TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Keputusan Terburu-buru, Siapa yang Memburu?




Sejumlah guru besar, dekan dan akademisi dari 67 perguruan tinggi di Tanah Air menyatakan keberatan dengan pengesahan Undang-undang Cipta Kerja (Ciptaker). Akademisi menilai pengesahan UU Ciptaker oleh DPR terburu-buru. (Republika.co.id, 8/10/2020).

Memang aneh kinerja DPR yang terkesan terburu-buru dan super cepat hingga tengah malam pun dilakukan pengesahan. Dari kondisi ini ada beberapa catatan.

Pertama: Terburu-buru siapa yang memburu?

Draf RUU cilaka saja masih penuh kontroversi dan banyak penolakan. Namun, secepat kilat dilakukan pengesahan. Layak, jika pertanyaan besar muncul siapa yang mendesak hingga secepat itu?.  Padahal sudah menjadi rahasia umum jika selama ini kinerja DPR lamban. Termasuk proses penanganan Covid-19 juga tak ada pembahasan  darurat penyelamatan nyawa rakyat yang dirapatkan dengan cepat. 

Inilah satu bukti kuat bahwa negeri ini benar-benar dalam kekuasaan kooperat yang amat kuat. Bukan sekedar DPR dalam tekanan konglomerat. Justru saat ini kaum konglomerat sekaligus pejabat di kursi parlemen. Sebagaimana hasil penelusuran Yayasan Auriga Nusantara dan Tempo, ada 262 orang atau 45,5 persen dari 575 anggota DPR menduduki posisi penting di perusahaan. (Bisnis.com, 2/10/2020). Dari data ini cukup menjadi tanda penerang untuk kepentingan siapa keputusan cepat ini dilakukan?

Kedua: Sistem Kapitalisme Memperkuat Kaum Konglomerat

Ciri khas ideologi Kapitalis adalah pemberian kebebasan kepemilikan kepada individu. Posisi negara hanya sebagai pengatur. Maka tak heran jika yang bermodal kuat semakin kuat. Yang lemah kian melarat. Tak ada lagi batasan kepemilikan umat, kepemilikan negara. Selama individu mampu melakukan lobian kepeda pihak penguasa maka semua bisa dikuasai. Dan jalan strategis adalah dengan penguasaan lewat UU. Jika UU telah memberikan legalitas atas kepentingan konglomerat maka jalan mulus untuk menguasai aset rakyat dan negara pun terbuka bebas.

Inilah bahaya ideologi Kapitalisme yang saat ini menguasai dunia. Tampilan manis, tak "seserem" model komunis. Tapi daya hisabnya pun tak kalah dengan komunis. Ibarat lintah darat. Tak akan berhenti menghisap sebekum kenyang. 

Ketiga: Saatnya lepas dari rezim dan sistem Kapitalisme.

Sudah banyak korban berjatuhan efek diberlakukan sistem ini. Namun, masih masih belum menjadi kesadaran umum bahwa biangnya adalah sistem. Mayoritas masih fokus pada pemimpin. Padahal berapa kali ganti pemimpin dengan berbagai gayanya tak mengubah kondisi negeri ini. Meski kita sadari rezim kalinini ibarat sakit di titik akut. Namun, bukan solusi tuntas jika berfokus pada pergantian rezim. Karena selama sistem penjaga sistem Kapitalisme demokrasi kokoh maka pelaku lintah darat akan terus ada.

Maka untuk menyudahi segala problematika saatnya semua kalangan mulai dari kaum intelektual hingga rakyat awam sadar dan saling membahu untuk menyongsong arah perubahan yang pasti. Dialah perubahan yang akan merahmati semua. Membawa pada pembebasan penjajahan dan ketertindasan. Dialah perubahan untuk mencampakk segala ideologi manusia baik komunis maupun sosialis menuju pada ideologi bersumber dari sang maha pencipta yaitu sistem (ideologi Islam).  

Berulang Allah tegur lewat ayat kauniyahnya (kejadian alam), maupun ayat Qouliyahnya agar kita kembali kepada aturannya.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ 

 Arti: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Allahu a'l bi shawab.[]


Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar