LBH Pelita Umat: Gus Nur Ditangkap, Penyidik Dinilai Arogan dan Tak Punya Empati

Foto: tangkapam layar konferensi pers LBH Pelita Umat di YouTube


Tintasiyasi.com-- Penangkapan Ustaz Sugi Nur Raharja alias Gus Nur dini hari (24/10/2020) oleh penyidik Ditsiber Mabes Polri dinilai arogan dan tidak punya empati di musim pandemi.

"Bahwa tindakan penyidik yang demikian dikhawatirkan dinilai sebagai tindakan yang arogan, tidak empati di musim pandemi, karenanya kami sangat menyayangkan sekaligus mempersoalkan komitmen Polri dalam melakukan tindakan hukum di musim pandemi. Bangsa ini sedang dilanda musibah, tapi kondisi itu tidak membuat Polri bertindak arif dan bijak dalam menjalankan tugas menangani perkara," tutur Panca Putra Kurniawan, S.H., M.Si., Sekretaris Jendral (Sekjen) LBH Pelita Umat, dalam konferensi pers LBH Pelita Umat sebagai kuasa hukum Gus Nur di Youtube LBH Pelita Umat, Sabtu (24/10/2020) . 

Menurut Ketua LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan, S.H., M.H., pada waktu Ustaz Gus Nur ditangkap belum diketahui status sebagai tersangka, hal ini berdasarkan surat yang diberikan aparat kepolisian yang melakukan penangkapan hanya memberikan Surat Penangkapan dan Surat Tanda Terima Barang Bukti.

"Bahwa Ustaz Gus Nur ditangkap tanpa proses pemeriksaan awal dan baru diperiksa dan diambil keterangan setelah ditangkap dan dibawa ke Mabes Polri," tegas Chandra.

Ia menyayangkan, semestinya tindakan penangkapan hanya dapat dilakukan apabila tersangka tidak hadir tanpa alasan yang patut dan wajar setelah dipanggil dua kali berturut-turut oleh penyidik. 

"Prosedur penangkapan seharusnya mengacu pada pasal 112 ayat 2 Jo pasal 227 ayat 1 KUHAP. Penyidik sebelum melakukan penangkapan, harus memanggil seseorang dengan patut sebagaimana dalam pasal 112 ayat 2 KUHAP," tegasnya.

Ia berharap, semestinya dalam hal ini tidak dapat dengan serta merta dikenai upaya paksa berupa penangkapan, karena ada syarat-syarat tertentu yang diatur Perkap No. 14 Tahun 2012," tandasnya.

Ia membeberkan, pasal 36 ayat (1) menyatakan tindakan penangkapan terhadap seorang tersangka hanya dapat dilakukan berdasarkan dua pertimbangan yang bersifat kumulatif (bukan alternatif).

Dua pertimbangan yang bersifat kumulatif tersebut adalah, pertama, adanya bukti permulaan yang cukup yaitu laporan polisi didukung dengan satu alat bukti yang sah dengan turut memperhatikan ketentuan Pasal 185 ayat (3), Pasal 188 ayat (3) dan Pasal 189 ayat (1) KUHAP. Kedua, tersangka telah dipanggil dua kali berturut-turut tidak hadir tanpa alasan yang patut dan wajar.

"Sedangkan Ustaz Gus Nur, belum pernah dipanggil secara patut dan wajar, tetapi langsung ditangkap dan baru diperiksa serta diambil keterangan setelah ditangkap," pungkasnya.[] Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar