Menyakitkan, Pelecehan Nabi Terulang lagi




Ramai diperbincangkan hingga menjadi tren di Twitter, Senin (10/10/2020) dengan tagar Macron, Prancis, dan #boikot. Diiringi beberapa kritik keras nitizen  mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW.

Sebelumnya terjadi pembunuhan murid terhadap seorang guru yang diserang dalam perjalanan pulang sekolah tempat dia mengajar. Guru tersebut diserang karena dianggap menghina Nabi Muhammad SAW. Guru tersebut menganggap apa yang dilakukan majalah Charlie Hebdo adalah bagian dari kebebasan, padahal majalah itu telah menghina Nabi Muhammad SAW.

Hal itu membuat Macron naik pitam dan memberikan pernyataan dan menuduh Muslim melakukan separatisme dan bersumpah untuk tidak menyerah pada kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad, Rabu 21/10.

Berbagai reaksi tak terelakkan dari beberapa negara Arab yang menyerukan pemboikotan untuk sejumlah produk-produk Prancis sebagai aksi kecaman terhadap Macron.

Seruan untuk memboikot barang-barang Prancis berkembang di seluruh dunia setelah komentar Presiden Emmanuel Macron terhadap Islam dan Muslim.

Lembaga Islam Mesir, al-Azhar juga turut mengecam pernyataan rasis presiden bernama lengkap Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron itu. Para sarjana Universitas Al Azhar menyebut pernyataan Macron bertentangan dengan esensi Islam yang sebenarnya.

Kecaman juga datang dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu (24/10), mengatakan bahwa presiden Prancis membutuhkan "pemeriksaan mental."
"Apa yang bisa dikatakan tentang seorang kepala negara yang memperlakukan jutaan anggota dari kelompok agama yang berbeda seperti ini, pertama-tama, lakukan pemeriksaan mental," kata Erdogan dalam pidatonya yang dikutip TRT World, Ahad (25/10).

Di hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Yordania mengatakan, pihaknya mengutuk segala bentuk publikasi  karikatur Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi dan upaya diskriminatif dan menyesatkan yang berusaha menghubungkan Islam dengan terorisme (republika.co.id 25/10) .

Seakan menjadi kado pahit ditengah peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, ide liberali  sekuler justru memperkuat kebencian terhadap Islam.

Kebebasan berekspresi telah disalah gunakan untuk  mengekspresikan kebencian terhadap Islam dalam hal ini penistaan terhadap Nabi Muhammad Saw.

Walaupun beberapa negara menyerukan aksi pemboikotan produk Prancis, tak ubah hanya kecaman bersifat temporal.

Akan terus terjadi dan akan berulang kaum penista untuk menggarap deislamisasi  dengan mengaitkan aksi  terorisme, separatis atau tuduhan negatif lainnya terhadap Islam.

Negara Prancis melakukan aksi pelecehan terhadap nabi tidak cuma saat ini saja.
Dahulu saat Daulah Islam masih tegak pada masa Sultan Hamid II Khalifah terakhir Daulah Islam masa Turki Utsmani, Prancis akan mengadakan pertunjukan drama komedi Rosul, tapi pertunjukkan tersebut terhenti karena Khalifah mengancam akan menghancurkan negaranya jika pertunjukan tersebut tetap digelar, walaupun pada saat itu Daulah Islam dalam kondisi kritis tetapi masih memiliki junnah untuk melindungi Islam dari penista agama. Perancis ketakutan dan pertunjukan komedi tersebut akhirnya gagal digelar.

Maka urgensi pemimpin umat dan institusi negara untuk melindungi umat Islam sangatlah penting, untuk melindungi kehormatan ajaran Islam dan umatnya. Fakta yang terjadi saat ini jika umat  Islam tanpa institusi negara dan seorang pemimpin seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

Sentimen kaum liberalis melahirkan kebencian dan akan berlangsung sampai hari kiamat, Allah SWT berfirman :

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat lagi
(QS. Ali-Imran [3]: 118)

Walaupun di negara mayoritas muslim tidak bisa membuat keadaan berubah, mengingat karena sistem yang berlaku saat ini adalah kapitalis demokrasi, melahirkan pemimpin pro terhadap Islam yang menyuarakan tegaknya hukum Islam sangatlah tidak mungkin. 

Ketika negara-negara muslim saat ini menjadi target penjajahan dengan jeratan hutang negara kapitalis, mungkinkah para pemimpin negara gagah menyuarakan protes kecaman terlebih mengirimkan pasukan?

Islam membutuhkan Junnah, Muhammad
Saw bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Pemimpin sangat penting untuk melindungi umat Islam, di alam kapitalis-sekuler saat ini tidak mengkin melahirkan pemimpin (Khalifah) untuk membela kehormatan umat Islam.

Maka yang diperlukan saat ini adalah revolusi sistem jahiliah buatan manusia yaitu kapitalis- Sekuler digantikan dengan menginstal hukum Islam secara kaffah (menyeluruh).

Dalam satu kepemimpinan umum, sistem pemerintahan Islam yaitu khilafah sebagai satu-satunya negara.

Sholawat dan salam kepada Baginda Rasulullah Muhammad Saw semoga umat Islam semakin erat untuk bersatu, dan dengan adanya penistaan-penistaan yang terjadi bisa menjadi ibrah bagi kita semua pentingnya junnah bagi umat Islam.

Peringatan Maulid Nabi 12 Robiul awal 1442 H tahun ini semoga bisa menjadi tonggak dan ghiroh (semangat) umat muslim seluruh dunia untuk  kembali menerapkan syariat Islam dengan sempurna dan kembali semangat jihad dikobarkan.

Senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar kesadaran umat akan penerapkan hukum Islam dapat terwujud sehingga Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu'alam.[]

Oleh: Amah Muna
Sahabat Muslimah Kendal

Posting Komentar

0 Komentar