TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kemerosotan Ekonomi, Haruskah Umat Berbagi?


Pandemi melanda negeri tak kunjung berhenti. Kondisi perekonomian negeri mengalami kemerosotan tak terkendali. Berbagai kebijakan sudah diambil oleh pemimpin negeri namun hasilnya tak bisa mengatasi kebutuhan warga seluruh negeri. 
Hingga pemerintah memgambil sikap agar umat berbagi. 

Berbagi harta yang dimiliki semacam infak, sedekah, kepada saudara yang membutuhkan pertolongan. Seperti yang dilansir kompas.com - Presiden Joko Widodo mengajak masyarakat untuk saling membantu antar sesama di tengah pandemi Covid-19 yang turut berdampak pada perekonomian.

Bagi umat muslim, Jokowi mengajak untuk memperbanyak infak dan sedekah di masa pandemi ini. Hal tersebut disampaikan Jokowi saat membuka Muktamar IV Persaudaraan Muslimin Indonesia 

"Karena banyak saudara-saudara kita yang memang perlu dibantu di tengah kesulitan yang mereka hadapi," sambungnya.

Jokowi menyebut, pandemi Covid-19 telah menyebabkan perlambatan ekonomi dunia.
Pertumbuhan seluruh negara yang biasanya di angka positif kini terkontraksi secara tajam. Pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga minus 5,32 persen.

Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Namun Kepala Negara mengajak masyarakat untuk tidak menyerah dengan keadaan.

"Dalam menghadapi cobaan ini kita tidak boleh menyerah, kita harus terus berikhtiar, berikhtiar dengan sekuat tenaga untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 dan agar sekaligus membantu saudara-saudara kita agar tidak semakin terpuruk karena kesulitan ekonomi," kata Jokowi.

Ia menegaskan pemerintah tak bisa menghadapi pandemi ini sendirian.
Jokowi menegaskan tidak ada cara lain memutus rantai penularan corona kecuali seluruh masyarakat disipilin dalam menjalankan  protokol kesehatan, mulai dari mengenakan masker, menjaga jarak, serta rutin mencuci tangan.

Masalahnya kesadaran umat untuk menjalankan protokol kesehatan sudah menurun tajam. Kerumunan menjadi hal biasa, dalam kondisi tidak memakai masker. Sebagian umat menganggap kondisi sudah normal karena adanya kebijakan new normal yang diterapkan.

Perkantoran, pertokoan, pasar, mall, bahkan tempat wisata sudah dibuka. Jadi umat yang kesadaran terhadap kesehatan kurang, mereka merasa aman seperti kondisi sebelumnya. Jika umat yang tak mematuhi protokol kesehatan  bertebaran ke mana-mana, apa yang terjadi berikutnya? Klauster banyak terjadi di mana-mana, bahkan paparan corona sudah masuk istana. Terbukti banyak menteri yang terbukti menjadi korban paparan corona.

Mengapa paparan corona bisa merajalela ke seluruh alam semesta? Karena kebijakan pemerintah tidak diimbangi dengan sanksi jika terjadi pelanggaran. Adanya kebebasan ruang gerak, menjadikan si kuman corona bisa menyasar tanpa pilih mangsa. Semua bisa terpapar corona.

Pemerintah tidak mematuhi aturan Islam untuk menjalankan isolasi wilayah yang terkena wabah. Umat di luar wiayah wabah tak boleh .masuk. sementara umat yang di dalam wilayah tidak boleh keluar.
Pemerintah fokus memberikan pelayanan wilayah isolasi dengan pengobatan terbaik.

Pemerintah juga akan memenuhi kebutuhan hidup umat di daerah terkena wapah. Sementara daerah aman dengan umat kondisi sehat bisa tetap menjalankan aktivitas seperti buasanya. Dengan demikian perekonomian tidak mengalami kemerosotan apalagi sampai resesi.

Dalam kondisi apapun tanggungjawab pemerintah untuk mencukupi kebutuhan umat. Ada baitul mal yang bisa dimanfaatkan dalam kondisi darurat. Bukan meminta umat untuk berinfak. Negara yang memiliki kewajiban untuk mengayomi umat, dengan segala keperluannya. Bukan umat menyisihkan harta sedekah atau infak untuk membantu saudaranya.

Masalahnya beda jika umatnya sendiri yang berkeinginan untuk berinfak dan menolong saudara uang kekuarangan. Kalau ini atas dorongan dari dalam dirinya sendiri. Bukan mengambil tanggungjawab pemerintah.

Apapun kondisinya, pemerintah tak boleh menyerah dan lepas tanggungjawab. Jika sudah tak sanggup mengatasi corona, mengapa pemerintah tak menyerahkan segala masalah pada Allah Sang Kuasa?

Ajakan taubat dan berdoa bersama adalah bagus, namun harus disertai amalan nyata. Ketaatan kepada Allah sang pemilik kehidupan dengan menjalankan hukum syara. Menjalankan setiap aktivitas sesuai aturan yang ditetapkan Allah.

Jika pemimpin beserta seluruh umat sudah menjalankan ketaatan maka tiada pembalasan yang tebaik kecuali rida Allah dan surga. Efek yang dirasakan, negara akan mengalami keberkahan dari langit dan bumi.
Wallahu a'lam bish shawwab.[]

Oleh: Lilik Yani
(Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar