Kisah Rangga Bukti Demokrasi Gagal Melindungi Keamanan dan Jiwa Manusia





Rangga  (10 tahun), bocah kecil dari Aceh menjadi viral lantaran aksi kepahlawannya untuk membela kehormatan ibunya yang akan dinodai oleh seorang   mantan warga binaan yang beberapa waktu lalu dibebaskan secara bersyarat dari program asimilasi dan integrasi tahanan negara yang bernama Samsul Bahri (40 tahun).

Seperti yang diberitakan oleh TribunJabar.id yang dilansir dari Serambinews.com, pada malam Sabtu (10/10/2020), Rangga terbangun dan melihat ibunya akan diperkosa, lalu Rangga berteriak dan mencoba melindungi ibunya. 

Namun naas, pelaku dengan keji menebaskan parang ke leher Rangga dan menusuk dada dan pundak sebelah kiri masing- masing sebanyak satu kali. Bocah malang tersebut meninggal seketika, dan jasadnya dibuang ke sungai. Tak hanya itu, pelaku pemerkosa, Samsul Bahri juga mencekik leher dan membenturkan kepala ibunya ke rabat beton yang berjarak 50 meter dari rumah korban. 

Aksi keji juga terjadi beberapa tahun yang lalu yang menimpa Yuyun, siswa SMP 5 Satu Atap Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejanglebong Bengkulu, yang menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan keji oleh 14 pemuda pada tanggal 2 April 2016. 

Begitu juga seperti yang diberitakan di Kompas.com seorang bocah berinitial NP yang berusia lima tahun  diperkosa dan dibunuh oleh dua kakak angkatnya di Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 22/9/2019. Dan masih banyak lagi kasus kriminal yang seolah tiada habis kasus pembunuhan disertai perkosaan. 

Padahal perangkat hukum sudah dibuat untuk memberikan efek jera bagi pelaku.
Menurut pendapat para ahli seperti yang di muat di kompasiana.com ada banyak faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan kejahatan pemerkosaan disertai pembunuhan  yang keji. 

Di antaranya besarnya nafsu seseorang untuk melakukan pemerkosaan, ingin menguasai harta, melampiaskan amarah kepada korban karena perasaannya ditolak korban. Juga adanya kesempatan untuk melakukan kejahatan, faktor pergaulan yang sangat bebas. Selain memang adanya bekal ilmu agama yang sangat kurang pada si pelaku kejahatan.

Sedangkan faktor utama dari penyebab maraknya kejahatan adalah diterapkannya sistem sekuler di negeri ini. Dari sistem yang lahir dari ulah tangan manusia ini, akhirnya melahirkan  banyak problem kehidupan. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ 

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia." (QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)

Islam sebagai sebuah sistem mempunyai tatanan kehidupan yang mampu menjaga kelestarian masyarakat islam. Syariat islam telah menetapkan tujuan-tujuan luhur yang dilekatkan pada hukum-hukumnya. 

Adapun tujuan luhur yang hendak dijaga tersebut meliputi pemeliharaan atas keturunan, pemeliharaan atas akal, pemeliharaan atas kemuliaan/kehormatan, pemeliharaan atas jiwa, pemeliharan atas harta, pemeliharan atas agama, pemeliharaaan atas keamaanan dan pemeliharaan atas negara. 
 
Selain itu, jaminan rasa aman sangat diperhatikan di dalam islam. Karena keamanan merupakan salah satu kebutuhan hidup yang mendasar bagi manusia. Seorang tidak akan dapat hidup secara normal di dalam suasana yang penuh ancaman terhadap harta dan kehidupannya. 

Itulah sebabnya islam telah menetapkan beberapa hukum untuk menghentikan siapa saja yang berpikir untuk mengganggu keamanan berbagai wilayah di dalam negara. Dalam hal ini, islam telah menetapkan peraturan tentang had qaththa’ ath-thuruq (hukuman bagi para pembegal) yang berupa memotong tangan dan kakinya secara bersilangan, mengasingkan, membunuhnya atau menyalibnya. 

Sedangkan hukuman kepada pelaku pemerkosaan menurut Abdurrahman al-Maliky di dalam Nidzam al Uqubat menuliskan bahwa pelaku pelecehan atau pencabulan bila tidak sampai memperkosa korbannya maka akan dikenakan sanksi penjara 3 tahun, ditambah jilid dan pengusiran. 

Tapi bila memperkosa maka pelakunya dijilid 100 kali jika ghayru mukhsan dan dirajam hingga mati jika pelakunya mukhsan. Jika disertai kekerasan, maka atas tindakan kekerasan itu dijatuhkan sanksi sesuai hukum syara’.

Kemudian pemeliharaan atas jiwa manusia, islam telah menetapkan sanksi atas pembunuhan, terhadap siapa saja yang membunuh seseorang tanpa alasan yang benar. 

Hikmah dari perkara ini adalah menjaga kelestarian hidup manusia. Seperti yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

وَ لَـكُمْ فِى الْقِصَا صِ حَيٰوةٌ يّٰۤـاُولِى الْاَ لْبَا بِ لَعَلَّکُمْ تَتَّقُوْنَ

"Dan dalam qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 179)

Dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang beriman. Adapun sanksi (uqubat) dalam islam berfungsi sebagai pencegah ( zawajir) dan penebus ( jawabir). 

Disebut “pencegah” karena sanksi yang diberikan akan mencegah orang-orang untuk melakukan dosa dan kriminal. Dikatakan sebagai “penebus” karena sanksi yang dijatuhkan akan menggugurkan dosanya di akhirat. 

Dalil mengenai hal ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang diterima dari Ubadah bin Shamit yang menyatakan :

“Suatu ketika kami bersama Rasulullah dalam sebuah majelis. Rasul kemudian bersabda: ”Baiatlah aku dalam hal yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, berzina....”. 

Beliau kemudian membaca : “Barang siapa diantara kalian yang menepati janjinya pahala ada di sisi Allah. Barang siapa melanggarnya maka ia akan diberi sanksi sebagai penebus (kaffarat) baginya. Barang siapa yang melanggarnnya namun ditutupi oleh Allah maka jika Allah menghendaki, maka Dia akan mengampuni. Jika Ia menghendaki  maka Dia akan mengazhabnya."

Demikianlah sanksi yang dijatuhkan oleh negara kepada pelaku dosa kejahatan, merupakan metode praktis untuk melaksanakan perintah Allah. Dan ini juga berfungsi mencegah maraknya kasus  kriminalitas . Dan tentu saja semua ini harus negara yang menerapkan yaitu negara dalam sistem khilafah ala minhajinnubuwwah. Wallahu'alam bishshowab.[]


Oleh: Asih Fatimah Ummu Himmah

Posting Komentar

0 Komentar