Pelajar Berhak Kritik Pemerintah, Kenapa Mereka Diancam?



Kepolisian telah mengeluarkan kebijakan kepada para pelajar aksi penolakan Omnibus Law. Kepolisian menyampaikan bahwa bagi para pelajar aksi penolakan Omnibus Law yang terbukti melanggar hukum dalam demonstrasi ini akan dipersulit pada pembuatan SKCK. Langkah ini diklaim oleh kepolisian untuk memberikan efek jera. Menurut (KPAI) dalam bbc.com (15/10/2020), hal ini akan menjadikan para pelajar kesulitan bekerja di sektor formal yang mensyaratkan SKCK, yaitu calon pekerja harus bersih dari catatan kriminal, sehingga mengancam masa depan para pelajar.

Kebijakan dalam menghadapi aksi penolakan Omnibus Law juga dikeluarkan oleh kemendikbud kepada mahasiswa. Dilansir dari news.detik.com (10/10/2020), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan surat edaran Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud 1035/E/KM/2020 perihal 'Imbauan Pembelajaran secara Daring dan Sosialisasi UU Cipta Kerja' pada hari Jumat, 9 Oktober. 

Kemendikbud memberikan himbauan kepada mahasiswa dan para dosen terkait aksi penolakan Omnibus Law. Surat ini berisikan himbauan agar mahasiswa tidak berpartisipasi menyampaikan aspirasi yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan; mensosialisasikan dan mendorong kajian akademis objektif Undang Undang (UU) Cipta Kerja; para dosen diberi instruksi untuk mendorong mahasiswa melakukan kegiatan intelektual dan kritis terhadap UU Cipta Kerja maupun kebijakan lainnya, serta tidak memprovokasi mahasiswa untuk mengikuti dan mengadakan penyampaian aspirasi; perguruan tinggi diminta untuk tetap melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan memantau kehadiran mahasiswa dalam PJJ.

Pemerintah melalui kepolisian dan kemendikbud telah mengeluarkan kebijakan kepada pelajar dan mahasiswa dalam menghadapi aksi penolakan Omnibus Law. Sebagaimana dalam aksi penolakan Omnibus Law, bagi pelajar yang terbukti melanggar hukum akan dipersulit pembuatan SKCK dan bagi mahasiswa dihimbau tidak ikut berpartisipasi. Kebijakan yang dikeluarkan ini menunjukkan pemerintah memiliki kebebasan mengatur pelajar dan mahasiswa yang seharusnya dapat mengembangkan potensi diri melalui aspirasi yang disampaikan.

Kebebasan pemerintah membuat kebijakan yang mengatur pelajar dan mahasiswa tersebut tampak menjadikan potensi yang dimiliki-tidak hanya pelajar dan mahasiswa, tetapi juga keseluruhan anak umat-untuk dieskplor demi kepentingan pemerintah saja. Menteri Pendidikan dan Kemendikbud (Mendikbud), Nadiem Makarim menyampaikan "Apa itu artinya merdeka belajar? Sekolah, guru, dan muridnya punya kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif." (tvOneNews, 25/11/2019). Kebebasan belajar untuk berinovasi, belajar mandiri dan kreatif ini hanya dieksplor oleh pemerintah demi berjalannya peraturan yang memuluskan kepentingan pemerintah.

Pemerintah yang tampak bebas mengatur dan mengeksplor potensi diri seluruh anak umat termasuk pelajar dan mahasiswa dikarenakan mereka merupakan generasi penerus bangsa dan berpengaruh dalam berjalannya peraturan pemerintah. Potensi pada diri anak-anak umat yang tumbuh berkembang akan menjadi pemuda bangsa yang berpengaruh dalam masa depan bangsa dan negara. Namun, pemuda bangsa yang menentang dan menuntut perubahan sistem pemerintahan negara akan dicegah dan dipangkas.

Hakikat dari merdeka atau bebas belajar ini-pun menjadi bermakna pemerintah yang bebas mengeksplorasi potensi yang ada pada diri seluruh anak umat hanya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pemerintah saja. Potensi pada diri anak umat yang akan menjadi pemuda bangsa yang kritis terhadap kebijakan pemerintah akan ditindak tegas. 

Potensi pada diri anak umat seharusnya dikembangkan oleh pemerintah. Hal ini berdasarkan fungsi pendidikan nasional dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Bab II Pasal 3 yang berbunyi "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab." Pada kenyataannya potensi pada diri anak-anak umat akan dieksplor hanya demi kepentingan pemerintah saja dan apabila tumbuh berkembang menjadi pemuda bangsa yang kritis terhadap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, maka akan dicegah dan dipangkas.

Potensi Pemuda dalam Islam

Pemuda sebagai generasi penerus dalam pembangunan bangsa dan negara, sehingga memegang peranan penting. Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu pernah menyatakan, "Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan pemuda. Dan seorang alim tidak diberi ilmu pengetahuan oleh Allah melainkan di waktu masa mudanya." Maka, potensi dalam diri pemuda perlu dikembangkan dengan baik dan benar.

Potensi pada diri pemuda akan dibimbing untuk dikembangkan berdasarkan fitrahnya dalam sistem Islam, Daulah Khilafah. Fitrah dari adanya penciptaan makhluk-Nya ialah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Sebagaimana dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku". 

Beribadah kepada Allah bukan hanya dihadirkan dalam beribadah ritual seperti sholat dan puasa, tetapi juga dalam berhubungan dengan manusia lainnya yaitu habluminannas dan berhubungan dengan dirinya sendiri yaitu habluminafsih. Ketiga hubungan tersebut secara fitrah perlu dihadirkan dalam mengharapkan keridoan-Nya. Maka, potensi pemuda dapat berkembang dengan niat dan cara yang baik dan benar dalam mengabdi kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan memberikan kebermanfaatan atau berkontribusi bagi umat hanya untuk menggapai keridhoan-Nya.

Pemuda yang menjadikan hidupnya didasarkan untuk beribadah kepada Allah akan mendapatkan naungan-Nya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tujuh golongan manusia yang akan memperoleh naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, (diantaranya) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabbnya..." (HR. Bukhari No.660). Maka, sudah seharusnya pemuda diarahkan secara fitrah dalam beragama agar selalu mengaitkan aktivitas kehidupannya dan beragama. Hal ini akan terwujud hanya dalam sistem Islam yang menerapkan peraturan pada sistemnya berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah secara keseluruhan, sesuai fitrah makhluk-Nya.

Posting Komentar

0 Komentar