TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Komunisme dan Kapitalisme Berbahaya, Saatnya Islam Berjaya!



Akhir-akhir ini isu kebangkitan Neo komunisme kian santer terdengar. Terlebih di bulan September dan Oktober. Berdasarkan
Survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebutkan, sebanyak 14 persen dari total populasi Indonesia setuju bahwa saat ini terjadi kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). SMRC mengatakan, jumlah tersebut tidak banyak berubah sejak tahun 2016 lalu. (Republika co.id 30/9/2020).

Terlepas sedikit atau banyak kepercayaan rakyat terhadap kebangkitan partai komunisme. Ada beberapa catatan penting yang butuh disikapi. Diantaranya,

Pertama: Sosialisme-Komunisnme faham bathil (salah) dan berbahaya.

Sosialisme dan komunisme dengan ide dasar tidak mempercayai adanya tuhan,  meniscayakan satu pemikiran yang tidak sesuai fitrah manusia. Dimana secara alami manusia memiliki potensi naluri tadayun (naluri beragama atau pentakdisan). Sedang faham Sosialisme-Komunisme memandang agama sebagai candu, yang harus dijauhi. 

Begitupun secara akal faham Sosialisme-Komunisme bertentangan dengan akal sehat. Betapa faham ini memandang bahwa asal mulai segala sesuatu adalah materi. Tentu ini bertentangan dengan akal sehat manusia. Bahwa materi adalah makhluk. Yang secara akal sehat makhluk pasti ada sang penciptanya. 

Begitu pun dari sisi metode perubahan dan penyebaran faham ini cenderung menggunakan propaganda hitam entah dengan memfitnah lawan pemikiran atau bahkan tak segan menggunakan cara revolusioner "berdarah". Dari poin ketiga ini tentu negeri Indonesia tidak bisa lepas begitu saja dari peristiwa sejarah pemberontakan PKI di Madiun dan G/30S/PKI.

Namun, jarang pembahasan dari aspek kebathilan pemikiran (mendasar/ akidah) yang dibahas. Padahal hal ini sangat penting guna melindungi pemikiran umat dari ide bathil. Yang bisa jadi tanpa sadar justru pemikiran ini yang menggejala. Sehingga menumbuhkan jiwa anti agama (Islam khususnya).

Padahal kondisi ini sangat berbahaya bagi umat. Terlebih buku-buku pemikiran tersebut masih dijual bebas. Karenanya tak cukup hanya dengan waspada kebangkitan PKI saja, tapi abai dengan pemikiran dasar Sosialisme-Komunisme juga masih merdeka tersebar bahkan masuk ke dalam kurikulum pendidikan semisal. Teori evolusi. Dan hukum kekekalan energi. Yang tentu bertentangan dengan akidah Islam. 

Kedua: Kapitalisme Bathil (Salah) dan berbahaya

Patut menjadi perhatian juga bercokolnya ide kapitalisme-sekulerisme yang selama kurang lebih sejak Indonesia menyatakan kemerdekaan ini. Dan efek kerusakan ide ini telah menjadi problem akut bangsa di segala lini kehidupan. 

Bagaimana kesejahteraan rakyat terbengkalai. SDA Indonesia dikeruk atas nama Investasi. Terjebak dengan hutang yang tiada kelar. Kualitas pendidikan dan generasi yang semakin memprihatinkan. Dengan biaya yang tak bisa ditekan. 

Belum lagi kesehatan terlebih di masa Pandemi, nyawa umat tak lebih berarti dibandingkan pelaksanaan pilkada. Kondisi sosial kian memprihatinkan. Angka perceraian menggunung. 

Apalagi terkait jaminan keamanan sudah sangat langka ditemukan. Bahkan, keamanan dan oenjagi akidah umat Islam kian memilukan. Penghinaan terhadap kemuliaan Ulama dan tempat ibadah kian tak terhiraukan.

Inilah efek Kapitalisme demokrasi yang menjadikan orientasi kekuasaan sebagai tujuan. Rakyat hanya sebagai pemanis untuk menutupi racun demokrasi. Katanya kedaulatan di tangan rakyat. Namun, ketika rakyat beraspirasi. Tak akan didengar ketika bertentangan dengan pihak penguasa.

Mungkin secara fisik faham Kapitalisme seakan tak segarang Sosialisme-Komunisme. Namun, hakikatnya sama saja. Metode penyebarannya adalah lewat penjajahan. Namun, untuk saat ini dengan gaya baru penjajahannya. 

Ketiga: Saatnya Kebangkitan dengan Islam

Tidak bisa kita pungkiri Sosialisme-Komunisnme berbahaya bagi umat manusia. Karena memang dari asasnya bertentangan dari fitrah dan akal sehat. Maka tak heran jika kesempitan demi kesempitan hidup umat manusia terjadi di belahan dunia. Bahkan umat di negeri mayoritas pun tak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi kemuliaan Islam dan umatnya. 

Mengenal kebangkitan dengan Islam. Berarti kebangkitan berfikir. Berfikir dari hal yang rendah (pikiran hidup untuk dunia) berubah menjadi cara berfikir untuk akhirat, agar diridhai Allah. 

Dengan kebangkitan berfikir mendasar itulah. Umat lebih yakin dan tercerahkan untuk mengambil peran dalam perubahan. Yaitu perubahan dari sistem Kapitalisme-sekulerisme menjadi sistem Islam yang dirindukan kerahmatannya. Sebagaimana dalam Qs. Al-A'raf : 96

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ 

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." Allahu a'lam bi shawab.[]

Oleh: Yuyun Rumiwati


Posting Komentar

0 Komentar