TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mendidik Anak Sejak Kecil



Anak adalah amanah dari Allah Subhanahu wa ta’aala dan merupakan titipan yang harus diperlakukan dengan baik. Oleh karena itu, orang tua harus tahu bagaimana cara merawat dan mendidik anak-anaknya dengan baik sesuai dengan pandangan Islam. Dari amanah tersebut orang tua harus bisa menunaikan hak-hak anak dengan baik. Salah satu diantaranya adalah hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tuanya.

Hak ini sudah ada sejak anak lahir bahkan sebelum mereka lahir. Oleh karena itu, orang tua berkewajiban untuk menunaikan hak anak dengan baik sesuai dengan tuntunan yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’aala.

Pendidikan dalam keluarga sangat penting dalam mengarahkan anak-anaknya. Dalam keluarga mereka dibina untuk menjadikan pribadi yang bertakwa. Disinilah peran orang tua sangat penting. Kedua orang tua mempunyai pengaruh yang besar bagi pertumbuhan anak-anaknya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

“Setiap anak dilahirkan atas fitrahnya. Maka kedua orangtuanya yang menjadikan dia seorang yahudi, nasrani atau majusi.” (HR.Bukhari)

Setiap anak terlahir dalam keadaan suci, bersih dan tidak ada noda. Orang tualah yang membuat fitrahnya itu ternoda. Fitrah anak itu adalah Islam, Allah memberikan kemudahan dalam menerima aqidah Islam dalam pendidikan. Oleh karena itu, tugas orang tua adalah menjaga fitrah anak tetap dalam kebersihan dan kesucian. Orang tua mendidik  anak agar taat kepada Allah Subhanahu wa ta’aala.

Anak adalah harapan masa depan dan untuk kehidupan akhirat. Apa yang kita berikan pada anak, hasilnya bukan saja untuk dinikmati  saat di dunia, tapi bahkan hingga akhirat. Jika kita mendidiknya dengan benar, maka anak bisa menjadi anak sholeh. Dan doa anak sholeh adalah pahala yang terus mengalir kepada kedua orang tua walaupun orang tua sudah meninggal.

“Bila meninggal seorang manusia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu sodakoh jariah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Tentu setiap orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi sholeh dan  cerdas. Akan tetapi sekadar ingin saja itu belum cukup, harus ada kerja keras untuk mendidik anak-anaknya. Namun, kerja keras saja belum cukup, perlu kecerdasan. Orang tua harus cerdas sebelum membuat anaknya cerdas. Oleh karena itu, orang tua juga butuh ilmu agar mampu mendidik anaknya sesuai dengan Islam. karena tidak sedikit orang tua belum memahami cara mendidik anak yang benar.

Anak-anak adalah aset orang tua di akhirat kelak, sehingga ibu layak dialirkan amal jariyah atas kesholehan anak-anaknya, wajar bila peran dan fungsi ibu dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya dituntut lebih dari yang lainnya dan tidak akan tergantikan oleh siapapun, karena jerih payah ibu , layak menerima doa anak-anak yang sholeh dan sholehah.

Akan berbeda jika anak-anak yang diasuh dan dididik oleh orang lain tentu akan mempengaruhi pengaruh ibu terhadap anak-anaknya sehingga anak-anak enggan berdoa, sekali-kali saja kalau ingat karena tidak didorong oleh kesholehan yang dibimbing oleh ibunya. Karena peran yang paling penting yang mendidik anak adalah seorang ibu. Karena ibu lah pendidik (guru) pertama bagi anak-anaknya.

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya.” (HR Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa  kewajiban seorang ibu dalam rumah tangga suaminya sekaligus pengasuh, pemelihara dan pendidik pertama anak-anaknya. Hal inilah yang mendorong setiap muslimah harus menyadari bahwa tanggungjawabnya untuk memenuhi dan menyempurnakan perannya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.

Namun, seringkali menjadi ibu sebuah keluhan, ketidakberdayaan, beban ketika mengantarkan anak-anak menjadi anak-anak yang soleh, cerdas dan sehat. Karena memang meraih anak-anak unggul bukanlah pekerjaan yang mudah jika tidak diiringi ilmu yang memadai,  mengelola dan semangat yang terus menerus.

Seorang ibu mendidik anaknya sejak dalam kandungan. Jadi sejak anak dalam kandungan sudah mulai mendapat ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat(kubur).” (Hadits).

Islam memberikan arahan kepada umatnya untuk menjani proses belajar sejak kecil. Tidak hanya ketika manusia lahir ke dunia, namun sejak janin berada dikandungan ibu. Ketika  anak dalam kandungan, ibu mulai menerapkan pendidikan yang Islami pada anaknya. Dengan membiasakan perilaku-perilaku terpuji, membaca alquran, berbahasa santun, membelai bayi melalui perutnya. Serta mengajaknya berbicara.

Sejak ibu mengandung hendaklah harus makan makanan yang halal dan sehat. Serta senantiasa memanjatkan doa agar Allah  meridhoi dirinya dan anaknya yang akan dilahirkan. Seorang ibu berusaha menjalankan kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan bahkan menambahkan amalan-amalan sunnah untuk mendekatkan dirinya kepada Allah. dan akhlaknya terjaga untuk memberikan keteladanan kepada janinnya dengan sabar, dan tidak mengeluh apabila menghadapi kesulitan pada masa kehamilan.

Ketika bayi lahir, Islam memerintahkan untuk memperdengarkan adzan ditelinga kanan dan iqomah ditelinga kiri sang bayi. Inilah kalimat yang pertama yang harus didengarkan anak yang baru lahir.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur” (QS. An Nahl: 78).

Ibu juga harus rutin memperdengarkan bacaan-bacaan alquran kepada bayinya, membiasakan ibu untuk melafazkan doa-doa ketika memulai melakukan aktifitas untuk meningkatkan kemampuan anak. Seperti saat ibu ingin menyusui, hendaklah ibu berdoa, ketika menyusui, selesai menyusui, akan tidur, bangun tidur, dll. Penanaman kecintaan kepada Allah dan RasulNya serta alquran.

Sering-seringlah ibu menyapa anak dengan “assalamu’alaikum”, atau kenalkan kata basmalah, hamdalah dll. Utamakanlah kalimat-kalimat yang baik. Dan dalam mendidik, anak juga butuh kasih sayang.

Sejak kecil anak-anak diajari untuk menutup aurat, sholat dan kewajiban-kewajiban yang lain. Ketika anak berenjak baligh, seorang anak mulai dibebani dengan hukum syara’ (mukallaf).  Amal dan dosa mereka dihisab.  Agar saat baligh mereka telah siap menjalankan hukum syara’,  mereka perlu dilatih dan dibiasakan menjalankannya sejak kecil.  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

“Jika seorang anak telah mampu membedakan tangan kanan dan kirinya maka perintahkanlah ia untuk melakukan shalat.” (HR Thabrani).

Dan Rasulullah bersabda: “Perintahkan anakmu shalat usia 7 tahun, dan bila telah berusia 10 tahun pukullah bila ia mengabaikannya .” (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Daruquthni).

Menutup aurat sama wajibnya dengan sholat, oleh karena itu, sejak kecil anak dibiasakan menutup aurat. Biasakan anak perempuan menggunakan kerudung dan jilbab. Pembiasaan semenjak dini akan menjadikan anak merasa lebih nyaman  saat mengenakan kerudung dan jilbab yang telah menjadi wajib baginya. Dan anak juga dipahamkan bahwa menutup aurat adalah suatu kewajiban. Jadi, ketika anak perempuannya keluar rumah maka biasakan menggunakan kerudung dan jilbab.

Begitu besar peran seorang ibu, dia adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Perilaku seorang ibu, anak menerima keteladanan. Kasih sayang ibu menjadi jaminan awal untuk tumbuh kembangnya anak secara baik dan aman. Oleh karena itu anak sangat butuh ilmu sejak kecil. Dengan begitu anak bisa tumbuh menjadi anak sholeh dan sholehah. Insya Allah. Wallahua'lam.[]

Oleh: Minah, S.Pd.I
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar