TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menyoal Stempel Ayat pada Sebutan Sampah Demokrasi


Dengan geramnya Ali Mochtar Ngabalin menyebut para pendemo UU Ciptaker sebagai Sampah Demokrasi. Ngabalin menyebut demikian lantaran para pendemo meminta Presiden Jokowi untuk mundur (www.detiknews.com, 13/10/2020).

Sebelumnya Ngabalin menyitir ayat 179 Surat al - A'raf. Menurutnya mengukur kebenaran informasi itu harus menggunakan mata, telinga dan hati. Jika tidak, maka mereka layaknya binatang ternak. Lalu ia menutup penjelasannya dengan menanyakan apa ada yang kurang dengan UU Ciptaker. Mengatasnamakan penolakan UU Ciptaker, tapi berteriak minta presiden mundur, imbuhnya. 

Berbicara tentang ayat 179 Surat al - Araf, tentunya kita harus mengembalikan penjelasannya kepada pihak - pihak yang mempunyai otoritas di dalamnya. Ayat yang dimaksud berbunyi sebagai berikut ini. 

ولقد ذرأنا لجهنّم كثيرا من الجنّ والانس لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم اعين لا يبصرون بها ولهم آذان لا يسمعون بها اولئك كاالانعام بل هم اضلّ اولئك هم الغافلون. 

Artinya: Sungguh - sungguh telah Kami jadikan bagi Jahanam itu kebanyakan dari golongan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tapi tidak bisa memahami. Mereka mempunyai mata, tapi tidak digunakannya untuk melihat. Mereka mempunyai telinga, tapi tidak digunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang - orang yang lalai.

Al - Imam al Baghawi dalam Ma'alimut Tanzil menjelaskan bahwa mereka mempunyai hati tapi tidak bisa memahami, 

اي لا يعقلون بها الخير والهدى

maksudnya, mereka tidak memikirkan dengan hatinya tentang kebaikan dan petunjuk. 

Mereka mempunyai mata tapi tidak dipakai untuk melihat, 
اي طريق الهدى وسبيل الرشاد
Yakni jalan petunjuk dan jalan menuju kebaikan. 

Mereka mempunyai telinga tapi tidak dipakai untuk mendengar, 

اي مواعظ القرآن فيتفكرون فيها ويعتبرون بها، ثم ضرب لهم مثلا في الجهل والاقتصار على الاكل والشرب، فقال (اولئك كالانعام بل هم اضل) اي كالانعام ان همتهم في الاكل والشرب والتمتع بالشهوات، بل هم اضل لان الانعام تميز بين المضار والمنافع، فلا تقدم على المضار وهؤلاء يقدمون على النار معاندة مع العلم بالهلاك.

Yakni nasehat - nasehat al - Qur'an sehingga mereka memikirkan kandungannya dan mengambil pelajaran dari al - Qur'an. Kemudian Allah telah memberi perumpamaan bagi mereka dalam hal kebodohan dan hanya memikirkan bisa makan dan minum, maka Allah menyatakan (mereka itu seperti binatang ternak bahkan lebih sesat) yakni seperti binatang ternak, karena sesungguhnya keinginan terpenting mereka hanya pada makanan, minuman dan memperturutkan syahwatnya. Bahkan mereka lebih sesat, mengingat binatang ternak itu hanya bisa membedakan antara yang merugikan dan yang menguntungkan. Maka mereka tidak memperhatikan hal yang merugikannya, mereka mendahulukan memilih neraka dan menentang ilmu guna menuju kerusakan.

Jadi ayat 179 Surat al - Araf membicarakan mengenai orang - orang yang lalai, yakni orang - orang tidak menggunakan hati, mata dan telinganya guna memahami, memikirkan, mengambil pelajaran dan mengamalkan petunjuk - petunjuk hidup yang terkandung di dalam al - Qur'an. Mereka hanya memikirkan untung dan rugi. Oleh karena itu mereka itu diumpamakan seperti binatang ternak. Konsekwensinya balasan bagi mereka adalah Neraka Jahanam.

Walhasil ayat tersebut tidak dapat dijadikan pembenar atas pengesahan UU Ciptaker. Tentunya yang harus dilakukan adalah menjadikan petunjuk al - Qur'an sebagai timbangan bagi UU Ciptaker.

Sedangkan asas dalam UU Omnibus Law Ciptaker, salah satunya adalah kemudahan berusaha. Yang dituju tentunya adalah meningkatkan investasi baik dari luar maupun dalam negeri. Komoditas - komoditas yang ditenderkan dalam investasi mencakup bahan tambang, minyak dan gas bumi, dan kekayaan alam lainnya. 

Sebelum disahkan UU Ciptaker saja, banyak perusahan asing yang mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia, apalagi setelahnya. Bahkan disinyalir UU Ciptaker akan memindahkan hak 40 juta lahan tambang dan sawit negara kepada Taipan. UU Minerba sudah disahkan mendahului UU Ciptaker ini. Jelas eksploitasi kekayaan alam atas nama investasi menyalahi konsep kepemilikan umum dalam Islam. 

Rasul Saw pernah mengambil kembali tambang garam yang telah diberikannya kepada Abyadz bin Hammal. Alasannya tambang garam tersebut jumlahnya berlimpah. Maka tambang yang jumlahnya berlimpah itu adalah milik rakyat. Tidak boleh pihak manapun memprivatisasinya.

Begitu pula UU Ciptaker ini memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk menggunakan TKA hanya bermodal RPTKA (Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing). Hal demikian tentunya merupakan pengkhianatan kepada rakyat.

Kalau memang negara ingin memberikan penjelasan kepada rakyat, mengapa demo rakyat dihadapi dengan gas air mata dan kebrutalan? Mengapa juga Jokowi harus menghindar dan mementingkan melihat bebek daripada menemui rakyatnya? Lantas rakyat disalahkan karena menuntut agar presiden mundur bila tidak sanggup mengatur negara. 

Sesungguhnya demokrasi diagung - agungkan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Akan tetapi yang terjadi justru pengabaian suara rakyat. Bukankah kekuasaan itu milik rakyat? 

Rakyat memilih wakil - wakilnya untuk mewujudkan kesejahteraan mereka. Yang terjadi justru rakyat menderita dan semakin susah hidupnya. Demikianlah demokrasi yang sejatinya sebagai alat penjajahan. Asas sekulerisme dalam demokrasi telah menempatkan kapitalis mengendalikan pemerintahan. Artinya demokrasi telah melahirkan kekuasaan oligarki. Atas nama rakyat, mereka menguasai kekayaan alam bangsa. Jadi Demokrasi itu notabenenya adalah peradaban sampah dan sampahnya peradaban.

Sudah saatnya umat bergerak untuk segera membuang demokrasi ke keranjang sampah peradaban. Umat bergerak menyerukan tegaknya sistem Islam yakni Khilafah. Dengan Syariat Islam yang diterapkannya, Khilafah akan mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. []

Oleh: Ainul Mizan
Peneliti LANSKAP

Posting Komentar

0 Komentar