TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kejahatan Akibat Kapitalisme Berwajah Bengis



Kejahatan keji kembali terjadi, Rangga dan ibunya yang harus menjadi korban akibat kebengisan manusia jahat buah penerapan sistem kapitalis. Sistem hukum  yang berlaku di Indonesia memang jauh dari kata adil.  Pelaksanaan hukuman bagi para pelaku kriminal hanya hitungan tahun, di saat mantan napi keluar maka kejahatan bisa dilakukannya kembali secara berulang. Jauh dari efek jera dan menginsyafi diri atas dosa yang telah dilakukan. 

Sebagaimana yang dilansir dalam berita tribun-timur.com (16/10/2020). Namanya Rangga, bocah yang dengan berani menolong ibuhnya dari lelaki bejat. Ia meninggal dunia setelah berusaha melawan pemerkosa ibunya. Rangga tewas dibacok berkali-kali oleh pelaku. Jasad Rangga dibuang ke sungai oleh si pelaku. Kejadian pemerkosaan hingga pembunuhan ini terjadi di Aceh.

Dilansir berita detikNews.com pada 15 Oktober 2020. Peristiwa memilukan ini berawal saat pria bernama Samsul (41) masuk ke rumah tempat Rangga dan ibunya, DA (28), tinggal ketika keduanya sedang tertidur pada Sabtu (10/10/2020) dini hari. Samsul berupaya memperkosa DA. Kaget karena tubuhnya disentuh saat tidur, DA pun tersentak. Dia melihat Samsul yang membawa parang dan menggunakan celana pendek berada di dekatnya. 

Rangga yang tidur bersamanya kemudian bangun. Si ibu menyuruh anaknya itu lari. Namun Rangga tak kabur. Dia menjerit agar aksi jahat Samsul terhenti. Samsul kemudian mengayunkan parangnya ke pundak Rangga. Bocah tersebut ambruk bersimbah darah. Samsul kembali membacok Rangga hingga tewas. Polisi menyebut Samsul sempat mengorek tanah. Namun dia kemudian membawa karung itu ke arah sungai dengan berjalan kaki dan membuangnya ke sungai.

Sungguh pilu fakta kehidupan kita di tengah sistem sekuler yang bathil ini. Bagaimana hancurnya perasaan sang ibu akibat dinodai dan ia menyaksikan anak kesayangannya terkapar lemas dan meregang nyawa akibat kebiadaban lelaki keji. Sontak warganet ramai dalam memposting foto Rangga sebagai pahlawan untuk ibunya. Di tengah keprihatinan dan kesedihan warganet atas kasus ini, masyarakat menyimpan rasa kagum dengan keberanian rangga dalam menjaga kehormatan ibu yang sudah mengandung dan melahirkannya. Di sisi lain masyarakat pun kecewa dengan mandulnya peran negara dalam berbagai persoalan kehidupan yang semakin carut marut. 

Negara abai dan bersikap masa bodoh atas semua penderitaan yang ada.
Fakta ini kembali menggambarkan busuknya penerapan aturan dalam sistem kapitalis sekuler. Solusi yang ditawarkan sistem ini tidak mampu menyelesaikan masalah. Melainkan menambah dan memperparah kondisi. Solusi tambal sulam demokrasi  sama sekali tidak menyelsaikan persoalan yang terjadi. Sebagai contoh pembunuh Rangga ini,karena mendapatkan asimilasi akibat covid-19 keluar penjara, justru mantan napi ini melakukan kejahatan pembunuhan sekaligus pemerkosan. Innalillahi.

Para pemimpin rakyat seharusnya menangisi dirinya atas kegagalan dan kelalaian dalam memberikan perlindungan kepada rakyatnya. Kasus ibunda Rangga bukan hal yang baru dalam sistem kapitalis bengis. 

Apa Peran Negara?

Penguasa negeri ini sepertinya sudah hilang nurani. Berbagai persoalan dan kasus kejahatan yang terjadi tidak membuat kinerja mereka semakin apik mengurusi rakyat. Tewasnya Rangga  dan hancurnya kehormatan ibuynya menjadi bukti bahwwa negara abai dan lalai dalam memberikan rasa aman kepada rakyatnya. Penerapan aturan sekuler yang memisahkan agama dan kehidupan menjadi awal pemicu individu dalam melakukan segala cara demi mendapatkan keinginannya. 

Ide  kebebasan yang selalu ditawarkan sistem busuk kapitalis membuat individu menjadi sosok yang bengis dan tidak bernurani. Demi sebuah nafsu dunia terkadang menghilangkan akal dan nurani sebagai manusia sehingga bertindak  bengis dan sadis berjiwa iblis. Bukan hanya itu, lemahnya aturan buatan kapitalis dalam menangani para kriminalis sangat tidak solutif. 

Penegak hukum negeri ini tampak lemah di hadapan para pelaku kejahatan. Bahkan uang dan iming-iming dunia bisa saja menjadi sebab penjahat bebas dari hukuman penjara. Kejahatan demi kejahatan justru semakinmarak terjadi dan semakin memperparah kondisi negeri ini. Maka jelaslah bahwa secara struktural kerusakan sistem aturan negeri ini memang berawal dari landasan hidup kapitalis sekuler. 

Dengan peristiwa tragis ini seharusnya membuat kita senantiasa merindu akan hidup dibawah aturan Islam. Penerapan sistem pemerintahan khilafah Islamiyah akan mampu menjaga kehormatan dan nyawa setiap individu. Sistem Islam mampu menjadi rahmat di semua aspek. Bukan hanya masalah mengatur kehidupan sosial, melainkan pendidikan, ekonomi, hokum dam agama. Sebab misi pemerintahannya adalah untuk menrapkan sistem aturan Allah SWT secara kaffah. Tunduk sepenuhnya terhadap aturan Islam sebagai aturan yang rapih dalma mengatur kehidupan

Kembali kepada Islam 

Sistem hukum dalam Islam sangatlah membuat jera dan sebagai penebus dosa . Hukum membunuh dengan adanya qishos. Hukuman berzina dengan cambuk bagi yang belum menikah dan rajam jika sudah menikah. Hukum potong tangan jika mencuri dan mencapai nishabnya. 

Hukuman penjara bukan solusi, dengan banyaknya ksaus mantan Narapidana kembali berulah setelah dikurung di jeruji besi. Artinya hukuman kurungan hingga bertahun-tahun  pun tidak akan membawa efek jera bagi pelaku kriminal. Diperparah dengan kehidupan liberal ala sistem kapitalis yang membuat setiap individu menjadi tidak pribadi yang liar dan bengis jauh dari rasa takut kepada Allah SWT. 
 
Jinayat dan hudud dalam Islam mampu menjadi hukuman yang pantas. Ukuran pantas ini bukan karena standar manusia yang menentukan, melainkan sepenuhnya taat kepada hukum dari Allah sang pemilik dunia dan seisinya. Allah SWT sang pencipta manusia, yang maha tahu tentang  solusi sesusai fitrah manusia dan pasti akan menentramkan hati. Setiap aturan syariat Islam jangan diukur dengan HAM, Gender dan standar kebebasan lainnya. Tetapi setiap seruan syariat harus diimani dengan seenuhnya pasti akan mengadung manfaat dan menolak mafsadat (kerusakan). 

Di dalam Islam, sanksi tersebut bisa sebagai zawâjir dan jawâbir. Zawâjir (pencegah) berarti dapat mencegah manusia dari tindak kejahatan. Jika ia mengetahui bahwa membunuh maka ia akan dibunuh, maka ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut. Juga sebagai jawâbir (penebus) dikarenakan ’uqubat dapat menebus sanksi akhirat. Sanksi akhirat bagi seorang muslim akan gugur oleh sanksi yang dijatuhkan negara ketika di dunia.

Peran dan tanggungjawab dalam pelaksanaan hukum adalah tugas negara. Khalifah dan semua jajarannya akan menjadi pelaksana hukum Islam sebagai pelindung umat. Bukan oleh individu atau kelompok masyarakat saja. Karena tugas melaksanakan syariat Islam menjadi amanah yang Allah berikan kepada kaum muslimin dengan penegakan khilafah Islamiyah. Rasa takut manusia kepada Allah dicontohkan  oleh khilafah sebagai pemimpin umat, karena beratnya hisab Allah di akhirat jika manusia melanggar aturan Islam. 

Keimanan yang selalu diedukasi  dalam sistem khilafah akan membuat manusia menjadi orang yang mulia.  Jika saat ini sistem Khilafah belum ada, maka tugas kita adalah sama-sama berjuang dengan kesugungguhan agar Khilafah yang dinanti untuk segera hadir mengakhiri rezim gagal kapitalis yang bengis.[]


Oleh: Ina Siti Julaeha S.Pd.I 
Aktivis muslimah dan Pengajar 

Posting Komentar

1 Komentar

  1. selama umat masih menggunakan kapitalisme dan komunisme untuk saling fitnah berarti itu masih sesuai dengan harapan pesaing-pesaingnya.

    BalasHapus