Judicial Review, Mampukah Batalkan UU Omnibus Law?




Pergolakan panas rakyat yang menentang pengesahan Omnibus Law UU Cipta lapangan kerja terasa hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Mulai dari buruh, mahasiswa hingga siswa SMK berteriak lantang pemerintah beserta jajarannya untuk membatalkan UU yang baru saja disahkan. 

Menanggapi pergolakan yang semakin memanas, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menawarkan Judicial Review dari pada harus menggerakkan masa dan berbuat anarki. Dilansir dari Kompas.com (7/10), Luhut mengatakan, "Silakan (ajukan judicial review), itu kita anjurkan. Itu yang betul. Pergi saja ke Mahkamah Konstitusi, itu kan jalur yang benar. Masukkan saja Judicial Review, itu kan boleh.”

Upaya Meredam Aspirasi Rakyat

Tawaran untuk menyelesaikan konflik pengesahan Omnibus Law melalui Judicial Review MK merupakan omong kosong belaka.  Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari menilai pengajuan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) oleh publik terkait Omnibus Law kemungkinan akan berakhir dengan hampa. Hal tersebut menyusul permintaan dukungan dari Presiden Joko Widodo kepada MK terkait regulasi tersebut. (republika.co.id 11/10)

Januari lalu, pada acara Penyampaian Laporan Tahunan Mahkamah Konstitusi Tahun 2019, Presiden Jokowi meminta dukungan MK terkait pengajuan Omnibus Law ini (republika.co.id 11/10). Maka sudah bisa dipastikan usaha rakyat melawan UU Ciptaker melalui MK hanya akan sia-sia saja.

Malang sekali nasib rakyat saat ini, tidak ada yang bisa membela karena semua akses telah ditutup demi kepentingan para penguasa dan pengusaha. Fungsi negara untuk melindungi rakyatnya beralih fungsi menjadi pelindung kepentingannya sendiri. Undang-undang yang seharusnya mensejahterakan rakyat, disetir untuk melindungi kedudukannya untuk terus berkuasa.


Kapitalisme Sumber Masalah

Pandemi covid19 rupanya telah memperlihatkan wajah asli kapitalisme yang rusak. Terlihat sangat jelas bahwa sistem ini telah gagal menyelesaikan masalah pandemi dan turunannya. Semua bidang terpuruk, ekonomi mengalami resesi, pendidikan semakin menuai banyak kendala, keamanan tidak lagi dirasakan, gelombang PHK dan pengangguran tidak terbendung. Tidak fokus dengan permasalahan covid 19, pemerintah malah mengesahkan Omnibus Law yang akan menambah penderitaan rakyat.

Kini rakyat dihadapkan denga pilihan Judicial Review untuk perubahan UU yang sudah disahkan. Ini sama saja dengan meminta rakyat unutk mimpi di siang bolong. Merujuk kepada sejumlah undang-undang kontroversial saat dibawa ke meja MK yang tidak berakhir baik, misalnya UU Tax Amnesti, UU KPK dan UU darurat Covid sampai hari tidak jelas nasibnya.

Rasanya kita tidak bisa membiarkan ini berlangsung lebih lama lagi, karena kita sudah tahu dampak yang akan ditimbulkan akan lebih besar lagi. Kalaupun UU Omnibus Law ini ada perubahan, maka para petinggi akan sangat mudah untuk membuat peraturan lain yang sejenis, yang tentu saja hanya menguntungkan mereka saja.

Islam Hadir Sebagai Solusi Semua Masalah

Dengan semua hal yang terjadi silih berganti dan terus saja membuat kehidupan kita terasa semakin sempit, tidak ada pilihan lain bagi kita untuk mencari solusi yang bisa mengakhiri ini semua. Kita tentu saja menginginkan kehidupan yang lebih baik dari pada sekarang, apalagi untuk anak cucu kita kelak.

Islam yang sudah kita imani sejak kita kecil, merupakan solusi dari seluruh persoalan kita dan bangsa ini. Tidak ada satupun masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh syariat Islam, karena Islam datang dari sang maha pencipta, Allah Azza wa Jalla.

Dalam Islam, para penguasa ini juga akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah diakhirat kelak atas apa yang dipimpinnya. Rasulullah Saw. bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Dengan menjalankan hadist ini, seorang pemimpin bukan hanya mendapatkan pahala, tetapi juga akan mensejahterakan rakyatnya. Hubungan pemimpin dengan rakyatnya akan seperti seorang ibu yang mengurus anak-anaknya dengan baik. Tidak ada ibu yang menipu anaknya demi kepentingan sendiri, yang seperti kita rasakan saat ini.

Pemimpin dalam Islam akan sangat memperhatikan kebutuhan rakyatnya, karena jika ia lalai, maka akan menaggungnya kelak di hari kiamat. Model kepemimpinan seperti inilah yang kita butuhkan untuk mencapai kebahagiaan hidup. Ditambah dengan sistem ekonomi Islam yang non ribawi dan memastikan sumber daya alam dikelola sebaik-baiknya untuk kepentingan rakyat.

Apalagi sistem Islam pernah diterapkan dalam kehidupan dan mampu mensejahterakan manusia seluruhnya. Selama kurang lebih 13 abad lamanya, Islam menjadi rahmatan lil alamin. Semua bidang kehidupan mencapai tingkat tertingginya, mulai dari kesehatan, keamanan, pendidikan dan perekonomian.

Lalu apa lagi yang membuat kita ragu untuk kembali menerapkan sistem Islam?.[]


Oleh: Aisyah Farha (Komunitas Liwa Squad)


Posting Komentar

0 Komentar