TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Normalisasi Hubungan UEA-Israel, Pengkhianatan kepada Palestina?


Konflik Zionis Israel dengan Palestina masih terus berlangsung, konflik tersebut mengalami babak baru, yakni penguasa muslim melakukan normalisasi dengan Zionis Israel. Mengapa mereka setega itu terhadap saudara sendiri? Ada apa dibalik normalisasi terhadap penjajah? Bukankah mereka adalah pembunuh, perampok, penjajah yang harus dilawan dan diusir dari tanah Palestina?

Adanya sejumlah penguasa muslim yang malakukan normalisasi dengan Zionis Israel, mendapat reaksi dari Pengamat bidang militer dan pertahanan Connie “sudah saatnya Indonesia bertindak konkret agar bisa lebih memahami Zionis dengan membuka hubungan diplomatik sehingga ada diskusi lebih berlanjut”. Sedangkan menurut Pengamat hubungan Internasional Timur Tengah Diana Y. Sulaeman “cara Indonesia membantu mewujudkan kemerdekaan Palestina-Zionis Israel adalah dengan tekanan diplomatik”. (Dilansir Republika.co.id 26/09/2020).

Wacana tersebut menambah sederat penguasa muslim yang mulai melunakkan hubungannya dengan Zionis Israel, sebelumnya dilakukan oleh UEA dan Bahrain telah membuka hubungan diplomatik dengan Zionis Israel. Sebelumnya langkah normalisasi telah dilakukan oleh Mesir dan Jordania. 

Langkah normalisasi ini adalah bentuk penghianatan besar terhadap kaum muslimin Palestina, kepada tanah suci yang diberkahi. Normaliasi yang dilakukan hanya untuk melanggengkan hegemoni AS terhadap negeri-negeri muslim untuk kepentingan ekonomi, politik dan ideologi. 

Derita Palestina dimulai ketika kekalahan Daulah Utsmani pada Perang Dunia I mengakibatkan Daulah terlibat dalam perjanjian Sykes-Picot 1916. Dari perjanjian ini disepakai wilayah Timur Tengah Daulah akan dibagi untuk negara Inggris dan Perancis. Posisi Palestina pada saat itu adalah perbatasan bagi kedua negara licik tersebut, sekaligus menjadi wilayah Internasional.
 
Umat Islam Palestina semakin menderita, pasca runtuhnya Khilafah Ustmani 1924 tidak adalagi Khalifah yang melindungi tanah suci dari penjajah kaum kafir. Sejak saat itu, kaum muslim tidak memiliki perisai yang melindungi dari berbagai serangan yang dilakukan oleh negara kafir penjajah seperti Amerika, Inggris, Perancis, Rusia, dan Zionis Israel. Kaum muslim saat ini terbagi-bagi menjadi nasion state, negeri kaum muslim menjadi negara pengekor, yang mana kebijakan luar negrinya tidak mandiri, melainkan sesuai pesanan pada “Tuan Besarnya”. 

Setelah PBB membuat resolusi pembagian wilayah Palestina 1947, Zionis Israel resmi berdiri sebagai negara, awalnya Zioni Israel mendapat wilayah 55% wilayah Palestina. Sejak saat itu Zionis Israel melakukan perluasan wilayah tanah dengan cara-cara yang keji. Zionis Israel terus melakukan perluasan wilayah dengan cara-cara yang keji, mereka selalu mendapat dukungan dari Amerika, Inggris, Prancis dan Rusia.

Akar masalah Palestina adalah keberadaan Zionis Israel yang mencuri, menjajah, membunuh kaum muslim di tanah Palestina, dengan mengusir penduduk Palestina dari wilayahnya. Solusi Normalisasi artinya pengakuan terhadap Zionis Israel dan pembenaran terhadap penjajahan, perampokan, pembunuhan yang dilakukan Zionis Israel atas tanah Palestina. Sedangkan negara penjajah mustahil membuat kebijakan yang pro dengan Islam, jadi solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan konflik dua negara hanyalah tipu daya penjajah untuk menarik simpati penguasa muslim di Timur Tengah.

Apa yang dilakukan oleh penguasa muslim lainnya yang berkontribusi dalam normalisasi dan dibawah justifikasi formalitas, semakin menegaskan bahwa mereka adalah Negara Boneka. Maka tidak heran, jika mereka dengan mudah dan tidak malu membuat perjanjian damai dengan penjajah, yang jelas adalah musuh utama kaum muslimin. Dan menghianati rakyat Palestina, Yerusalem. Para penguasa muslim saat ini tidak pernah takut dengan sanksi Allah SWT diakhirat, saat kekuasaannya tidak dapat digunakan untuk membela muslim Palestina.

Tanah Palestina adalah tanah kharajiah milik kaum muslim diseluruh dunia, statusnya tetap sampai kiamat. Tidak ada seorangpun yang boleh menyerahkan tanah kharajiah kepada pihak lain apalagi kepada perampok, penjajah, teroris seperti Zionis Israel. Konflik tersebut tidak akan mungkin dapat diselesaikan dengan cara damai. Kita tau tanah Palestina memiliki status Syariah Islam lebih tinggi dari status semua tanah lain didunia. Allah berfirman Qs. Al-Isra’ : 1.

Tanggung jawab memulihkan Al Aqsa, Palestina adalah kewajiban semua muslim. Tanggung jawab ini tidak hanya terbatas pada Al-Quds, Palestina tapi seluruh tanah kaum muslim yang dirampas oleh negara-negara kafir. Oleh karena itu umat Islam HARAM menjadi teman setia dengan penjajah yang jelas-jelas menimbulkan petaka bagi Palestina, firman Allah Qs. Al-Maidah : 51. Kewajiban umat Islam merebut kembali tanah Palestina dari penjajah Zionis Israel dan mengusir mereka. Penjagaan seperti ini pernah dilakukan oleh Khalifah Abdul Hamid II. Penjagaan wilayah Palestina juga akan dirasakan oleh negeri-negeri muslim lainnya yang terjajah, hanya bisa dilakukan Khilafah.

Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan muslim Palestina adalah Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Negara ini tidak peduli terhadap kritik atau ultimatum yang dilayangkan oleh negara kafir. Demi menyelamatkan Palestina, tentara Khilafah tidak peduli dengan kecanggihan senjata mereka. Karena jihad, adalah kehormatan sekaligus supremasi kedigdayaan Khilafah dihadapan musuh-musuh Allah. Umat muslim berkewajiban mendirikan Khilafah demi membebaskan Palestina dan seluruh negeri muslim dari tangan kotor penjajah kafir. 

Khilafah akan mencegah musuh menyerang atau menyakiti umat muslim. Melindungi keutuhan Islam, Khilafah disegani oleh masyarakat dan ditakuti oleh musuh. Negara Khilafah dengan mudah akan mengirimkan pasukan jihad, dengan adanya seruan jihad yang berada dalam satu komando Khalifah, membuat puluhan juta tentara muslim dari seluruh wilayah dibawah naungan Khilafah akan mampu mengusir Zionis, bahkan induk yang memberi makan saat ini (AS) akan dengan mudah terkalahkan.[]

Oleh: Alfia Purwanti, S.M.

Posting Komentar

3 Komentar

  1. Penggunaan nama negara dengan kata Israel saja sudah "membingungkan" beberapa umat islam. Kalau ditelisik asal usulnya adalah kata Bani Israil yg banyak termuat di Al Qur'an.

    dijelaskan di Al Maidah ayat 78 bahwa Bani Israil ada yg kafir dan ada yg beriman, yang memilih beriman ada yg jadi Nabi(Nabi Daud/Isa) dan jadi panutan, kemudian yg memilih kafir sudah pasti terkutuk oleh Allah melalui lidah Nabi Daud/Isa. Bani Israil(Keturunan Nabi Yakub) hidup dari jaman Nabi Yakub s/d Nabi Isa sekitar 1700an tahun. Bandingkan dengan keturunan anda?

    Negara Israel jaman sekarang apakah punya hubungan dengan Bani Israil di jaman dulu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih membingungkan lagi kalau dikaitkan dengan takdir, Allah menuliskan takdir buat manusia di kitab Lauhul Mahfuds itu seperti seorang penulis menulis buku yg ceritanya cenderung satu pilihan(takdir)? atau seperti seorang programmer yg menulis program yg ceritany cenderung dengan banyak pilihan(takdir)? yg pasti minimal dikasih pilihan beriman atau tidak.

      Hapus
    2. tambah bingung lagi kalau ada yg berpikir "apakah manusia bisa memilih takdirnya?" kecerdasan buatan manusia untuk robot/mesin aja bisa diprogram dengan banyak pilihan, apalagi kecerdasan buatan Allah untuk manusia yang bahkan punya pilihan tambahan untuk "berpura-pura tidak punya pilihan hidup".

      Hapus