TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Khilafah Sunnah Nabi dan Khulafaur Rasyidin yang Terlupakan



Dalam penggalan hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah beliau bersabda: 
" ...Aku telah tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa. Barangsiapa di antara kalian hidup, maka ia akan melihat banyaknya perselisihan. Maka kalian wajib berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku, dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham." (HR. Ibnu Majah)


Pengertian Sunnah

Sunnah adalah sumber hukum kedua bagi umat Islam setelah al-Qur'an. Makna sunnah bersinonim dengan hadits. Kata sunnah dipakai oleh ahli ushul (ushul fiqh) untuk menyatakan sumber hukum yang kedua ini. Sedangkan kata hadits dipakai oleh ahli hadits yang sama-sama bermakna segala sesuatu yang diperbuat (fi'li), dikatakan (qauli) dan disetujui (taqriri) oleh Rasulullah Saw.

Sedangkan pengertian sunnah dalam ilmu fiqh bersinonim dengan kata mandub atau nafilah yang maknanya jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.

Hanya saja  sunnah kategori ini jika ditinggalkan maka akan mendapatkan kerugian, karena amalan- amalan sunnah ibarat sebuah bonus pahala yang sayang kalau tidak diambil.

Umat Islam banyak yang tidak memahami makna sunnah/hadits dalam pengertian perkataan, perbuatan dan persetujuan Rasulullah Saw ini. Oleh karena itu sebetulnya makna sunnah bisa saja hukumnya wajib, sunnah/mandub/nafilah, haram, makruh dan mubah. 

Pengertian  ini wajib untuk diketahui oleh umat Islam, agar tidak salah mengambil tindakan dalam menempuh skala prioritas (awlawiyat). Karena selama ini masyarakat memahami 'sunnah nabi' dalam kategori hukumnya 'sunnah' yaitu berpahala jika dikerjakan dan tidak berdosa jika ditinggalkan.

Sehingga umat lebih disibukkan dengan amalan-amalan sunnah yang terkategori mandub/nafilah tadi seperti sholat sunnah, puasa sunnah, tilawah al-Qur'an, pakaian sunnah sunnah, zikir dan amalan-amalan sunnah lainnya. Karena dinganggap sebagai mengikuti sunnah nabi.

Namun sayangnya umat mengabaikan sunnah nabi dan khulafaur rasyidin yang terkategori wajib seperti amar makruf nahi mungkar terhadap penguasa dan perjuangan penegakan khilafah.

Dalam Islam standar perbuatan manusia adalah hukum syara' yang terbagi lima yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Segala sesuatu yang hukumnya wajib, maka harus dilaksanakan. Sedangkan yang haram harus ditinggalkan. Dan yang sunnah harus maksimal dikerjakan, yang makruh harus maksimal ditinggalkan dan mubah harus menjaga iffah dan kewara'an. 

Jika terbentur antara wajib dan sunnah maka  yang harus didahulukan adalah yang wajib dari pada yang sunnah. Dan yang sunnah harus lebih utama untuk dikerjakan dari yang mubah. Dan yang haram wajib untuk ditinggalkan.

Oleh karena itu umat perlu memahami masing-masing konteks awlawiyat (skala prioritas) tersebut agar tidak salah dalam menentukan mana yang lebih penting untuk dilakukan agar tidak seperti gambaran pernyataan ulama Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam kitabnya Fath al-Bari menyatakan:

"Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.”


Khilafah adalah Sunnah Nabi dan Khulafaur Rasyidin yang Hukumnya Wajib untuk Ditegakkan

Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang diterapkan oleh khulafaur rasyidin melanjutkan sistem pemerintahan Islam (daulah Islam) yang dibangun oleh Rasulullah Saw di Madinah al Munawwarah pada tahun ke 13 H. 

Khulafaur rasyidin bermakna khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk. Khulafaur rasyidin selain sebagai sahabat nabi juga penerus risalah nabi dalam hal kepemimpin yang sesuai dengan manhaj (metode) kenabian. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw: 

".. kemudian akan ada kekhilafan yang sesuai dengan manhaj kenabian..." (HR. Ahmad)


Baiat Metode (Manhaj) Rasulullah dalam Memilih Khalifah/Pemimpin

Dalam hal pengangkatan seorang khalifah (pemimpin) kaum muslimin adalah dengan bai'at. Bai'at merupakan metode (thoriqoh) satu-satunya dalam pemilihan pemimpin.  Dan ini telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin serta para khalifah-khalifah selanjutnya.

Metode (thoriqoh) adalah tata cara baku yang diambil dari dalil-dalil qoth'i yang dicontohkan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin untuk memilih pemimpin kaum muslimin. Dan bai'at hanya ada ketika sistem pemerintahannya adalah khilafah bukan demokrasi dan kerajaan.

Sah atau tidaknya seseorang menjadi pemimpin umat adalah ketika sudah terjadi proses bai'at secara sempurna (baiat in'iqot). Sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Saw pada proses bai'at aqobah kedua, sehingga secara de jure dan de facto Rasulullah telah sah menjadi seorang pemimpin di Yasrib (Madinah Al Munawwarah). 

Begitu juga halnya dengan  khulafaur rasyidin. Sebagai contoh pemilihan Abu Bakar sebagai Khalifah ketika sempurna di baiat oleh umat ketika di Tsaqifah Bani Saidah. Yang sebelumnya para sahabat sudah sepakat akan mengangkat Abu Bakar sebagai pemimpin, namun sahnya Abu Bakar sebagai pemimpin kaum muslimin ketika baiat telah sempurna diberikan kepadanya. 

Wajib adanya proses baiat bagi umat dalam mengangkat seorang pemimpin yang lebih mahsyur dikalangan sahabat adalah kisah pemilihan Usman bin Affan. Dimana Umar menunjuk enam orang sahabat sebagai calon Khalifah namun yang empat orang mengundurkan diri, sehingga tinggallah Usman dan Ali.

Dari kedua calon yang tinggal ini disepakatilah oleh kaum muslimin untuk memilih Usman kemudian mereka membai'at Usman bin Affan. Sehingga Usman bin Affan sah menjadi khalifah rasyidin yang ketiga.

 Dalam Islam pemilihan pemimpin walaupun dengan berbagai cara (uslub) yang berbeda. Bisa dengan penunjukan oleh khalifah sebelumnya, bisa dengan pemilu (ada beberapa orang dicalonkan, dan bisa juga dengan penunjukkan ayahnya terhadap anaknya (seperti terjadi pada Muawiyah bin Abu Sufyan). Namun sahnya seseorang menjadi pemimpin ketika sudah dibaiat oleh umat. 


Hukum Menegakkan Kembali Khilafah adalah Wajib

Sistem kekhilafan berlangsung selama 13 abad lebih, dari masa awal pemerintahan Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, khilafah Umayyah, khilafah Abbasiyah dan khilafah Ustmaniyah. Dimana tatacara pemilihan pemimpin (khalifah) nya adalah dengan bai'at hanya dengan bai'at tidak dengan yang lain. Sebelum Mustafa Kamal meruntuhkannya tanggal 3 Maret 1924. 

Semenjak keruntuhan khilafah ini berubahlah  sistem pemerintahan Islam menjadi sistem demokrasi kapitalis dan pemilihan pemimpin berubah dengan sistem pemilu/putra mahkota (sistem kerajaan) tanpa perlu adanya proses bai'at. Serta hukum-hukum yang diterapkan bukan lagi hukum Islam, tapi hukum yang bersumber dari sistem demokrasi kapitalis. Ini menyalahi sunnah nabi dan Khulafaur Rasyidin.

Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah pemerintahan dan yang paling akhir adalah sholat.” (HR Ahmad)

Oleh karena itu, dengan ketiadaan sistem khilafah (daulah Islam) yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin hilanglah simpul pertama dalam Islam yaitu sistem pemerintahan.

Sehingga terbengkalailah semua hukum-hukum Islam lainnya. Seperti hukum potong tangan bagi pencuri, rajam dan jilid bagi pezina, cambuk bagi peminum khamar, qishash bagi pembunuh, hukum wajibnya menyebarkan Islam keseluruh negeri dengan jihad fii sabilillah.

Oleh karena itu menegakkan kembali khilafah yang sesuai dengan manhaj kenabian adalah sesuatu yang wajib sebagaimana kaidah hukum syara' mengatakan:

"Tidak sempurna suatu kewajiban tanpa sesuatu maka sesuatu itu hukumnya wajib". Wallahu a'lam bishshowab.[]


Oleh: Fadhilah Fitri SPd.I
Aktivis Dakwah



Posting Komentar

0 Komentar