TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Misteri Laut Cina Selatan


Memanasnya isu antara Amerika dan Cina di wilayah laut Cina Selatan bukan saja masalah melanggar hukum internasional yang sudah ditegakkan, NDL yang merupakan garis yang dibuat sepihak oleh China tanpa melalui konvensi hukum laut di bawah PBB atau United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Tetapi isu hangat yang selalu diperbincangkan adalah mengapa Amerika dan Cina bertarung memperebutkan kawasan tersebut?

Laut Cina Selatan merupakan laut yang terletak di sekitar Benua Asia. Laut Cina Selatan merupakan bagian tepi dari Samudera Pasifik yang membentang dari Selat Karimata dan Selat Malaka hingga Selat Taiwa. Luas Laut Cina Selatan ini kira-kira 3.500.000 km persegi. Karena letaknya yang strategis inilah maka Laut Cina Selatan banyak dilintasi oleh kapal-kapal dagang lintas benua atau tingkat internasional dan membuat laut ini merupakan jalur ramai dan penting.

Keistimewaannya yang banyak dimiliki laut cina selatan cukup banyak sehingga menuai sengketa atau konflik antar beberapa negara. Selain memiliki letak strategis, Merupakan jalur penting pelayaran internasional. Memiliki banyak Kekayaan alam yang tiada habisnya. Ini membuat laut cina selatan begitu penting dan berharga.

Begitu antusiasnya Cina dan Amerika untuk menguasai laut cina selatan. Bahkan Cina telah mengklaim pulau-pulau di Laut China Selatan sebagai milikinya. Dengan kebijakan sembilan garis putus-putus yang diumumkan pada tahun 2009. Padahal wilayah ini terletak hingga 1.000 mil laut dari pantai Cina. Kepulauan yang diklaim Cina juga diklaim oleh Malaysia, Vietnam dan Filipina, karena wilayahnya dekat dengan garis pantai negara-negara tersebut. Dengan RI, Cina sempat tegang soal Natuna Utara.

Bahkan saat ini ketegangan terus terjadi antara Cina dan Amerika. Militer China mengklaim AS sering mengirim kapal perang ke Laut China Selatan untuk memamerkan kekuatannya dan sangat melanggar kedaulatan dan kepentingan keamanan China. Ambisi Tiongkok untuk menguasai Laut China Selatan semakin menjadi. (Sindonews, 10/10/20). 

Secara tegas, Kolonel Senior dari Cina Zhang Nandong juga meminta AS untuk berhenti melanggar kedaulatan Cina di wilayah tersebut. Pejabat militer Tiongkok itu kemudian mengancam akan mengambil tindakan tegas kepada siapapun yang berani memasuki wilayahnya dengan dalih melindungi stabilitas di wilayah Laut Cina Selatan.

Laut Cina selatan adalah fokus geopolitik yang sangat strategis hari ini, lokasi ini telah menjadi arena pertarungan kekuatan besar maritim yakni AS dan Cina, sekaligus merupakan lokasi yang mempertemukan poros kekuatan negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara. Karena itu Amerika berusaha  mempertahankan dan memperluas kehadiran Militer di kawasan LCS dengan dalih mementingkan keunggulan maritim, kebebasan bernavigasi, dan komitmen keamanan di kawasan LCS. Amerika menyatakan bahwa kawasan Asia Timur merupakan kawasan yang paling layak mendapatkan prioritas tertinggi. Untuk itu AS melakukan berbagai strategi untuk membatasi pengaruh Cina di kawasan Asia Timur.

Negara-negara yang berada di kawasan laut cina selatan seperti Malaysia, Indonesia dan Brunei Darussalaam sebagai representasi negeri Muslim tidak bisa melakukan apa pun dalam merespon agresivitas Cina dan reaktifnya Amerika Serikat.

Sesungguhnya posisi Laut Cina Selatan merupakan posisi yang strategis sebagai poros kekuatan negara Asia Tenggara. Posisi ini menjadi incaran negara superpower untuk memperkuat hegemoninya dikawasan tersebut. Sudah seharusnya Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia, memutus hubungan kerjasama  dengan Cina,  termasuk Amerika, sehingga bisa menjadi negara yang mandiri, dan tidak bergantung pada negara lain.

Indonesia sebagai negeri muslim seharusnya merujuk pada aturan Islam. Sangat jelas dalam Islam, menjaga keutuhan wilayah adalah wajib, untuk mempertahankan kedaulatan dari gangguan negara-negara lain yang hendak menguasainya.

Hanya saja kelemahan negeri-negeri muslim saat ini disebabkan  kekuatan hegemoni kapitalisme demokrasi yang mencengkram umat Islam, seperti AS dan China. Mereka memerangi umat Islam secara nyata. Terbukti dengan tindakannya yang biadab terhadap kaum muslimin di Uighur.

Sudah saatnya negeri ini menerapkan aturan dari Allah Swt. Al-Khalik al Mudabbir. Dengan Tegaknya Daulah Islamiyah merupakan kewajiban dari Allah dan juga merupakan warisan Rasulullah saw. dan dilanjutkan oleh para sahabatnya. Dan pernah ditegakkan selama kurang lebih 13 abad menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’alam bishsyawab.[]

Oleh: Riana Magasing M.Pd 
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

Posting Komentar

2 Komentar

  1. mengherankan memang, China dengan Komunismenya jadi negara maju dan Amerika dengan Kapitalisme bisa jadi negara maju. Umat islam nunggu khilafah dulu baru bisa maju?

    BalasHapus
  2. mungkin menunggu terwujudnya NII (Negara Islam Israel)

    BalasHapus