TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

PBB Bukanlah Tempat Berlindung Umat Islam


Menjelang hari lahir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ke 75 tahun pada 24 Oktober Mendatang, PBB telah mengalami kerentaan dari usia dan kepemimpinannya dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia. PBB merupakan lembaga multilateral terbesar di dunia dengan 193 negara yang berhimpun di dalamnya. Namun hari ini, Amerika yang menjadi penggagas utama kelahiran PBB telah menjadi penghancur utama gagasan multilateral ini. 

Hal ini semakin nampak terang benderang saat pandemi menghantam dunia. Ancaman resesi ekonomi bagi Negara besar dan berkembang, telah menampakkan wajah asli mereka yang sarat akan kepentingan. Belum termasuk situasi yang semakin memanas di beberapa Negara di kawasan Timur Tengah, Ethiopia, Cina, Asia termasuk di benua Eropa seperti Bosnia dan di beberapa Negara di benua afrika. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa PBB sangat bergantung pada Negara Super Power Amerika Serikat. Namun Sejak dipimpin oleh Donald Trump, kebijakan AS semakin nampak tidak seiring dengan PBB. Mantan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon mengatakan Multilateralisme sedang dalam kekacauan serius. Kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump 'America First' semakin mengokohkan bahwa AS telah berubah menjadi pemuja Unilateral dan membuat AS mengabaikan perjanjian multilateral dari perjanjian Iklim Paris hingga kesepakatan nuklir Iran (www.bcc.com, 23/09/2020). Pada saat superioritasnya semakin berkembang, Amerika hari ini telah berubah haluan politik. Sangat berbeda dengan pertengahan abad ke 20 lalu pada saat Franklin D. Roosevelt menandatangani Piagam Atlantik yang menandai berdirinya PBB. 

Bahkan Trump menganggap sebagai Negara adidaya, AS tidak akan mengalami kerugian apabila meninggalkan konsep multilateral. Dalam pidato virtualnya di depan Sidang Umum PBB (22/9) dengan sesumbar Trump mengatakan AS akan menggantikan peran PBB apabila ia terpilih kembali. Sehingga tidak heran jika didapati AS hari ini semakian unjuk kekuatan dalam perang dagang, unjuk kekuatan di laut cina selatan hingga saling tuding siapa yang bersalah dalam menangani dan mempolitisasi pandemi dan menuduh WHO membantu China untuk tidak bekerja sama dan berbohong kepada dunia sehingga menyebabkan penyebaran virus Corona ke seluruh dunia (www.voaindonesia.com, 25/09/2020)

Keadaan ini semakin meningkatkan gesekan geopolitik juga telah melumpuhkan Dewan Keamanan PBB. Pandemi virus corona telah memperjelas dinamika ini, terutama sikap unilateralisme AS dan persaingan yang semakin memanas antara AS dan China. Akibatnya, banyak pekerjaan produktif PBB yang macet. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, menguraikan tantangan yang dihadapi dunia. "Teknologi transformatif telah membuka peluang baru, tetapi juga menjadi ancaman baru. Pandemi Covid-19 telah mengungkap kerapuhan dunia. Kita hanya bisa mengatasinya bersama-sama." (www.voaindonesia.com, 21/09/2020)

Berebut Pasar Vaksin

Hampir semua negara bergantung pada produksi vaksin, yang jelas-jelas dikapitalisasi korporasi farmasi negara besar.  Di sinilah the Big Four turut bersaing ketat memperebutkan ceruk pasar yang amat luas. Xi Jinping mengumumkan bahwa Beijing akan memberi tambahan USD 50 juta bagi rencana tanggap kemanusiaan global Covid-19 PBB.  Negaranya membuat kemajuan dalam vaksin. Paling tidak, China telah meyakinkan Indonesia yang khusus mengirim Menlu Retno Marsudi dan Menteri BUMN Erick Thohir bekerja sama dengan dua perusahaan Sinopharm dan CanSino Biologics, setelah sebelumnya menggandeng Sinovac bermitra dengan Biofarma (www.voaindonesia.com, 23/09/2020)

Trump tak mau kalah dengan memastikan pihaknya akan memproduksi massal vaksin virus Corona sebelum pemilu Presiden Amerika 3 November yang akan datang. Pemerintah Inggris dan AS berlomba untuk membuat kesepakatan dengan perusahaan farmasi untuk mendapatkan pasokan vaksin Covid-19 (newsdetik.com, 07/08/2020)

Setidaknya 80 negara kaya, termasuk Inggris menggagas rencana vaksin global (Contemporary Culture Virtual Archive in XML/Covax)untuk mengumpulkan Rp 29 triliun sebelum 2021 yang diklaim akan digunakan membeli dan mendistribusikan obat-obatan secara adil.  Dengan mengumpulkan sumber daya di Covax, anggota koalisi berharap jamin 92 negara berekonomi rendah di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, untuk mendapatkan akses terhadap vaksin virus. Namun anggota DK PBB tidak akan tulus menyelesaikan masalah dunia, karena semua negara di dunia yang didominasi kapitalisme sedang berjuang keluar dari resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19. Hal ini nampak jelas dari apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo Sidang Majelis Umum ke-75 PBB secara virtual, Rabu (23/9/2020). "Vaksin akan menjadi game changer dalam perang melawan pandemi. Kita harus bekerja sama untuk memastikan bahwa semua negara mendapatkan akses setara terhadap vaksin yang aman dan dengan harga terjangkau" (kompas.com, 23/09/2020)

Tinggalkan PBB, Perjuangkan Sistem Islam

Pandemi seharusnya membuka mata kita lebar-lebar bahwa PBB sangat rapuh dijadikan tempat berlindung. Apalagi kelahiran PBB tak bisa dilepaskan dari Liga Bangsa-bangsa yang sengaja didirikan untuk melestarikan kekuasaan keluarga Kristen Eropa (Holy Alliance). LBB didirikan untuk membagi bekas kepemilikan Jerman dan Daulah Khilafah Utsmaniyyah yang kalah dalam Perang Dunia ke-1. 

Kegagalan PBB sebenarnya bukan hanya dalam menangani Pandemi, isu Terorisme yang menuding kaum muslim, konflik SARA, Proliferasi Nuklir, isu SARA, Pelecehan Seks Anak, dan masih banyak kegagalan lainnya yang semuanya rata-rata menimpa negeri kaum muslim. PBB tidak akan bisa menyelesaikan berbagai persoalan meskipun mereka memiliki hak Veto. Bahkan Allah Swt berfirman,

مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلْعَنكَبُوتِ ٱتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ ٱلْبُيُوتِ لَبَيْتُ ٱلْعَنكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui” [TQS Al-Ankabut: 41]

Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan. Sebab hanya Allah satu-satunya tempat berlindung, meminta keselamatan, dan tumpuan harapan. Dan inilah yang menimpa kaum muslim pada hari ini. 

Islam sesungguhnya telah memberi solusi yang benar dalam berbagai persoalan manusia. Sebagai diin yang sempurna, berasal dari dzat yang Maha sempurna pasti ada penyelesaian dalam Islam. Sebagaimana firman Allah, “Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (TQS An-Nahl [16]:89).

Di samping itu, seorang mukmin diperintahkan untuk masuk Islam secara menyeluruh. Ini berarti wajib setiap mukmin melaksanakan syariat Islam secara total. Bahkan seseorang tidak akan disebut mukmin, jika ia menerima sebagian syariat Islam akan tetapi menolak sebagian yang lain. Sebagaimana firman Allah Swt: 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. [TQS Al Baqarah: 208]. Sehingga menyelesaikan carut marut masalah yang membelit dunia, hanya dengan mewujudkan negara adikuasa baru, pengganti supremasi AS ataupun negara kuat lainnya, yakni Khilafah Islamiyah. 

Khilafah adalah ajaran Islam, penegakannya merupakan kewajiban bagi setiap muslim di seluruh dunia sebagai konsekuensi atas berimannya mereka terhadap Allah swt. Seseorang belum dikatakan beriman apabila belum menjadikan Allah sebagai Rabb dan Ilahnya, sebagaimana yang tercantum di dalam alquran dan dijalankan secara totalitas di dalam kehidupan tanpa merasa berat hati sedikit pun.[]

Oleh: Novida Sari
(Ketua Muslimah Peduli Generasi Mandailing Natal)

Posting Komentar

0 Komentar