Mencari Resep Pendidikan 'Antidepresan'



Dikutip dari Mayangkaranews.com, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Budi Kusumarjaka mengatakan Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar terus mencari solusi agar pelajar dari TK sampai SMP di Kabupaten Blitar tidak stres hingga depresi dengan penerapan sistem belajar daring di tengah pandemi Covid-19.

Budi mejelaskan ada dua langkah yang dilakukan meliputi penerapan kurikulum darurat di tengah pandemi Covid-19 sehingga kompetensi dasar yang diberikan tidak sebanyak seperti penerapan kurikulum biasa.

Kedua, Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar selalu menekankan terhadap semua guru agar tidak membebankan tugas secara berlebihan agar siswa yang sudah lama tidak sekolah dan belajar di rumah tidak tertekan hingga menyebabkan stres.

Ia memastikan penerapan kurikulum darurat dengan menyesuaikan kompetensi dasar memang diperbolehkan di tengah pandemi Covid-19 ini.

Langkah antisipasi stres khususnya pada para siswa adalah penting. Sejauh mana realisasi dari langkah baik pemerintah ini terwujud, benar-benar harus dikawal.

Ada fenomena seorang siswi kelas 2 SMA di Gowa, Sulawesi Selatan, nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun hama. Diduga korban mengalami stres selama pembelajaran daring karena tugas yang banyak sementara jaringan internet di tempatnya sangat sulit. Hal ini patut kita jadikan pelajaran. 

Sudah waktunya kita menyadari bahwa ada problem serius pada dunia pendidikan kita. Diagnosa kasus di atas menunjukkan bahwa para siswa membutuhkan obat antidepresan. Karenanya, ada dua treatment yang perlu ditempuh. Pertama, reposisi pemerintah sebagai "dokter" dalam melayani hajat pendidikan bagi rakyat sebagai "pasien". 

Kedua, memberikan obat berupa "antidepresan" sesegera mungkin untuk menyelamatkan para siswa serta mencegah terjadinya lebih banyak lagi korban depresi berjatuhan. 

Untuk treatment pertama, dibutuhkan keandalan pemerintah sebagai pengurus dan pelayan kebutuhan pendidikan, khususnya di masa pandemi. Hal ini mencakup kesiapan insfrastruktur sebagai penunjang kesuksesan kegiatan belajar mengajar model online atau daring. Kesiapan itu meliputi jaringan internet, gawai, dan kuota bagi para siswa. 

Bila kita mau jujur, selama ini, kesiapan itu semua masih jauh dari kata memadai. Ditambah lagi, belum atau tidak adanya kurikulum khusus selama belajar daring yang benar-benar siap diimplementasikan. Kalaupun ada, masih didominasi bentuk "ramuan" dan belum teruji "kemanjurannya". Bahasa pasarnya, masih 'coba-coba'. Terbukti sembilan bulan berjalan, masih saja ditemukan seabreg keluhan, baik dari siswa, guru, mapun orang tua. 

Kondisi darurat semacam pandemi memang di luar desain. Namun, apabila model kurikulum dan segala problematik direspons dengan sigap, situasinya mungkin tidak akan seperti sekarang, memberatkan siswa, orang tua dan tenaga pengajar. 

Bila dicermati, kelambanan pemerintah dalam mencari dan menemukan kurikulum khusus pandemi berimbas pada kesulitan mengikuti dan menyerap materi belajar mengajar. Hal ini pun merembet pada orang tua, karena tidak semua orang tua memiliki kemampuan membersamai dan membimbing kegiatan akademik anak-anaknya di rumah. Tak jarang, adegan pertengkaran kerap menghiasi rumah ketika belajar daring. Bahkan, ada berita miris dimana seorang ibu tega menghabisi nyawa anaknya yang masih kelas 1 SD lantaran tidak bisa menangkap pelajaran sang anak ketika mendampingi belajar daring. 

KPAI menyebut sebanyak 43 persen yang mereka survei mengeluhkan soal kuota internet, dan 29 persen mengaku tidak memiliki gawai. KPAI juga menyebut para pelajar merasa jenuh dan stres selama pembelajaran daring karena para guru banyak memberi tugas. Ditambah persoalan pribadi siswa, membuat anak depresi dan nekat mengambil keputusan bunuh diri.

Semestinya, pemerintah mengambil keputusan belajar secara daring diiringi jaminan tersedianya fasilitas yang memadai untuk semua pelajar, mulai dari akses internet gratis hingga gawai. Hal ini sangat selaras dengan posisi dan peran pemerintah itu sendiri, yaitu sebagai pelaksana mandat rakyat untuk mengelola seluruh sumber daya alam dan kekayaan negara agar digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Negaralah yang berkuasa untuk itu semua. Dan bukankah pendidikan ada di salah satu mandatnya, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa? 

Patut dipertanyakan, mungkinkah kegiatan belajar secara daring terlaksana optimal bila sarana dan prasarananya tidak optimal? Lihat saja, berbagai berita tentang anak-anak sekolah yang harus menempuh medan terjal, berliku, menanjak bukit, melintasi jembatan ekstrem, beratus-ratus meter demi mencapai lokasi belajar. Atau berita miris para siswa pejuang sinyal hingga bertemu ajal karena terpeleset atau terjatuh dari ketinggian. 

Belum lagi perjuangan dramatis orang tua dan siswa untuk mendapatkan gawai. Tak sedikit yang rela berkorban kehormatan bahkan nyawa demi gawai dan kuota. Semua demi bisa mengikuti kegiatan belajar daring. Tidakkah berbagai berita ini membuat pemerintah malu? Di manakah peran negara dengan segenap powernya yang telah diamanatkan oleh undang-undang? 

Sementara itu, untuk treatment kedua, yaitu pemberian 'antidepresan' sesegera mungkin. Hal ini mengingat stres dan bunuh diri adalah penyakit mental berbahaya yang harus segera diobati. Depresi hingga tindakan bunuh diri terjadi karena akumulasi persoalan. Depresi di tingkat remaja tidak boleh dianggap remeh karena sudah plug in dengan persoalan remaja, selain terkoneksi dengan persoalan daring ataupun asmara. 

Pengobatan dengan memberikan antidepresan dilakukan dengan terapi mindset, mengubah paradigma, memberikan hakikat yang benar tentang belajar dan menuntut ilmu yang baik. Semua itu meniscayakan sentuhan spiritual. Di sinilah letak permasalahannya. Sistem pendidikan hari ini lebih mengarah kepada sekularisme, mengabaikan agama sebagai landasan kehidupan, termasuk dalam ranah pendidikan. Agama hanya dijadikan embel-embel, bukan menjadi inti sari atau way of life. Mata pelajaran agama pun perlahan-lahan direduksi muatannya karena dituding memicu tindak radikalisme dan kekerasan dengan bumbu terorisme. 

Mari kita cermati betapa mudah mendapati bukti bahwa kurikulum pendidikan hanya mencetak siswa prestatif secara akademik, tapi tekor secara karakter. Mereka banyak mengorientasikan hidupnya pada kesuksesan pendidikan, karir, bisnis, dan  mengejar kepuasan materi (hedonisme). 

Inilah produk nyata yang membanjiri dunia pendidikan kita hari ini. Sekuler dan kapitalistik. Manusia-manusia yang bergelimang teknologi, kemegahan infrastruktur, dan kemajuan industri,  tetapi hampa maknawi. Dalam situasi sempit dan guncangan persoalan, mereka mudah roboh karena kapitalisme sekuler tidak membangun SDM yang bermental kokoh. 

Di sinilah pentingnya belajar sejarah.  Ketika itu, ada suatu masa di mana bangsa yang sebelumnya diliputi kejahiliyahan akut mampu bertransformasi menjadi bangsa beradab yang disegani baik oleh kawan maupun lawan. Dialah bangsa Arab, yang ketika istilah ini dinisbatkan kepadanya, maka akan mengacu kepada Bangsa Muslim atau Kaum Muslimin. Mereka tinggal di beberapa negeri yang berkhidmat pada satu negara yaitu Daulah Khilafah Islamiyah. 

Dengan memahami Islam dalam kehidupan, mampu menempatkan bangsa Arab pada bargaining position yang tinggi. Sebagaimana dahulu Rasulullah Saw. menempuh strategi jitu dan masih sangat relevan untuk kita jadikan teladan di era sekarang. Di antaranya, menyiapkan manusianya atau membangun SDM berkualitas terlebih dahulu sebelum membangun infrastruktur negara. SDM dibangun di atas fondasi akidah Islam yang kuat. Akidah ini akan melahirkan pribadi-pribadi bermental kuat yang siap menghadapi persoalan kehidupan dan mampu memberi solusi hingga ke akar. 

Kesahihan metode Islam dalam mencetak pribadi generasi mumpuni patut kita adopsi. Selain implementasinya relevan di mana saja dan sepanjang masa, juga karena Islam sangat selaras dengan hakikat penciptaan manusia, yaitu membentuk hamba yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Keimanan dan ketakwaan itulah pencegah depresi terbaik sepanjang sejarah kehidupan manusia. 

Ada sebuah pelajaran dari negeri ginseng yang patut kita renungkan. Korea adalah negeri yang sangat menawan, tetapi paling depresif di dunia. Angka depresi Korea menjadi juara dunia akibat style hidup kompetitif materialis yang diciptakan sekularisme kapitalistik. 

Seorang mualaf asal Korea, Daud Kim dalam video yang diunggah di akun youtubenya beberapa waktu lalu memaparkan bahwa orang Korea sangat terobsesi dengan kompetisi misalkan dalam hal karier atau pendidikan. Muallaf ini mengaku menemukan Islam sebagai penyelamat dari tekanan obsesi yang ia alami. Dan menurutnya, Islam sangat dibutuhkan masyarakat Korea karena ajaran Islam tidak mengandung materialisme dan kapitalisme. 

Islam tidak mengajarkan sikap hedonis, tetapi qona'ah, hidup sederhana dan merasa cukup dengan pemberian Allah. Bagi seorang Muslim, kompetisi itu hanya berlaku dalam hal takwa. Di sanalah posisi seorang hamba diperhitungkan di hadapan Allah tanpa melihat strata ekonomi, sosial, rasa maupun etnisnya. 

Oleh karenanya, kembali pada persoalan pendidikan yang menggunung tadi, sudah semestinya negeri mayoritas Muslim ini mengadopsi Islam sebagai jalan keluar dari lilitan problem pendidikan dan segala aspek kehidupan. Akidah Islam mampu menutrisi mental generasi agar sehat sehingga mampu meraih kebahagiaan yang hakiki, yaitu keridhaan Allah SWT. Dengan ridha Allah, InsyaAllah negeri ini pun akan diberkahi. Bukankah itu yang kita harapkan? Mari kita hayati Firman Allah SWT: 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96).[]


Oleh: Pipit Agustin, S. Pt (Koordinator JEJAK)

Posting Komentar

0 Komentar