TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menjawab Tuduhan dan Fitnah terhadap Khilafah



Sebutan khilafah sudah tidak asing lagi di tengah-tengah masyarakat dan menjadi ‘buah bibir’ di program-program televisi, baik yang pro maupun yang kontra. Bahkan masuk menjadi trending topic di media sosial. 

Bentuk sistem pemerintahan Islam adalah khilafah. Kepala negaranya adalah khalifah. Dalam Al-Qur’an, hukum masalah ibadah hanya 20 persen. Sisanya hukum muamalah, yang sebagian besar hanya bisa diterapkan jika khilafah tegak. Inilah yang para ulama katakan bahwa khilafah adalah tajul furudl (mahkota kewajiban).

Namun, khilafah sebagai ajaran Islam, saat ini dituduh sebagai ajaran tidak  berhujah. Banyak kalangan sekuler dan kaum kafir menyerang dan yang menolak konsep ini. Mereka menuduh dengan pandangan negatif, di antaranya pernyataan pejabat yang mengatakan haram meniru sistem pemerintahan Islam, padahal notabene dia adalah seorang Muslim. Bagaimana ini bisa terjadi?

Menurut Luthfi Assyaukanie: Perlunya Mengubah Sikap Politik Kaum Muslim, yang dikutip www.islamlib.com, katanya khilafah ditolak karena sejarahnya penuh konflik yang berdarah-darah, otoriter dan gagal. Khilafah juga dikatakan sekadar ijtihad sahabat sepeninggal Nabi SAW yang bisa saja berubah sesuai waktu dan tempat.  

Khilafah ditolak bukan karena bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits, tapi tidak cocok dengan logika sekularisme yang menghapuskan peran agama dalam pengaturan kehidupan publik. Inilah yang melandasi kaum sekuler liberal begitu getol menyerang dan memfitnah baik dari sisi makna maupun para pengembannya.

Tuduhan dan fitnah kaum sekuler dan liberal yang dilontarkan karena paradigma berpikir mereka yang menyingkirkan peran agama dalam mengatur kehidupan. Berbeda dengan konsep khilafah yang justru merepresentasikan seluruh aturan Tuhan dalam kehidupan, dari bangun tidur hingga tidur, dari urusan pribadi hingga urusan bernegara.

Berbagai tuduhan itu adalah upaya kafir Barat yang menggunakan antek-anteknya untuk merintangi tegaknya dan menguasai  seluruh wilayah Daulah Islam. Sejak kafir penjajah menduduki negeri-negeri kaum Muslimin, mereka menetapkan kekuasaannya dengan mengokohkan sistem hukum berdasarkan rumusan mereka. Mereka juga menyebarkan slogan-slogan nasionalisme dan kebangsaan  yang menjadi kebanggaan dan label kemuliaan mereka dan akhirnya semakin menjauh dari Islam. 

Berbagai surat kabar mainstream dan media sosial sibuk memperbincangkan tema-tema kekhilafahan, namun perdebatan ini mengandung kepentingan lain yaitu mengalihkan opini umat yang sudah mulai sadar urgenitas tegaknya Daulah Islamiyah. Dengan diskusi-diskusi ini, mereka mampu menjauhkan umat dari opini tentang khilafah, karena narasumber yang diundang dalam diskusi tersebut dari kalangan mereka sendiri yang justru mendiskreditkan Islam dan khilafah.

Tidak cukup hanya di situ, Barat penjajah mendorong para pengarang dan orator untuk menjelaskan bahaya adanya Daulah Islam, membuat tuduhan di dalam Islam tidak ada sistem pemerintahan. Untuk mendukung tuduhan tersebut, dikeluarkanlah buku-buku, artikel-artikel dan jurnal-jurnal oleh sekelompok umat Islam yang dibeli, agar mereka menyebarkan propaganda kafir pejajah, sehingga kaum Muslim tersesat, berpaling dari agama mereka dan dari aktivitas yang berupaya mewujudkan kehidupan menurut hukum Islam.  Berbagai  tuduhan itu berasal dari akar yang sama yaitu sekularisme. 

Tuduhan lain yang dilontarkan salah satunya bahwa khilafah tidak populer dan tidak layak karena bertentangan dengan konsep negara bangsa (nation state) yang disepakati semua manusia modern. Khilafah juga telah gagal dan tidak berjalan sempurna, terbukti dari khalifahnya dalam Khilafah Rasyidah (Umar, Ali, Utsman) mati terbunuh. Khilafah pun bukan sebuah bentuk kekuasaan yang diwajibkan agama, tapi hanya ijtihad politik sahabat sepeninggal Nabi, terbukti dari tidak adanya sistem pengangkatan khalifah yang baku antara Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Tuduhan semacam itu sangatlah tidak benar, karena kewajiban mengangkat seorang khalifah telah ditetapkan berdasarkan Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma’ sahabat. Adapun penetapan berdasarkan Al-Quran sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-Maidah ayat 48-49 yang artinya, “Maka putuskanlah perkara di antara mereka dengan apa-apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka dengan apa-apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah Allah turunkan kepadamu.”

Penetapan berdasarkan As-Sunnah, sesuai yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Thabrani dalam hadits: “Dan siapa saja mati dan tidak ada baiat di pundaknya, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.”

Adapun penetapan berdasarkan ijma, para sahabat telah menjadikan hal yang paling penting bagi mereka setelah wafatnya Baginda Nabi SAW adalah mengangkat seorang khalifah. Kewajiban untuk mengangkat seorang khalifah sangat jelas dan ini terlihat dari kegamblangan pemahaman sahabat terhadap hal itu, yaitu sahabat lebih mendahulukan mengangkat seorang khalifah dan membaiatnya dari pada memakamkan jenazah Rasulullah.

Harus diingat banyak sekali kewajiban syar’i yang pelaksanaannya bertumpu pada seorang khalifah, di antaranya menjalankan hukum-hukum, menegakkan hudud, menjaga wilayah perbatasan dan mempersiapkan pasukan, menghilangkan perselisihan yang terjadi di antara anggota masyarakat, memelihara keamanan dan sebagainya. Sehingga keberadaan khilafah wajib adanya bagi seluruh kaum Muslimin.

Ingatlah! Mendirikan khilafah bukanlah pekerjaan yang mudah, banyak rintangan yang menghadang di tengah upaya mendirikannya. Rintangan ini harus dihilangkan. Selain itu juga terdapat kesulitan yang besar dan banyak merintangi jalan untuk melanjutkan kehidupan Islam. 

Adapun rintangan yang paling penting di antaranya: Pertama, adanya pemikiran-pemikiran yang tidak Islami, yang menyerang dunia Islam. Kedua, adanya kurikulum pendidikan dan metode penerapan kurikulum yang dibangun berdasarkan  azas yang telah ditetapkan penjajah. 

Ketiga, adanya pensakralan secara umum terhadap sebagian pengetahuan tentang kebudayaan dan dianggapnya sebagai ilmu (sains) yang bersifat universal (Ilmu sosial, psikologi dan ilmu-ilmu pendidikan). Keempat, masyarakat di dunia Islam berada di tengah-tengah kehidupan yang tidak Islami.
 
Kelima, keterpisahan yang sangat jauh antara kaum Muslim dan pemerintahan Islam, terutama aspek politik pemerintahan dan politik pengelolaan harta, menjadikan gambaran kaum Muslimin tentang kehidupan Islami sangat lemah. Keenam, keberadaan berbagai pemerintahan di negeri-negeri Islam yang berdiri dengan dasar demokrasi dan penerapan sistem kapitalistik secara menyeluruh. Ketujuh, adanya opini umum tentang kesukuan, nasionalisme dan sosialisme termasuk juga gerakan-gerakan politiknya.

Maka, untuk mendirikan Daulah Islam tidak cukup hanya membayangkan kesenangan dan harapan saja, tidak cukup semangat dan cita-cita untuk melanjutkan kehidupan Islam. Ada hal penting yang harus diperhatikan dan dilaksanakan, yaitu memperhitungkan berbagai rintangan yang menghadang secermat mungkin agar mampu menghilangkannya.  

Harus diketahui bahwa orang-orang yang berjalan dalam perjuangan untuk melanjutkan kehidupan Islam adalah orang-orang yang memahat jalan di batu cadas yang keras. Namun diperlukan adanya kepekaan dan kejeliannya, agar menjadi jaminan sempurnanya pemecahan persoalan itu dan akan mampu menyelesaikan masalah itu dengan cermat.[]

Oleh: Sulandari  Rahardjo, S.T., Guru/Anggota komunitas Muslimah Menulis Depok



Posting Komentar

1 Komentar

  1. Khilafah itu sebenarnya mudah didirikan, bahkan lebih mudah jika menganggap arab saudi atau iran sebagai Khilafah. tapi biasanya dianggap kurang kaffah, betul? kalau ternyata kaffah itu hanya bisa di surganya Allah bagaimana? atau itu hanya alasan ormas tertentu yg ingin mendirikan negara sendiri?

    BalasHapus