TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Negeriku Bebas dari Timbunan Hutang, Mungkinkah?


Negeriku. Beban berat berada di pundaknya. Sesak tertimbun hutang ribawi. Padahal negeriku bukan negeri miskin. Gunung emas ada. Lautan minyak tersedia. Hijaunya lahan terbentang luas. Namun, saat penjajah mencekik negeriku. Penjajahan gaya baru yang dimulai dengan bercokolnya Kapitalisme.

Kekayaan negeriku tergadaikan. Hutang atas nama bantuan mulai membanjiri negeri ini. Tentu bukan pinjaman tanpa balas jasa. Tapi pinjam beranak Pinak hingga bercucu. Bahkan pinjaman dengan segala syarat yang harus diterima negeriku. Hingga tak mampu mengatur secara merdeka kekayaan yang ia punya.

Negeri ini telah masuk 10 besar negara berpendapatan rendah menengah yang berhutang. Dalam laporan tersebut, hutang luar negeri Indonesia pada tahun 2019 tercatat mencapai USD 402,08 miliar. Jika ditukar dengan nilai rupiah, maka hutang Indonesia saat ini mencapai Rp 5.940 triliun (Gelora.co, 13/10/2020)

Tak ayal lagi negeriku pun terjangkiti  perekonomian ribawi. Dan mau tidak mau sebagai gambaran telah terperangkap pada jajahan  negara adidaya pemakan ribawa yang berdirinya saja laksana orang yang kerasukan syaitan. Sebagaimana firman Allah, 

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al Baqarah: 275)

Inilah salah satu pintu  kesengsaraan dari negeriku. Lalu mungkinkan negeri ini bebas dari timbunan hutang Ribawi? Hingga bisa berdiri sehat dan mandiri? Tentu sangat bisa ketika negeri ini kembali pada pengaturan syariat ilahi.

Betapa potensi SDA dan SDM sudah cukup menjadi modal negeri ini bisa hidup tanpa sandaran hutang ribawi. Namun, pertanyaan besar adakah niat dari rakyat negeri ini untuk ke arah sana? Atau justru masih enggan lepas dari sistem Kapitalisme-sekulerisme.

Jika kesadaran akan bahaya dan rapuhnya kapitalisme belum sepenuhnya disadari. Pun keyakinan akan aturan Islam sebagai solusi belum ada maka kondisi negeri bak berdiri terhuyung dan jadi bulan-bulanan negara Aseng pun asing akan tetap terjadi.

Jika ada pemikiran sulit mewujud kesana dengan pertimbangan negeri ini tidak hanya umat Islam rakyatnya. Lalu pertanyaan besar kita bituh solusi atau hanya bertahan dengan egosentris agama. Kenapa untuk solusi dari Islam begitu antipati dengan dalih ada kalangan minoritas.

Padahal sistem Kapitalisme ketika mengokohkan dengan segala aturannya di negeri ini yang notabene aturannya bertentangan dengan agama mayoritas negeri ini tidak pernah mempedulikan sedikit pun ada kaum mayoritas. 

Inilah sebagai bukti logis untuk memilih satu solusi sistem tentu kita harus fokus dengan kapabelitas sistem itu. Adakah agama lain yang mengatur sistem kemasyarakatan seperti Islam. 

Bahkan, penerapan aturan Islam keniscayaan kehidupan umat agama lain justru lebih terayomi dengan adil ketimbang di sistem Kapitalisme sekuler. Dimana mereka pun tetap "was was" dengan kondisi keamanan maupun terpeliharanya generasi mereka dari ancaman budaya liberalisme yang hedonis. Yang penuh dengan narkoba dan pergaulan bebas.

Maka ketika Islam diterapkan,  tidak hanya terbebaskan dari timbunan hutang, maka jaminan keluar dari timbunan masalah multidimensi pun akan ada dalam Islam. Sebagaimana fitrahnya aturan Islam adalah aturan yang manusia yang cocok untuk segala jenis manusia dimana pun dan kapan pun. Allahu a'lam bi shawab.[]

Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar