TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Islam Sebatas Ibadah atau Islam Kaffah


Islam itu yang biasa-biasa saja, jangan ekstrim. Ibadah itu urusan masing-masing. Perbaiki diri sendiri dan keluarga saja dulu. Indonesia itu sudah islami. Pemimpin yang dzalim cukup didoakan. Hati-hati dengan kelompok Islam radikal, pemecah belah bangsa, anti pancasila, anti nkri, intoleran. Dan seabrek narasi-narasi lain serupa yang seolah tak ada hentinya membanjiri arus opini umat, ditengah gelombang hijrah yang semakin menggeliat. Bahkan, di tengah hantaman pandemi tak menyurutkan langkah mereka untuk terus menyerang Islam. 

Sungguh, perang pemikiran dalam bentuk permainan narasi seperti di atas tidak kalah berbahayanya dengan perang fisik. Meskipun pelan, namun daya rusaknya mampu menyebar luas dan bisa mengancam masa depan generasi muslim. Hal ini karena perang pemikiran akan mempengaruhi pemahaman seseorang yang akan terlahir dalam perilaku. Perang pemikiran memungkinkan yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi seolah salah, atau terstigma salah. Jika pemahaman seseorang tentang agama, hidup dan kehidupannya keliru, maka otomatis caranya memandang agama, caranya menyikapi hidup dan kehidupannyapun akan keliru. 

Dan tidak ada yang lebih keras menerima serangan tersebut selama ini kecuali Islam dan umatnya. Narasi-narasi menyudutkan islam, mendeskriditkan sebagian ajaran-ajarannya, mengkriminalisasi para pengembannya, terus datang dari berbagai arah, bahkan dari penguasa. Serangan terhadap Islam memang bukan dalam bentuk pelarangan aktifitas ibadah. Karena memang targetnya tidaklah sampai kepada murtad (keluar dari Islam), tapi cukup dengan cara halus, yaitu membuat umat muslim meninggalkan sebagian ajarannya dan hanya mengamalkan sebagian yang lain.

Jika umat Islam hanya fokus pada kebaikan dan perbaikan diri, dalam bentuk ibadah ritual, misal shalat, zakat, puasa, infaq sedekah, haji, maka tidak akan diserang. Islam hanya dipahami sebagaimana agama-agama yang lain, yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dalam bentuk ibadah ritual, tidak lebih.

Namun, saat ada umat muslim yang menyuarakan bahwa Islam tidaklah sesempit itu, bahwa Islam adalah agama sekaligus sistem hidup yang mengatur segala aspek kehidupan, maka kelompok inilah yang menurut mereka menjadi ancaman. Mengapa demikian? Karena mereka sudah punya aturan sistem hidup sendiri yang selama ini menghidupi mereka, memenuhi kebutuhan dan kepentingan mereka tanpa terusik, yaitu sekulerisme, kapitalisme dan liberalisme.

Sekulerisme memungkinkan manusia memisahkan masalah kehidupannya dari agama, yang menurut mereka ribet dan menyusahkan. Akhirnya manusia bisa membuat aturan sendiri sesuai kepentingan dan nafsunya tanpa dihalang-halangi aturan agama. Contoh, riba dijadikan sebagai asas perekonomian negara. Mayoritas bisnis yang menjanjikan tak terlepas dari unsur haram ini. Bahkan riba dimasukkan dalam urusan pengelolaan pelayanan kesehatan masyarakat (BPJS).

Kapitalisme memungkinkan para pengusaha bersama penguasa bekerjasama menguasai kekayaan, menumpuk keuntungan, mengendalikan industri dan perekonomian untuk kemudian menjadi adidaya dunia. Itulah mengapa negeri ini yang begitu kaya, tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Karena sistem kapitalisme menjadi jalan tol bagi mereka baik individu, swasta bahkan asing, untuk bebas menguasai (baca = merampok) kekayaan alam yang sesungguhnya merupakan hak umat. 

Liberalisme menjadi sarana mereka menyalurkan nafsu tanpa batas dalam berekspresi, berpikir dan bersikap, baik sebagai individu maupun dalam bersosialisasi di tengah masyarakat. Makanya kemudian, hubungan sesama jenis yang dilaknat Allah S.W.T justru diperjuangan haknya atas nama hak asasi manusia. Peran perempuan berteriak harus sebanding dengan laki-laki dalam segala bidang ahli, tanpa terkecuali. Syariat poligami dibully, sementara zina dan seks bebas difasilitasi. Hingga ikhtiar mendidik anak untuk taat menutup aurat sejak dinipun dinarasikan sebagai pemaksaan. Naudzubillah. 

Islam yang hanya sebatas ibadah tak akan di serang karena tidak mengancam kepentingan mereka. Namun lain halnya jika Islam sudah mulai dibawa-bawa untuk mengatur ranah pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya, hingga keamanan bahkan hubungan luar negeri, maka para penghamba sekulerisme, kapitalisme, liberalisme tak akan lagi bisa dengan bebas bergerak, bermanuver menancapkan hegemoni mereka, menuruti hawa nafsu, mengejar kesenangan dunia semata. 

Allah berfirman di dalam QS Al Baqarah:208 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” Juga di dalam Surat Al Maidah:49 “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.”

Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syara. Apakah dia wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Tidak ada satupun perbuatan ataupun benda, kecuali Allah telah tetapkan dalil-dalilnya. Sehingga tak ada alasan kita bebas membuat aturan sesuai dengan nafsu dan kepentingan tertentu. Rasululllah bersabda “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” (HR Abu Hatim).

Benar dan salah disandarkan pada nash-nash dalam Al Alquran dan As Sunnah, bukan pada manfaat atau keuntungan yang didapat. Dan sudah janji Allah, saat kita mengikuti aturan main yang Allah tetapkan, tidak ada yang kita dapatkan selain limpahan keberkahan. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raf:96)

Selanjutnya, siapakah kemudian yang akan kita ikuti? Islam sebatas ibadah atau Islam kaffah? Wallah’alam bishawab.[]

Oleh: Anita Rachman, Pemerhati Sosial Politik

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Standart Kaffah seperti apa sebenarnya? hukum yg diterapkan? Pengelolaan secara ekonomi oleh negara atau swasta?

    di jaman Rasulullah secara ekonomi kebanyakan dikelola para sahabatnya yg tentunya tetap berkontribusi ke masyarakatnya(negaranya), bahkan banyak sahabatnya yg lebih kaya dari Rasulullah.

    kalau 100% dikelola negara memang idealnya pemimpinnya seperti Rasulullah, tiap 3 hari sekali menyerahkan hartanya ke umatnya.

    BalasHapus