TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mencetak Generasi Rabbani Berjiwa Qur’ani Layaknya Muhammad Al Fatih



“Apakah kita sudah benar-benar memahami apa arti dari generasi rabbani berijiwa Qur’ani?”

Atau jangan-jangan kita hanya menjadikan kata-kata tersebut menjadi sebuah tulisan saja?

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radliallahu 'anhu, beliau mendefinisikan “rabbani” sebagai generasi yang memberikan santapan rohani bagi manusia dengan ilmu (hikmah) dan mendidik mereka atas dasar ilmu. Sementara Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma dan Ibnu Zubair mengatakan "Rabbaniyun adalah orang yang berilmu dan mengajar ilmunya".

Oleh karena itu,  untuk mendapatkan generasi rabbani yang berjiwa Qur'ani Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengeluarkan surat tentang membaca buku Muhammad Al Fatih 1435 karya Felix Y Siauw untuk meningkatkan minat literasi siswa. 

Surat bernomor 420 / 11.09.F DISDIK tertanggal 30 September 2020 itu ditujukan kepada seluruh Kepala Sekolah SMA/SMK se-provinsi Bangka Belitung yang ditandatangani Muhammad Soleh selaku Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung. (viva.co.id  02/10)

Selain membaca, surat tersebut mengintruksikan kepada para siswa SMA/SMK di provinsi itu untuk merangkum buku berjudul Muhammad Al Fatih 1453 karya Felix Siauw. Disdik mengaku ingin memberikan pengetahuan sejarah perjuangan Muhammad Al Fatih ke siswa. (news.detik.com 02/10)

Tidak salah jika Dinas Pendidikan (Disdik) Bangka Belitung (Babel) menjadikan buku Muhammad al-Fatih yang ditulis oleh Felix Siauw sebagai salah satu referensi bahan ajar dalam kegiatan literasi. 

Buku ini akan mampu menggenjot semangat kaum milenial sekaligus mampu membangkitkan spirit Al-Fatih ditengah bermekarannya semangat hijrah kaum milenial. Mereka yang buta dengan sejarah tentu akan tahu kisah tokoh besar tersebut. Kisah apik penaklukan Konstantinopel diabadikan dalam buku Muhammad Al Fatih 1453 karya ustaz Felix Y Siauw. Salah satu dari sekian banyak buku yang merekam jejak lika-liku penaklukan Konstantinopel yang melegenda. Wajar jika buku ini patut untuk dibaca. Agar generasi muda tak hanya bangga terhadap sosok pahlawan fiktif ala film Barat, tetapi lebih mengenal dan bangga terhadap sosok pahlawan Islam yang pernah ada.

Mengingat sosok Muhammad Al Fatih memiliki sejumlah keistimewaan, sebaik-baiknya pemimpin sesuai dengan bisyarah Rasulullah, beliau tak pernah meninggalkan shalat tahajud, menguasai 9 bahasa, ahli sirah, sejarah, geografi, dan politik. Bahkan masa mudanya dihabiskan untuk mewujudkan bisyarah Rasulullah saw. 

Bukankah Muhammad Al Fatih lebih layak dijadikan panutan? Sosok yang layak dinamakan rabbani karena Muhammad Al Fatih telah melakukan amalan yang sangat mendekatkan dirinya kepada Ar-Rabb (Allah). Muhammad Al Fatih memerintahkan semua tentaranya untuk berpuasa pada siang hari dan shalat tahajud pada malam hari sebelum berperang untuk meminta kemenangan kepada Allah. Dan beliau adalah sosok yang menegakkan amar makruf nahi mungkar.

Namun sayangnya, setelah sehari surat itu dikeluarkan harus ditarik kembali. Alasannya, salah satu ormas melayangkan protes. Protes itu dilayangkan melalui surat teguran ke Gubernur Babel Erzaldi Rosman Djohan.

Ketua PWNU Babel, KH Jaafar Siddiq mengatakan, PWNU sudah mengirimkan surat ke Gubernur Babel untuk menindaklanjuti perihal surat kepala Dinas Pendidikan terkait kewajiban membaca buku Felix Siauw tersebut. Dia mengatakan, kewajiban membaca buku karangan Felix Siaw memiliki agenda terselubung (babel.inews.id, 02/10/2020)

Sontak hal ini membuat masyarakat bertanya, salahnya buku ini dimana? Bukankah buku ini berkisah tentang pemuda yang memiliki pengaruh dalam Islam dan patut dijadikan teladan? Tentu sosok semacam ini patut dijadikan panutan. Membaca buku Muhammad Al Fatih 1453 menjadi sebuah keharusan dan patut mendapatkan dukungan, agar menciptakan semangat juang yang sama bukan di diskriminasi tanpa alasan.

Bukankah Muhammad Al Fatih merupakan sosok yang mempunyai sifat rabbani ?
Pertama, berilmu dan memiliki pengetahuan tentang al-Qur 'an dan sunnah. Kedua, mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya. Ketiga, mengajarkannya kepada masyarakat. Dan sifat keempat, yaitu mengikuti pemahaman para sahabat dan metode mereka dalam beragama. Karena sahabat merupakan kebenaran bagi umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam .

Menuju Generasi Rabbani

Mendidik masyarakat menjadi generasi rabbani merupakan tanggung jawab semua orang. Karena semua manusia memiliki tanggung jawab untuk berdakwah dan menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Hanya saja tanggung jawab ini bertingkat-tingkat, sesuai dengan tingkatan ilmu dan ketaqwaan seseorang.

Untuk bisa mewujudkan generasi rabbani seutuhnya, agenda besar ini harus dimulai dari lingkungan belajar. Dan sekolah adalah sarana belajar yang benar.

Membentuk Generasi Qur'ani

Jika ingin memiliki  generasi Qurani, generasi muda harus selalu menjadikan Alqur'an  sebagai hiasan hati dan makanan bagi hati mereka. Makanan hati adalah dzikir. Salah satu dari bentuk dzikir itu adalah Alqur'an yang juga disebut ad-Dzikru. 

Oleh sebab itu, jika ingin menjadi generasi Qurani, yang ruhnya kuat, yang kalbunya kuat, maka dekatkan hati dengan Alquran.

Seorang generasi Qurani harus menjadikan Alquran sebagai pembimbing akal pikirannya. Mereka yang senantiasa ingat kepada Allah akalnya akan dibimbing Allah kepada kebaikan. Jika pikiran sudah dibimbing Allah, pikirannya akan lurus. Akalnya akan mengagungkan dan membesarkan Allah SWT. 

Generasi Qurani adalah generasi Islam yang menjadikan aktivitas fisiknya di bawah bimbingan Alqur'an. Amalan-amalannya adalah amalan kebaikan. Dari lisan dan lidah keluar kalimat-kalimat yang baik. Kemudian, seluruh anggota tubuhnya diarahkan untuk kebaikan-kebaikan.

Perubahan Pemikiran

Mengingat kondisi generasi milenial saat ini kian memprihatinkan,  banyak yang terjerumus pergaulan bebas, miras, narkoba, putus sekolah, tawuran dan lain-lain. Hasil penerapan sistem kapitalis sekuler. Generasi yang jauh dari aturan Sang Pencipta akibat pemisahan agama dan kehidupan. Menjadi hamba dunia yang memperturutkan hawa nafsu semata demi eksistensi dan rasa bahagia. Halal haram sudah tidak lagi dipedulikan.


Karena mayoritas generasi muda sekarang ini masih bersandar pada sistem fasad. Yang akhirnya permasalahan tak akan pernah terselesaikan. Solusi tambal sulam sistem kapitalis sekuler justru menambah deretan permasalahan yang panjang.

Perlu adanya perubahan yang mendasar, yaitu perubahan pemikiran. Dari informasi yang dicerna. Termasuk bacaan yang bergizi seperti buku Muhammad Al Fatih dan deretan buku Islam lainnya. Generasi harus melek literasi. Agar tak mudah menuduh tanpa bukti.

Dukungan melek literasi pun perlu dilakukan oleh negara. Mulai dari menyediakan sarana dan prasana sebagai pendukung. Serta memastikan setiap buku yang tayang hanya berlandaskan akidah Islam. Hal ini hanya dapat dilakukan ketika syariat Islam diterapkan. Pada akhirnya akan menghasilkan generasi Rabbani berjiwa Qur’ani yang sesuai syariat Illahi Rabbi. Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Rini Sulistiawati (Pegiat Literasi)

Posting Komentar

0 Komentar