TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mahasiswa, Agent of Changes



Peran mahasiswa sebagai agent of change sangat luas kajiannya, yaitu bisa agen perubahan dalam pendidikan, pembangunan ekonomi, pemberdayaan sosial, pengabdian masyarakat, dan masih banyak lagi. Jika dilihat lagi mahasiswa pada zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan sangat jauh perbedaannya, selain sudah berbeda situasinya yang dahulunya melawan bangsa orang lain sedangkan sekarang melawan bangsa sendiri. Jadi peran mahasiswa disini adalah menanamkan dasar atau pondasi sebelum menjadi Agent of Change yaitu dengan rasa kebersyukuran. Untuk negara mahasiswa sebagai Social Control harus mampu bersikap kritis terhadap apa yang terjadi di pemerintahan, kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh aparat negara yang semula ingin mensejahterakan rakyat malah semakin menyengsarakan rakyat. 

“Apalagi para yang namanya mahasiswa belajar tak hanya di ruang kuliah yang terbatas tembok, ruang kuliah sesungguhnya para mahasiswa adalah lingkungan masyarakat itu sendiri. Mengikuti aksi demontrasi adalah bagian dari laboratorium sosial mahasiswa sebagai agen perubahan. Menjauhkan mahasiswa dari rakyat, sama saja menjauhkan ikan dari laut,” kata Satriawan Salim selaku Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G).

Salim berpendapat, kampus merupakan tempat untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki peran sebagai intelektual organik. Jika mahasiswa memiliki intelektual yang satu nafas dengan rakyat, betul-betul dapat merasakan apa yang dirasakan oleh para buruh, masyarakat ada, aktifitas lingkungan dan lainnya, yang merasa dirugikan. Sebagai contohnya adalah UU Ciptaker yang tidak beberapa lama sudah disahkan oleh DPR (pikiranrakyat tasikmalaya.com, 11/10/2020).  

Kemendikbud mengeluarkan surat edaran melarang mahasiswa melakukan demontrasi menolak UU Omnibus Law Ciptaker, termuat dalam surat nomor 1035/E/KM/2020 yaitu “Tidak memprovokasi mahasiswa untuk mengikuti/mengadakan kegiatan demontrasi/unjuk rasa/penyampaian aspirasi yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan para mahasiswa/mahasiswi (pikiranrakyat. tasikmalaya.com, 11/10/2020)

Demontrasi mahasiswa yang terkait dengan menolak UU Ciptaker diduga bersponsor, diancam nilai akademis hingga kehilangan kesempatan kerja. Akibatnya hal tersebut menunjukkan ketiadaan independensi mahasiswa dalam menyuarakan perubahan bangsa dan menjelaskan bahwa dalam sistem kapitalis sekuler intelektual muda (mahasiswa) dikerdilkan potensinya yaitu memikirkan kemaslahatan pribadinya. Dan gerakan perubahannya dimandulkan sekedar memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan, tidak sampai menghantar pada perubahan mendasar.   

Bagaimana sistem Islam menata peran pemuda (mahasiswa)

Untuk membentuk seorang muslim atau generasi muda (mahasiswa) menjadi agent of change, setiap mahasiswa harus menyadari akan kewajiban amar makruf nahi mungkar (dakwah) karena hal tersebut adalah kunci penyelamatan umat Islam dan tragedi kemanusiaan. 
Setiap muslim atau mahasiswa wajib terlibat dalam perubahan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dan ini adalah perintah Allah untuk tegaknya peradaban mulia. Setiap muslim atau mahasiswa harus paham bahwa kewajiban dakwah sama dengan kewajiban sholat, shaum, zakat, haji dan sebagainya. Apalagi di tengah upaya kriminalisasi dakwah Islam. Rasullullah saw bersabda :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ 
Artinya: "Jika di antara kamu melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu, dan jika kamu tidak cukup kuat untuk melakukannya, maka gunakanlah lisan, namun jika kamu masih tidak cukup kuat, maka ingkarilah dengan hatimu karena itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR Muslim).

Muslim atau mahasiswa harus peka terhadap persoalan umat. Wajib punya kepedulian dan tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan mereka. Hari ini umat diatur oleh penguasa zalim yang menerapkan aturan kufur. Selama umat dalam cengkeraman mereka dan system kapitalis sekular, maka penderitaan umat tidak akan pernah usai. 

Apalagi penguasa zalim juga kebanyakan dari kalangan muslim. Mereka juga menjadi sasaran dakwah. Mereka wajib dinasehati, dikoreksi kebijakannyayang menyalahi aturan Islam. Kepedulian kita terhadap urusan pengaturan umat hari ini adalah bagian dari kewajiban untuk menyelamatkan mereka. Tidak berdakwah untuk menghilangkan kezaliman di tengah umat akan mengundang musibah dan murka Allah.

Jadilah muslim atau mahasiswa yang berambisi menerapkan hukum Allah dimuka bumi. Syariat Islam telah diterapkan semasa Rasulullah saw. Dilanjutkan oleh kepemimpinan para khalifah pengganti Rasulullah. Hal ini telah membawa kebaikan di sepanjang masa. Tak sulit menemukan gambaran akhlak muslim, keadilan penguasa, ketentraman, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat serta kemuliaan umat.

Allah Swt sebagai pembuat hukum menyatakan dengan jelas bahwa Rasulullah saw diutus sebagai rahmatan lil alamin. Setiap hukumnya memberikan solusi persoalan manusia. Dimana hukum syariah diterapkan, disana ada kebaikan. 

Menyelamatkan umat, mengembalikan identitas hakiki mereka dan menempatkan pemimpin muslim sebagai penguasa bumi dengan cara mengganti system kapitalis sekular demokrasi liberal bukan tugas orang perorang. Ia adalah tugas bersama umat, tugas kelompok umat. Kelompok ini wajib ada berdasarkan perintah Allah Swt QS Ali Imrom [3] : 104
وَلۡتَكُنۡ مِّنۡكُمۡ اُمَّةٌ يَّدۡعُوۡنَ اِلَى الۡخَيۡرِ وَيَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ‌ؕ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ‏
Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Kelompok dakwah yang dibentuk Rasulullah Saw beserta aktivitasnya menjadi contoh riil upaya penerapan syariah Islam Kaffah. Kelompok dakwah sekarang mesti mengambil contoh dan menapaki jalan yang sama serta cara yang sama. Rasulullah tidak bekerja sendiri. Beliau mengajak yang lain untuk mendakwahkan Islam hingga akhirnya menegakkan Daulah Islam di Madinah. Sebab itu untuk menyelamatkan umat hendaknya bekerja dengan kelompok dakwah yang menyeru umat untuk menuntut menerapkan Islam.
  
Perjuangan Islam demi penyelamatan umat menuntut adanya kesadaran akan kewajiban dakwah amar makruf nahi mungkar. Langkah ini bukan saja mendakwahkan hokum-hukum Islam, tetapi mengubah tatanan kehidupan dan melepaskan umat dari cengkeraman kedzaliman penguasa.

Jalan perjuangan ini tidak sanggup dilewati sendiri, tetapi wajib bersama dengan kelompok yang menetapkan tujuan dan langkah yang sama.

Jalan ini penuh liku dan yang sanggup melintasinya adalah muslim atau mahasiswa yang serius dan sungguh-sungguh mengabdikan dirinya, tenaga, pikiran, waktu dan hartanya untuk mengabdikan untuk mengabdi pada sang Khalik. Muslim yang ikhlas dan berani, sabar menerima ujian. Muslim yang istiqomah bekerja berdasarkan pada dalil syariat, yang hatinya terpaut dan jiwanya bergantung pada satu-satunya tempat bergantung, yaitu Allah Swt. Mereka adalah yang mengimani bahwa surga itu tidak murah, mesti ditebus dengan sesuatu yang berharga.  

Wallahua’lam Bishshawab.[]


Oleh: Dewi Rahayu Cahyaningrum
Komunitas Muslimah Rindu Jannah Jember

Posting Komentar

0 Komentar