TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pandemi, Kambing Hitam Resesi



Resesi menjadi momok di tahun ini, tidak hanya di Indonesia, nyaris di seluruh negara di dunia ini. Suatu negara dikatakan mengalami resesi jika mengalami pertumbuhan ekonomi negatif dalam 2 kuartal beruntun secara tahunan.

Beberapa kalangan mengatakan untuk tidak panik. Dalam siklus ekonomi resesi merupakan hal yang biasa.
Negara sekelas Amerika Serikat (AS) saja sudah mengalami resesi sebanyak 34 kali termasuk tahun ini.
Dan pandemi dikatakan sebagai penyebab terjadinya resesi.(https://www.cnbcindonesia.com/market/20201004192942-17-191802/resesi-bukan-akhir-dunia-jangan-panik-ini-saran-profesional/1)

Padahal resesi adalah penyakit yang akan terus terjadi dalam Kapitalisme. Karena Kapitalisme memang sudah cacat sejak kelahirannya.

Resesi terjadi karena penerapan sistem ekonomi Kapitalisme. Kapitalisme yang sangat mengagungkan materi dan sekaligus sebuah sistem yang tak manusiawi dalam perjalanan hidupnya.
Jadi bukan pandemi yang menyebabkan resesi.

Hanya saja, pandemi yang terjadi semakin memperparah resesi yang terjadi. Karena sejak awal pandemi di Indonesia, langkah pemerintah dan juga negara-negara lain adalah pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Dengan PSBB otomatis aktivitas ekonomi juga berhenti.

Tahun 1930 saat terjadi Great Depression, untuk bisa keluar dari krisis, maka sektor riil ditingkatkan/digenjot sehingga waktu Amerika mampu keluar dari krisis. Meski demikian, bukan berarti kondisi perekonomian Amerika aman-aman saja. 

Karena kenyataannya, krisis ekonomi terus terjadi secara berkala/siklik. Meski waktu itu, Amerika mampu bangkit mempertahankan statusnya sebagai negara dengan nilai ekonomi terbesar di dunia.

Namun secara siklik Amerika megalami resesi. Semua berpulang pada sistem ekonomi Kapitalisme.

Dalam sistem ekonomi Kapitalisme, ekonomi sebuah negara dibangun berdasar pada sektor non-riil, riba dan sistem keuangan yang rapuh (tidak berbasis emas dan perak) yang memunculkan krisis siklik.

Ketika investasi banyak berputar di sektor non-riil, melalui pasar modal dan saham maka pendapatan yang terjadi tidaklah nyata. Pendapatan yang terjadi ibarat gelembung. Saat terjadi guncangan pada pasar modal maka gelembung pecah.
Masyarakat juga tidak bisa secara langsung merasakan dampak investasi itu. Karena investasi berputar dalam bentuk kertas-kertas berharga di bursa saham.
Bahkan di Indonesia, hampir 80% lebih, investasi ada di sektor non-riil.

Berbeda dalam Islam, yang melarang keberadaan sektor non-riil. Investasi hanya boleh ada di sektor riil, sehingga terjadi kekayaan/pendapatan yang riil/nyata.

Ketika investasi dilakukan di sektor riil, dampaknya masyarakat memiliki pendapatan yang besar. Yang akhirnya memunculkan demand/permintaan yang besar. Maka angka perdagangan meningkat, laba yang dihasilkan meningkat.

Ketika laba yang dihasilkan meningkat, tentu masyarakat akan menginvestasikannya. Karena dalam Islam ada larangan berinvestasi di sektor non-riil, otomatis investasi akan dilakukan di sektor riil.

Maka perdagangan barang dan jasa akan meningkat dan membuka lapangan pekerjaan yang lebih banyak. Pendapatan masyarakat meningkat. Begitu seterusnya.

Sehingga mengkambinghitamkan pandemi sebagai biang resesi justru tidak akan mengeluarkan masalah resesi/krisis siklik. Karena penyebab resesi sebenarnya adalah sistem ekonomi Kapitalisme yang membolehkan investasi di sektor non-riil, sistem ribawi dan mata uang berbasis kepercayaan. Wallahu a’lam.[]


Oleh: Siti Maftukhah (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar