TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pembiasaan Berhijab Sejak Dini, Perlu!

Serangan paham feminisme dan kaum liberal akhir-akhir ini terus menggelora, terus diarahkan dan digaungkan pada umat Islam, khususnya ajaran Islam tentang berhijab. Pendidikan dan ketaatan dalam berpakaian dipersoalkan, dianggap pemaksaan dan berakibat negatif bagi perkembangan jiwa seorang anak perempuan.

Bagi yang menganut paham feminisme seorang wanita memiliki pandangan bahwasanya mereka BEBAS menjadi apa saja dan melakukan apa saja sebagai wujud pengembangan diri, termasuk didalamnya adalah Hak Azasi Manusia (HAM) dalam menggunakan jilbab dan kerudung sedari kecil yang ujung-ujungnya malah menjadi lepas dari fitrahnya sebagai seorang perempuan.

Pernyataan diatas dipertegas pada saat DW Indonesia mewawancarai psikolog Rahajeng Ika, menanyakan dampak psikologi bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab. “Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu,” kata Rahaeng Ika.

Beliau juga menambahkan “Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul”.

Dan menurut Darol Mahmada seorang feminis muslim, wajar-wajar saja seorang ibu atau guru mengharuskan anak memakai hijab sejak kecil.

“Tetapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” dengan yang lain,” kata Darol Mahmada.

Itulah gejala Islamophobia yang akhir-akhir ini semakin nampak bahkan kalangan muslim itu sendiri. Suatu ketidaklaziman ketika seorang muslim takut pada ajaran agamanya sendiri. Anggota DPR yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon melalui akun Twitternya, @fadlizon juga berkata “Liputan ini menunjukkan sentiment “Islamophobia” n agak memalukan untuk kelas @dwnews,“ (JurnalGaya,26/09/2020).

Mendidik Anak agar Menjadi Muslimah Sejati

Untuk membentuk anak menjadi mukmin sejati, maka secara praktis anak diajari tentang kewajiban-kewajibannya, dilatih melakukan dan dibiasakan. Kewajiban-kewajiban yang harus diajarkan antara lain sholat dengan benar dan khusyuk, menyempurnakan sholat lima waktu, wudhu dengan benar, dan lain-lain yang menjadi kewajiban dalam sholat, puasa pada saat bulan Ramadhan, makan makanan yang halal dan toyyib, berbakti kepada orangtua, berakhlak mulia, berdakwah serta bagaimana penggunaan jilbab dan kerudung yang benar. 

Penggunaan jilbab dan kerudung sedari kecil sendiri adalah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw yang harus dilakukan, karena menutup aurat sama seperti ibadah-ibadah lainnya yaitu seperti sholat, puasa, zakat yang juga diwajibkan bagi setiap muslimah, dan bukanlah kewajiban terpisah yang dikarenakan kondisi daerah tertentu seperti Arab dengan daerah lain.

Agar anak terdorong untuk melaksanakan semua itu, maka harus dikaitkan dengan akibat dari perbuatannya baik di dunia maupun di akhirat.
Dijelaskan bahwa amal ibadah dan semua kebaikan yang dilaksanakan di dunia tidak ada yang sia-sia. Semuanya akan membuahkan pahala disurga. Sebaliknya, maksiat yang dilakukan di dunia akan mendapat dosa yang mengantarkan pelakunya ke neraka. 

Anak selalu diingatkan tugas hidup di dunia adalah beribadah. Dunia adalah sementara. Dunia tempat mencari untuk kehidupan kita yang abadi di akhirat. Anak juga diberi reward (hadiah/pujian) dan punishment (hukuman) yang sesuai dengan usia anak, selain diajari agar anak ikhlas mengerjakan karena Allah Swt.

Anak dilatih dan dibiasakan dengan menyambut perintah Allah dan melaksanakan dengan semangat dan ikhlas hanya karena Allah, karena rindua surga-Nya dan takut siksa neraka-Nya. Agar pendidikan ini berhasil, orangtua harus sabar, memberi teladan dan senantiasa mendoakan anak.   

Termasuk didalamnya juga dalam memakai jilbab dan kerudung ini bukan karena untuk menindas kaum wanita tetapi justru demi kebaikan dan keamanan wanita, karena banyaknya kasus pelecehan yang terjadi terhadap kaum wanita serta melindungi masyarakat dari akhlak tercela dan perilaku-perilaku hina.

Rasulullah juga memerintahkan setiap muslimah yang keluar rumah harus menggunakan jilbab serta kerudung, bahkan bila seorang Muslimah tidak memiliki jilbab dan kerudung maka sesama Muslimah harus meminjamkan jilbab dan kerudungnya.

Larangan membuka aurat sudah ditetapkan berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman :
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 59)

Menutup aurat yang sempurna adalah bukan yang masih terlihat lekuk tubuh. Menutup aurat yang sempurna adalah memakai pakaian yang digunakan didalam jilbab (baju), memakai jilbab (baju) keseluruh tubuh hingga menutupi kaki, kerudung (khimar) diulurkan sampai ke bawah dada, serta kaos kaki karena kaki kita adalah aurat.

Dan Allah SWT juga berfirman :
“Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak dari dirinya.” (QS an-Nur: 31)

Menurut Imam Ath-Thabari makna yang lebih tepat untuk “perhiasan yang biasa tampak” adalah muka dan telapak tangan. Keduanya bukan aurat dan boleh ditampakkan di kehidupan umum. 

Sedangkan menurut Imam an-Nasafi yang dimaksud perhiasan adalah tempat menaruh semua perhiasan yang digunakan oleh Muslimah untuk berhias, misalnya cincin, kalung, gelang dan sebagainya. Artinya “Janganlah kalian menampakkan anggota tubuh yang biasa digunakan untuk menaruh perhiasan kecuali yang biasa tampak yakni muka dan kedua telapak tangan.”

Sehingga perintah Allah SWT dan penerapan aturan Islam secara Kaffah untuk menutup aurat yang mempunyai misi penjagaan, perlindungan dan kemuliaan bagi setiap Muslimah harus ditanamkan dan dilaksanakan. Disinilah kesetiaan kita kepada Allah dan Rasulu-Nya diuji. Waktunya untuk membuktikan dan memilih, kemanakah kita akan berpihak? Wallahua’lam Bishshawab.[]

Oleh: Dewi Rahayu Cahyaningrum, Komunitas Muslimah Rindu Jannah Jember

Posting Komentar

0 Komentar