjadi suatu hal yang sangat penting dan relevan, terlebih lagi mengingat keberadaan perempuan pada hari ini seakan berada pada dua ‘kutub’ ide yang saling berseberangan yaitu antara pendapat yang menekankan agar perempuan lebih mengedepankan peran publiknya-baik dalam bidang politik, karir, maupun sosial- supaya tidak terbelenggu hanya dalam ranah 'dapur-sumur-kasur' saja. Sementara di sisi yang lain, kaum perempuanpun diperhadapkan pada peran domestik, yakni bagaimana menjadi ibu dan pengatur rumah tangga yang baik. 

Berbagai peradaban yang pernah ada di duniapun mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang perempuan. Akan tetapi sebenarnya tetap mengacu pada satu titik, yaitu ’pelecehan dan penghinaan’ terhadap kaum perempuan. Peradaban Yunani yang terkenal dengan para filosofnya memandang wanita dengan begitu keji dan hina. Pada peradaban ini, perempuan yang subur akan dirampas dari suaminya untuk laki-laki lain demi kepentingan angkatan bersenjata. Sedangkan perempuan yang melahirkan bayi yang cacat, mereka akan dihukum mati. Setali tiga uang dengan Yunani, peradaban India pun tak kalah bejat dalam memperlakukan perempuan. Perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya harus ikut dibakar hidup-hidup bersama jasad sang suami. Jika dia tidak mau melakukannya, maka dia akan dianggap sampah masyarakat yang lebih hina dari binatang. 

Selanjutnya, pada masyarakat Arab Jahiliyah, kita tahu bahwa sebelum kedatangan Risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw., kaum perempuan ditempatkan pada posisi yang sangat rendah. Mereka bisa diceraikan oleh suaminya kapanpun dia mau dan bisa dijadikan barang warisan untuk anak laki-laki mereka. Yang lebih kejam lagi adalah bahwa kelahiran bayi perempuan sungguh suatu hal yang tidak diharapkan dan diyakini sebagai pembawa aib dan sial dalam keluarga. Oleh karena itu, jika ada yang melahirkan anak perempuan, maka untuk menutup aib keluarga, bayi perempuan itu harus dilenyapkan dengan cara dikubur hidup-hidup! Sungguh, suatu peradaban yang sangat sadis! 

Begitupun ketika peradaban dunia pada hari ini berada pada tatanan sistem kapitalisme, perempuan dianggap tak lebih hanya sebagai objek yang nantinya bisa dieksploitasi untuk meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Perempuan bagaikan boneka yang layak dijual untuk mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Maka, dengan dalih seni, perempuan kemudian menjadi objek karya seni yang kemudian layak dipajang, dipertontonkan, dan ’dinikmati’ oleh siapa saja. Sayangnya, tak sedikit perempuan yang terjerumus dalam kubangan kapitalis tanpa mereka sadari kalau sesungguhnya mereka sedang dieksploitasi. Ada yang semata-mata demi meraup materi dan popularitas hingga rela memajang body tanpa busana sekalipun, atau bahkan ada yang secara sadar memang senang untuk dieksploitasi.  

Begitupun dengan semakin menggilanya kasus pelecehan seksual, pornografi dan pornoaksi, pun tak lepas dari pengeksploitasian perempuan. Belajar dari kasus majalah Playboy, dalam hal ini kalangan kapitalis seakan-akan mendorong kaum laki-laki untuk melihat perempuan hanya dari sudut sebagai objek pemenuhan hasrat seksual semata. Majalah itu sendiri sudah menjadi simbol yang isinya hanya berisi gambar-gambar porno, cerita perzinaan dan profil-profil wanita yang bisa memuaskan selera seks kaum pria. Hal ini semakin menambah daftar panjang pengeksploitasian kaum perempuan.

Islam Memandang Perempuan

“Wanita itu saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Daud). Begitu sabda Rasulullah saw., dalam salah satu hadits. Dalam pandangan Islam, perempuan merupakan manusia yang telah diciptakan Allah disamping jenis laki-laki. Mereka merupakan pasangan hidup bagi laki-laki sebagaimana laki-laki juga merupakan pasangan bagi mereka. Kedudukan mereka sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah Swt secara proporsional sesuai dengan fitrah penciptaannya. Mereka sama dihadapan syari’at tanpa ada perbedaan. 

”Sesungguhnya, laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan ynag khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (TQS. Al-Ahzab: 35)

Jelaslah bahwa dari sisi kemanusiaannya, yang membedakan antara laki-laki dan perempuan di hadapan Allah adalah dari sisi ketakwaannya, bukan yang lain. Sedangkan dari segi sifat kewanitaannya, Islam memang membedakan laki-laki dan perempuan, yang mana dengan sifat ini perempuan memang ditakdirkan untuk mengandung, melahirkan, menyusui, serta (bersama suami) mengasuh dan mendidik anak. Perbedaan ini haruslah diakui secara sadar, bahwa wanita dan laki-laki secara gender memang tidak sama. Oleh karena itu, aturan Islam yang mengatur hubungan pria dan wanita juga harus dipandang sebagai solusi terhadap kedudukan pria dan wanita dalam konteks hak dan kewajiban yang sama maupun dalam hal perbedaan berdasarkan fitrah yang ada.

Sementara itu, dalam hal menjaga kehormatan kaum perempuan, Islam memerintahkan laki-laki untuk melindungi perempuan (ibunya, istrinya, anaknya atau perempuan secara umum di masyarakat). Selanjutnya dalam konteks pekerjaan domestiknya sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga), Islam pun memberikan penghargaan yang tinggi atas karya seorang wanita dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Terkait dengan hal ini, Rosulullah Saw., bersabda:

”Pada masa kehamilan hingga persalinan, dan hingga berakhirnya masa menyusui, seorang perempuan mendapatkan pahala yang setara dengan dengan pahalanya orang yang menjaga perbatasan Islam.” (H.R. Thabrani).

Dalam hal ketaatan seorang perempuan kepada suaminya dalam menjalankan fungsinya sebagai istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya, tentu bukanlah sebuah penindasan tapi merupakan suatu kehormatan yang dengan itu ia akan memperoleh ridha dan pahala dari Allah Swt sebagai Penciptanya. Penting  untuk dipahami di sini adalah bahwa ketaatan istri kepada suaminya bukan pula ’sembarang’ taat dalam segala hal. Artinya apa yang ditaati tersebut haruslah sesuai dengan syariat, dengan kata lain tidak boleh taat jika suami memerintahkan berbuat maksiat. Sehingga dalam kondisi ini, perempuanpun harus sadar dan cerdas, kapan dia harus taat dan kapan tidak mesti taat atas perintah suami bahkan jika perlu berdiskusi bersama atas hal itu. 

Perempuan sebagai Bagian dari Masyarakat 

Selain sebagai anggota keluarga (entah sebagai anak maupun istri dan ibu bagi anak-anaknya), perempuanpun tak lepas dari peran publiknya sebagai bagian dari masyarakat. Oleh karena itu, dengan keberadaannya yang tidak terpisahkan dari masyarakat, merupakan hal yang tak bisa dipungkiri ketika perempuan harus menjalankan peran publiknya ditengah-tengah masyarakat seperti adanya kewajiban mengemban dakwah dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar, mengoreksi kebijakan penguasa, menuntut ilmu, dan sebagainya. Dalam perannya atas kewajiban-kewajiban ini, maka tak ada yang membedakan antara kewajiban bagi laki-laki dan perempuan, dimana mereka sama-sama harus tunduk pada perintah Allah Swt.

Kepada perempuan juga dibolehkan bekerja untuk mengembangkan potensi diri dan mengamalkan ilmu serta keahlian yang dimilikinya, namun tentu saja dengan seizin suaminya dan tidak pula melupakan peran utamanya sebagai ummun wa rabbatul bait. Karena pada dasarnya, sebut saja itu hanya sebagai ’proses kreatifitas’ bagi seorang perempuan, dimana dia tidak dibebankan mencari nafkah untuk keluarga. Kewajiban mencari nafkah sendiri oleh Allah Swt. telah dibebankan kepada kaum laki-laki.

Keberadaan beberapa kewajiban berbeda ini tentu tidak bisa diartikan sebagai upaya pendiskreditan kaum perempuan. Sebab, ini semata-mata untuk menjaga dan menjamin keberlangsungan serta keberhasilan pelaksanaan peran ini secara seimbang dan harmonis menuju terbentuknya peradaban yang maju dan berkualitas. Kuncinya, Allah sebagai Pencipta laki-laki dan perempuan telah begitu adil menempatkan peran masing-masing pihak secara proporsional sesuai dengan fitrah penciptaannya.

Akhirnya, harus ada upaya untuk memahami posisi perempuan dan peranannya dalam lingkup keluarga (domestik) dan masyarakat (publik) bagi semua pihak. Hal ini menjadi sangat penting mengingat harus ada kesepahaman yang sama dalam memandang peran masing-masing pihak baik dari kalangan laki-laki maupun wanita. Adanya perspektif yang sama ini, nantinya menjadi langkah awal yang akan memberikan jaminan bagi kemajuan peran dan posisi perempuan dalam ranah domestik maupun publik, sekaligus akan menjamin kemajuan peradaban masyarakat secara keseluruhan. Wallahua’lam bi ash-showab.[]

Oleh: Srihartati Hasir, The Voice of Muslimah Papua Barat

Posting Komentar

0 Komentar