Pakar Ekonomi Syariah: Terbukti Ada Kongkalikong Pengusaha dengan Penguasa



TintaSiyasi.com-- Lahirnya UU Omnibus Law Cipta Kerja yang cacat dalam prosedur dan etik hukum dinilai Pakar Ekonomi Syariah Dr. Fahrul Ulum, M.E.I bahwa adanya kong kalingkong antara pengusaha dengan penguasa terbukti di negeri ini.

"Teori rent seeking yaitu suatu teori yang menjelaskan kong kalingkong atau persekutuan antara pengusaha dengan penguasa dalam hal penguasaan ekonomi dengan memanfaatkan sebuah regulasi yang dikeluarkan oleh negara itu telah terbukti," tuturnya dalam acara Live FGD FPMPB ke-8: Omnibus Law dalam Pandangan Ideologis, Membaca Ulang Masa Depan Bangsa, Sabtu (24/10/2020), di kanal Youtube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.

Menurutnya, teori yang berkembang pesat di Amerika ini rupanya telah menjalar ke negeri ini. "Tidak hanya memanfaatkan regulasi, tapi pengusaha juga ikut bermain dalam menetapkan regulasi," ungkapnya.

Menurutnya, yang terjadi di negeri ini lebih parah daripada teori tersebut yang sempat populer di tahun 70-an di Amerika. "Begitulah fakta yang terjadi," ujarnya.

Oleh sebab itu, ia menawarkan sistem ekonomi Islam sebagai alternatif dalam mengatasi masalah tersebut. "Saya melihat dari tiga hal tentang ekonomi Islam. Dari sisi paradigmanya, kemudian filosofisnya dan ketiga dari sisi praktisnya," ujarnya.

Pertama, Secara paradigma, menurutnya sistem ekonomi Islam tidak hanya menekankan pada pertumbuhan dan pemerataan saja tapi dua-duanya yaitu pertumbuhan dan pemerataan sekaligus. Pertumbuhan disini tidak sekedar tumbuh.

"Sistem ekonomi Islam, tidak hanya mengejar pertumbuhan. Pertumbuhan itu sesuatu yang alami. Kalau memang manusia ini bertambah, kebutuhan bertambah, kemudian kreativitas manusia itu bertambah, secara otomatis dengan sendirinya ekonomi itu akan tumbuh," ujarnya.

Ia menilai dalam ekonomi Islam yang dikejar dalam pertumbuhan itu hanya sektor riil saja. Sektor non riil tidak dimasukkan. "Sehingga pertumbuhan dalam sistem ekonomi Islam itu adalah pertumbuhan yang benar-benar nyata dan tidak bubble," terangnya.

Kedua, dari sudut pandang filosofis, menurutnya sistem ekonomi Islam lebih mengedepankan yaitu memanusiakan manusia. Baik posisinya sebagai pekerja, pemilik modal, atau perantara diantara keduanya, maka posisi-posisi itu ditempatkan pada posisi yang adil yaitu memanusiakan manusia. "Tidak ada eksploitasi satu dengan yang lain. Oleh karena itu, di dalam ekonomi Islam itu penekanannya di dalam syirkah. Tidak eksploitatif tetapi syirkah," ujarnya.

Ketiga, dari sudut pandang praktisnya, menurutnya secara praktis jika sistem ekonomi Islam diterapkan maka tidak diperkenankan adanya riba. "Karena riba ini menyerap darah pihak satu oleh pihak yang lainnya," pungkasnya.[] Achmad Mu'it

Posting Komentar

0 Komentar