TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kreativitas Semu Ala Korean Wave



Manusia Allah bekali dengan berbagai kelebihan yang ada pada dirinya. Akal, naluri serta kebutuhan jasmani turut serta di dalamnya. Dari sinilah muatan persoalan akhirnya muncul silih berganti. Tentunya semua itu harus didasari oleh penggunaan akal, sebagai pembeda nyata. Agar persoalan yang muncul dapat diatasi dengan baik.

Termasuk pula dengan nuansa kata kreatif, tentunya akan sangat kental hubungannya dengan penggunakan potensi manusia berupa akal tadi. Layaknya pernyataan dari salah seorang pejabat negeri terkait dengan kreativitas para remaja.

"Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri," kata Ma'ruf Amin dalam keterangannya untuk peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea di Indonesia, Ahad (20/9/2020).

Dari pernyataan beliau di atas, tampaknya ada potensi yang luar biasa untuk diupayakan para remaja negeri agar mampu meniru dan mencontoh gaya kreativitas Korean wave tersebut. Karena pada faktanya K-Pop telah mampu merambah ke seluruh negeri bahkan dunia. Tak jarang life style dunia akhirnya condong kepada mereka.
Tak bisa dipungkiri juga, remaja Indonesia kini menjadi penikmat dari K-Pop terbanyak bahkan gaya hidupnya turut ditiru. 

Hal tersebut tentunya mengambil peran banyak pada remaja. Tak hanya gaya hidup, rupanya pola pikir serta tingkah laku turut menyamai idola mereka tersebut. Dalih kebebasan tentunya erat di dalam pikiran mereka hingga aturan yang ada di tabrak lari. Mengindahkan seluruh aturan yang ada dan berbuat sekehendak mereka.

Itulah gambaran yang terjadi pada generasi negeri. Mereka sudah terhipnotis akan adegan dunia yang begitu mempesona. Tolak ukur yang dipakai pun bukan lagi dari sisi pandangan agama, namun pada idola mereka.

Tampaknya Korean wave telah berhasil menggaet para remaja alias generasi penerus untuk masuk pada dunia mereka. Korean Wave yang berupa industri hiburan, mendorong kepada para penikmat untuk cenderung pada titik kronis. Titik kronis yang dimaksud adalah sampai pada mengikuti 'style' ala-ala mereka. Tentunya pelaku hiburan sangat apik membungkusnya hingga membius para penikmat agar turut andil di dalamnya, mengikuti sisi budaya dan adat istiadat mereka. 

Sisi generasi muda menjadi bidikan utama mereka, karena padanya sisi labil masih amat kental. Ditambah lagi dengan ajang pencarian jati diri hingga membuat mereka terbuai akan sensasi hidangan yang ada di depan mata mereka. Sebut saja, mereka rela mati hanya demi sang idola. Tentunya sikap seperti itu jauh dari pengaruh positif,  yang ada nuansa negatif yang tergambar. Kemudian membuat krisis identitas di kalangan remaja atau generasi penerus. Hal inilah yang harusnya menjadi pemikiran serius.

Siapa yang mendapatkan manisnya?

Negara Korea Selatan mempunyai visi untuk memajukan negaranya. Terbukti konsennya mereka untuk mengembangkan sisi dunia hiburan sebagai penyokong ekonomi mereka. Tampak oleh kita bahwa apa yang mereka inginkan telah terwujud, 95% remaja di dunia berkiblat pada mereka. Sisi kesenangan jasmani tentunya kental kaitannya, karena itulah yang disukai para remaja.
 
Tergambar jelas oleh kita bahwa Korean wave tersebut secara kasat mata membawa negaranya menjadi 'maju' dan terkenal. Namun tentunya ada sisi gelap di balik itu, identitas para remaja telah hilang hingga akhirnya harus mengikuti mereka. Nuansa seorang Muslim ambyar dimakan oleh sisi Korean wave tersebut. Mereka tampak hidup di dunia hayalan dengan mengutamakan paras menawannya. Hingga mereka melupakan dunia nyata yang seharusnya dijalani dengan penuh semangat serta aktivitas yang mampu menambah rasa dalam diri. Yang ada hanyalah sikap dan pola pikir yang harus meniru pada idola mereka. 

Sisi kecantikan, pergaulan, pakaian, bahkan sampai mabuk pun mereka lakukan. Tentunya semua itu demi merasa 'sama' seperti idola mereka. Alih-alih mereka mau memikirkan masalah yang menggelayuti negeri ini, yang penting kesenangan bisa didapatkan. Ditambah lagi sikap individualisme serta egoisme yang tumbuh, makin memperparah kondisi mereka. Hingga akhirnya mereka tak mampu berbuat apa-apa untuk negeri ini. Jadi, tak masuk akal jika ada segelintir pihak yang menganggap Korean wave berpengaruh positif. Tentunya bisa kita lihat, yang diuntungkan jelas para pelaku K-Pop karena pundi-pundi emas terus mengalir kepada mereka. Dan bagi penikmat hanya bisa menjadi pembebek serta peniru life style mereka.

Generasi penerus menuju arah mana?

Sistem kehidupan sekarang membuat generasi menjadi jauh dari Islam. Sekularisme yang memisahkan antara agama dengan kehidupan jelas tidak bisa mengayomi kebutuhan dasar manusia. Yaitu dari sisi spiritual, rasa sayang serta kebutuhan jasmani untuk bertahan hidup. Sebutan yang pas adalah sistem ini tak mampu membawa kehidupan manusia menuju pada kodrat sejatinya. Mulianya manusia tak bisa ditunjukkan oleh sistem ini. Yang lebih mirisnya, sifat kebinatangan yang akhirnya mendominasi. Diingatkan melalui firman Allah Swt.

"Orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan demi siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan." (QS. An-Nahl 16: Ayat 88)

Kerusakan yang muncul dari berbagai hidangan dari kapitalisme seperti Bollywood, Hollywood dan Korean wave berikut konco-konconya adalah menjadi bukti nyata bagi kita. Mereka sengaja menggiring generasi untuk silau akan kemegahan dunia yang bersifat fatamorgana belaka dan lupa akan tugas mulia mereka sebagai generasi penerus. Yang terjadi tentunya pembebek belaka. Artinya, menjadi salah besar jika berbagai hidangan dari sistem ini menjadi acuan bagi generasi untuk menimbulkan rasa kreatif. 

Sejatinya, jauh sebelum ada K-Pop generasi kreatif itu telah ada dan muncul. Tentunya lahir dari negara super power yang belum bisa tertandingi.

Salah satunya adalah al-Khawarizmi dan Ibnu Sina yang mampu menciptakan sebuah inovasi yang brilian kala itu. Mereka lahir dari sebuah sitem yang mampu membawa manusia berada pada martabat yang sebenarnya. Ialah sistem yang mampu menerapkan secara sempurna dan menyeluruh syariat dari Sang Pencipta dalam kehidupan di dunia ini yaitu Khilafah Islamiyah.

Semua orang didorong untuk melakukan kreativitas agar mampu membawa kemaslahatan bagi umat. Dengan begitu akhirnya generasi muda terpacu untuk berbuat sesuatu yang pastinya akan sangat bermanfaat untuk masyarakat. Keimanan yang menghujam dalam dada-dada mereka tentunya menjadi pondasi utama untuk melakukan segala sesuatu. Baik buruk serta halal haram terhadap sesuatu selalu disandarkan pada hukum syara semata, bukan yang lain. Hingga akhirnya mereka mempunyai corak khas tersendiri. Terlihat jelas dari pola pikir dan sikap yang akhirnya tergambar pada diri mereka. Itulah sejatinya yang mesti digalakkan pada generasi sekarang. Tak hanya menjadi pembebek namun mampu menjadi penggerak bagi yang lain, utamanya agar Islam mampu berjaya. 

Jadi, generasi sekarang harus mampu menampilkan jati diri sesungguhnya. Bahwa ia adalah seorang hamba yang harus taat serta patuh terhadap perintahnya Allah Swt. Harus mampu menggambarkan sikap dan perilaku yang menunjukkan jati diri mereka tersebut. Tunjukkan bahwa aku seorang Muslim yang taat serta mampu membawa kemajuan negeri. 

Islam dijadikan life style global serta mampu membawa generasi muda bahkan seluruh manusia untuk keluar dari sistem rusak ini. Karena hanya Islam yang mampu dan telah teruji untuk mewujudkan kehidupan manusia yang sesuai dengan tabiat manusia sampai kata rahmatan lil alamin tak hanya sebatas jargon atau kata-kata semata. Ditambah lagi dengan kreativitas sejati bukan semu yang akhirnya mencuat pada diri-diri mereka. Wallahu a'lam bishshawaab.[]

Oleh: Mulyaningsih 
(Ibu Rumah Tangga dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Posting Komentar

0 Komentar