TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Negeri Islam vs Negara Islam



“Mari membangun Indonesia sebagai negara islami, bukan negara Islam, agar semua umat Islam di Indonesia dapat berkontribusi, masuk dari berbagai pintu. Jangan ekslusif"

Pernyataan tersebut dilontarkan Menkopolhukam, Mahfud MD, dalam sambutan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemuda Muhammadiyah yang digelar secara daring pada 27 September 2020. 

Menurut Mahfud, islami dalam arti berakhlak seperti jujur, demokratis, toleran, dan egaliter.  (Inews.id, 27/9/2020)

Begitulah propaganda para penguasa negeri ini terkait penggambaran buruk Islam. Para pejuang Islam moderat senantiasa beralibi Islam yang ramah itu apabila ditampilkan secara fleksibel. Islam pun dituntut untuk menyesuaikan dengan modernisasi saat ini. Maka diambillah  Islam jalan tengah sebagai pelegalan atas perilaku mereka.

Sedangkan Islam kaffah digambarkan sebagai Islam yang kaku, tidak ramah, dan eksklusif. Label radikal pun tersemat pada diri para pejuang Islam Kaffah. 

Negeri Islam

Negeri Islam memang banyak.  Ketika Daulah Khilafah runtuh pada tahun 1924,  negeri-negeri Islam yang awalnya bersatu di bawah naungan Khilafah Islamiyah terpecah menjadi 50 negara lebih.  Negeri-negeri tersebut sekarang menjadi negara pengekor dari negara adidaya. 

Negeri Islam atau Islamic Country adalah suatu wilayah negara dimana penduduknya mayoritas beragama Islam. Walaupun mayoritas penduduknya Islam, namun sistem yang dipakai untuk menjalankan negara bukanlah Islam. Bisa jadi memakai sistem kapitalisme sekuler atau sistem sosialis komunis. 

Negeri Islam yang jumlahnya sangat banyak ini bagaikan buih di lautan. Status sebagai negara pengekor membuat negeri-negeri Islam tak bisa berkutik jika berhadapan dengan negara adidaya. Seluruh kebijakan negerinya berada dalam kendali negara adidaya  yakni Amerika Serikat. 

Jadi untuk apa memperjuangkan menjadi negeri Islam? Toh, tanpa berupaya pun sudah otomatis negeri dengan mayoritas muslim terkategori sebagai negeri Islam. 

Apakah hanya dengan memperjuangkan menjadi  negeri Islam maka kebangkitan akan menyapa umat muslim?

Negara Islam

Negara Islam menurut KBBI adalah negara yang setiap perilaku politiknya didasarkan atas nilai-nilai atau ajaran agama islam yang bersumber pada Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam.

Sedangkan wikipedia mengartikan  negara Islam adalah negara yang memiliki bentuk pemerintahan berdasarkan hukum Islam.

Kedua definisi di atas benar. Intinya bisa disebut sebagai negara Islam apabila sistem yang dipakai untuk menjalankan pemerintahan negaranya memakai hukum-hukum Islam secara keseluruhan tanpa ada pengecualian. 

Namun, sering disalahartikan pengertian negara Islam ini. Digambarkan segala sesuatu terkait negara Islam dengan wajah seram dan kejam. Sehingga timbullah pada benak masyarakat ketakutan terhadap negara Islam. Padahal justru dengan negara Islamlah bisa membebaskan masyarakat dari kungkungan negara adidaya penjajah. 

Syarat tegaknya negara Islam ada dua, yakni : melaksanakan syari'at Islam secara kaffah dan jaminan keamanan ada pada kaum muslimin.

Beragamnya agama, suku, dan bahasa kerap menjadi alasan untuk menolak negara Islam. Padahal negara Islam inilah yang diperjuangkan Rasulullah. Di Madinah negara Islam bermula. Sampai pada masa kegemilangan Islam bisa menguasai hampir dua per tiga dunia. Tentu saja dengan wilayah seluas itu negara Islam atau Khilafah pada masa itu terdiri dari beraneka bangsa, agama, dan bahasa. Jauh lebih beragam bila dibandingkan dengan Indonesia. 

Kekhawatiran akan terjadi ketidaktentraman apabila negara Islam berdiri juga tidak terbukti. Justru Khilafah memelihara delapan hal. Diantaranya memelihara agama, akal, jiwa, harta, keturunan, kehormatan, keamanan, dan negara. Lantas apa yang mesti dirisaukan? Tuduhan yang dilontarkan sama sekali tidak terbukti. 

Will Durant seorang sejarawan barat dalam buku yang dia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, dia mengatakan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”

Wallahu a'lam bish showab.[]

Oleh: Sri Indrianti

Posting Komentar

0 Komentar