TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mewaspadai Virus Pelangi Merebah di Tubuh TNI-POLRI


Bagi kaum Adam, pastinya pernah bercita-cita menjadi TNI dan Polri. Nah, sebagai alat bela negara  sudah terbayangkan bagaimana sosok seorang prajurit, pastinya  tangguh dan kuat  yang mampu melawan musuh-musuh negara. Tapi bagaimana jadinya jika mereka tidak mampu menangkis serangan virus LGBT  atau malah  terjangkiti?

Soal isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di tubuh TNI serta Polri saat ini telah terungkap. Hal tersebut telah dipaparkan langsung oleh Ketua Kamar Militer Mahkamah Agung (MA), Mayor Jenderal (Purn) Burhan Dahlan SH MH.

“Mereka menyampaikan kepada saya, sudah ada kelompok persatuan LGBT TNI-Polri. Pimpinanya Sersan, anggotanya Letkol. Ini unik, tapi memang keyataan,” kata Burhan dalam Pembinaan Teknis & Administrasi Yudisial Secara Virtual kepada hakim militer se-Indonesia, pada Senin, 12 Oktober 2020.

Burhan telah mencermati fenomena LGBT di tubuh TNI-Polri da dia menyatakana bahwa yang terjadi saat ini adalah fenomena pergaulan. (Kompas. com, 14/10/2020)

Ancaman  LGBT tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi sampai menjangkiti tubuh TNI-Polri.  Hal itu disinyalir adanya kebiasaan TNI-POLRI  menonton adegan sesama jenis  dari WhatsApp, video dan sebagainya. Terang saja. jika  keinginan melampiaskan libido terhadap sesama jenis pun tak terkendalikan. 

Kemudian,  pembiaran di lembaga-lembaga pendidikan, dimana para pelatih yang memiliki perilaku menyimpang memanfaatkan kamar-kamar siswa untuk melampiaskan hasrat seksual kepada anak didiknya. Ini sungguh sangat menjijikkan.

Hal diatas makin diperparah dengan lemahnya aturan, menjadi kesempatan bagi pelaku untuk bebas dari jeratan hukum. Sebagaimana dilansir dari Detik. com (15/10/2020 Burhan menilai banyaknya anggota TNI yang menjadi LGBT karena faktor gaya hidup. 

Mereka yang ketahuan lalu diproses oleh pimpinan TNI dan diserahkan ke Pengadilan Militer dengan tuntutan oditur militer agar para terdakwa dipecat. Namun karena didakwa menggunakan Pasal 292 KUHP, para terdakwa bebas. Pasal 292 itu mengatur pasal pencabulan orang dewasa dengan anak-anak.

Berhubung negeri ini terlanjur mengadopsi aturan kolonial  yang menganut Liberalisme Sekularisme, maka wajar aturan yang dilahirkan adalah  hukum-hukum jahiliyah yang jauh dari harkat dan martabat manusia. Selain itu, sistem hukum pidana warisan Belanda  tersebut juga mandul, sehingga tidak memuat pasal-pasal yang bisa menjerat pelaku LGBT.

Dari kasus diatas seolah menampikkan pemikiran yang selama ini menjustifikasi bahwa disorientasi seksual LGBT adalah  given from the God. Padahal, Allah SWT telah menciptakan manusia sesuai fitrahnya, hidup berpasang-pasangan dengan lawan jenis bukan sejenis. Jelas perbuatan ini termasuk zhalim melanyalahi fitrah manusia. Wajar jika kemudian Allah SWT  memvonis kaum Luth sebagai kaum yang melampaui batas, hal ini disebutkan Allah SWT dalam QS. Al-A’raf [7]:81:

“sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada perempuan, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas,”

Oleh karena itu Liberalisme dan Sekularisme yang telah mendarah daging dinegeri ini, tidak bisa disingkirkan hanya dengan mengutak-atik aturannya saja. Tapi butuh, sistem aturan yang menjadikan solusi tepat dan tuntas agar LGBT hengkang dinegeri ini. 

Pertama, membangun kesadaran politik umat, bahwa Islam adalah sumber kemuliaan dan satu-satunya ideologi yang benar. Sehingga kemuliaan umat, hanya bisa diraih dengan berpegang teguh pada akidah dan syariat Islam.

Allah SWT pun menjanjikan keberkahan dari langit dan bumi, ketika Islam ditegakkan dalam kehidupan, bukan sekedar ritual belaka.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al’Araf [7]:96)

Menegakkan syariat Islam mustilah dilandasi keimanan, termasuk dalam hal mengatasi LGBT. Sebab Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia, dengan seperangkat aturan yang paripurna, mencakup perkara akidah maupun syariah, persoalan pribadi sampai urusan bernegara. 

Kedua, menegakkan ideologi dan politik Islam dalam  kehidupan. Islam adalah agama yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW, untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Pencipta-Nya, dirinya sendiri dan sesama manusia.

Segala karut marut yang terjadi dinegeri ini, merupakan hasil dan bukti kerusakan sistem politik yang dipertahankan saat ini. Padahal secara praktis  Rasulullah SAW telah  mencontohkan bagaimana mengatur kehidupan umat dengan Islam, menegakkan akidah dan hukum-hukum syariah dalam kehidupan, sehingga tak bisa ditutupi sistem kehidupan Islam mampu menciptakan Peradaban Islam yang gemilang.

Solusi Islam mengatasi LGBT

Secara garis besar, Islam memberikan solusi untuk mengatasi LGBT untuk itu dibutuhkan tiga peran yaitu;

Pertama, peran individu, pelaku dan keluarga. Ini dapat dilakukan melalui wadah pendidikan yang Islami dan lingkungan yang steril dari pengaruh negatif  yang menyuburkan disorintasi seksual. Lalu, mengikuti pembinaan kepribadian Islam serta menyibukkan diri dengan hal-hal positif. 

Bagi pelaku dapat melakukan terapi pengobatan dengan meluskan niat semata-mata karena Allah SWT, kemudian tobat nashuha dan melakukan ruqiyah syar’iyyah serta kunjungan ke psikiater.

Kedua, peran masyarakat sebisa mungkin mencegah diri dan keluarga agar tidak terpengaruh LGBT juga tidak memberikan dukungan terhadap LGBT. Yang terpenting adalah  kontrol sosial dari masyarakat untuk menagakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Ketiga, peran negara untuk mencegah LGBT dengan menegakkan syariat Islam, aktif membina masyarakat dengan pembinaan Islam serta menerapkan sanksi hukum secara adil atas para pelaku LGBT.

LGBT takkan ada habisnya jika sistem kufur yang sakit ini dibiarkan. Maka butuh perjuangan penerapan politik Islam, butuh institusi negara untuk menerapkan karena ini adalah kewajiban kita semua yang tidak mungkin dielakkan. Pastinya mampu mengatasi perosoalan pelik LGBT, hingga ke akar-akarnya. Wallahu’alam Bish-Shawab.[]

Oleh: Zenia Rumaisya
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

Posting Komentar

0 Komentar