TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Khilafah Solusi Tuntas Buat Muslim Rohingya



Kebencian terhadap Muslim Rohingya yang mencari suaka hingga saat ini masih berlangsung. Ujaran kebencian itu terlontar melalui laman Facebook.
Meskipun Facebook sejak 2019 berkomitmen menginvestasikan USD 3.7 miliar untuk membersihkan platformnya dari ujaran kebencian dan kelompok-kelompok yang aktif menyebar hasutan terhadap minoritas. Namun hingga kini, ragam laman yang berisikan komentar pedas dan penuh permusuhan masih dibiarkan beredar oleh Facebook. Dua laman, Anti Rohingya Club dan Foreigners Mar Malaysia's Image, baru diturunkan setelah dilaporkan oleh kantor berita Reuters baru-baru ini. 

Reuters mendapati, ujaran kebencian paling banyak disebar di grup-grup privat yang menyaring keanggotaan. Menurut kantor berita asal London itu, Facebook menonaktifkan 12 dari 36 grup yang dilaporkan Reuters dan sejumlah unggahan bernada hasutan.

Meskipun Facebook menilai  bahwa tuduhan bahwa Facebook tidak berkomitmen menanggulangi isu keamanan dan keselamatan pengguna adalah tidak akurat, dan tidak merefleksikan investasi signifikan yang Facebook buat untuk mengatasi masalah konten berbahaya, namun Reuters menemukan puluhan laman dan grup di Faccebook yang menggunakan bahasa-bahasa diskriminatif tentang Rohingya dan migran ilegal. Beberapa di antaranya dioperasikan oleh bekas atau pejabat aktif otoritas keamanan Malaysia.

Salah satu unggahan yang memicu komentar kejam agar pengungsi Rohingya ditembak mati berasal dari Kantor Pusat Angkatan Tentera Malaysia (ATM) yang meminta pengguna agar menjadi "mata dan telinga" terkait migran ilegal. Seorang jurubicara ATM membenarkan unggahan tersebut berasal dari lembaganya.

Unggahan lain yang dibagikan sebanyak 26.000 kali berasal dari laman Korps Intelijen Militer Kerajaan yang menulis migran ilegal "akan membawa masalah kepada kita semua." Pihak militer mengatakan laman itu dikelola oleh bekas perwira dinas rahasia.

Pengamat Politik Internasional Umar Syarifuddin menilai bahwa ketiadaan persatuan dan kehilangan kepedulian terhadap nasib umat Islam merupakan buah nasionalisme. Ini pula yang menyebabkan kaum Muslim Rohingya menderita kepanjangan tanpa ada yang menyelamatkan. Padahal negeri Muslim Arakan ini dikelilingi negeri-negeri Islam seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Pemerintah Indonesia dengan jumlah penduduk muslim lebih dari 200 juta juga tidak melakukan tindakan yang serius untuk menghentikan pembantaian yang telah dilakukan rezim Myanmar sebelumnya.

Khilafah Solusi Tuntas

Masalah Muslim Rohingya tidak akan pernah selesai selama umat Islam terpecah belah dalam bentuk negara bangsa. Mereka terhalang oleh batas semu nasionalisme untuk membantu saudaranya. Padahal, sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk membantu saudaranya. Dalam sebuah hadist, Rasulullah Saw bersabda:

"Janganlah kamu sekalian saling mendengki, saling menipu, saling memarahi dan saling membenci. Muslim yang satu adalah bersaudara dengan Muslim yang lain. Oleh karena itu, ia tidak boleh menganiaya, membiarkan, dan menghinanya. Takwa itu ada di sini (Rasul menunjuk dadanya tiga kali). Seseorang itu cukup dianggap jahat bila ia menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim yang satu terhadap Muslim yang lain itu haram mengganggu darahnya, hartanya, dan kehormatannya.'' (HR Muslim).

Sikap seperti inilah yang semestinya dimiliki oleh setiap Muslim. Mereka tidak akan menghina dan membenci saudaranya. Mereka tidak akan membiarkan saudaranya terluka, dihina dan direndahkan. Karena jika itu dilakukan, maka belum sempurna imannya.

Rasulullah SAW bersabda, ''Salah seorang di antara kamu sekalian tidaklah sempurna imannya sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Kewajiban negara, khususnya negeri Islam seharusnya melindungi umat Islam yang membutuhkan pertolongan. Namun,
rezim nasionalis-sekuler saat ini lebih mengutamakan kepentingan ekonomi nasional dibanding memberikan kesejahteraan yang memadai dan keamanan kepada orang-orang paling butuh pertolongan.

Inilah bentuk kegagalan dari konsep negara bangsa yang saat ini dianut oleh pemerintahan negeri-negeri Muslim. Mereka hanya duduk sebagai penonton dan mengabaikan pembunuhan yang terjadi di depan matanya tanpa rasa malu, dan menonton bencana manusia di bumi Allah yang memburuk setiap hari, tanpa mengerahkan satupun tentara. 

Solusi hampa berupa perundingan diplomatik yang sia-sia dan perjanjian setengah hati terus ditawarkan berulang oleh forum-forum bilateral maupun internasional. Namun, tak satu pun nyawa umat Islam diangkat dan dikembalikan dalam ruang aman dan kenyamanan. Inilah bukti bahwa semua itu hanyalah pepesan kosong yang buang-buang waktu. Ketika Muslim Rohingya meregang nyawa di lautan, justru para pemimpin rezim sekular ini mencukupkan diri dengan drama diplomasi murahan  daripada menolong puluhan ribu pengungsi Rohingya menjadi warganegara mereka.

Jika melihat fakta kebobrokan konsep negara bangsa, maka tidak ada solusi ideal bagi seluruh umat Islam khususnya Muslim Rohingya selain negeri-negeri Muslim itu harus bersatu dalam satu kepemimpinan yaitu Khilafah. Hanya dengan Khilafah, nyawa setiap Muslim terlindungi. Hanya dengan Khilafah, penghinaan terhadap umat Islam di seluruh penjuru dunia akan berakhir. 

Sebaliknya, kebangkitan umat Islam sebagai "Khoiru Ummah" akan nampak di permukaan. Demikian juga tujuan diutusnya Rasulullah SAW untuk menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam akan terwujud. Kemuliaan Islam akan dirasakan oleh seluruh umat, bukan hanya umat Islam namun juga non Muslim.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Oleh: Achmad Mu'it
Analis Politik Islam


Posting Komentar

0 Komentar