Islam Melahirkan Pemimpin yang Dicintai Rakyat



Tragedi  Bulan Mei 1998 menjadi catatan kelam dalam sejarah Indonesia. Berawal dari ketidakpuasan rakyat terhadap kepemimpinan Soeharto. Saat itu terjadi krisis Finansial Asia yang menyebabkan melonjaknya harga kebutuhan pokok.  Ditambah lagi dengan terbunuhnya empat mahasiswa Universitas Trisakti dalam demonstrasi tanggal 12 Mei 1998. Tanggal 13 dan 14 Mei 1998 terjadi kerusuhan di Jakarta dan di beberapa daerah lainnya. Hal ini mengakibatkan turunnya presiden Soeharto dari Jabatannya dan digantikan oleh BJ Habibie. 

Tragedi ini dipelopori oleh mahasiswa. Diantara aktor-aktornya adalah Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Adian Napitupulu. Mereka adalah aktivis mahasiswa yang getol menyuarakan tumbangnya orde baru. Sejak itu nama mereka mulai dikenal di  Indonesia sebagai pejuang reformasi.
Beberapa kali mereka berhasil menduduki parlemen.  Mereka Berkiprah disana mewakili rakyat Indonesia. Tentunya dengan duduknya mereka di parlemen rakyat Indonesia berharap banyak. Mereka dirasa lebih peka kepada penderitaan rakyat kecil. Karena mereka pernah berjuang bersama-sama dijalanan melawan kebijakan-kebijakan yang mencekek rakyat. 

22 tahun berlalu. Era reformasi yang dulu mereka gaungkan lebih baik dari pada orde baru ternyata hanya ilusi. Harapan rakyat tidak sepenuhnya terwujud. Tidak ada perubahan yang berarti di kehidupan politik Indonesia. Tuntutan perubahan di akhir orde baru agar tidak ada lagi korupsi, kolusi dan nepotisme tidak terwujud. Era Reformasi tetap saja sarat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme, bahkan lebih sulit dikendalikan.

Dilansir dari Republika.co.id, (11/12/2012), Koordinator Divisi Investigasi Indonesian Corruption Watch (ICW) Agus Sunaryanto mengatakan "Korupsi pada era reformasi kebanyakan dilakukan secara 'berjamaah' dan sulit terkendali," ungkapnya saat seminar nasional "BUMN dan Kampanye Antikorupsi" di Auditorium Adhiyana, Wisma Antara, Jakarta, Selasa. Reformasi terbukti gagal menyejahterakan masyarakat.

Orde terus berubah. Rezim terus dirombak. Namun kehidupan masyarakat tidak kunjung membaik. Indonesia masih mengalami keterpurukan dari segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial,budaya, maupun pendidikan. Contohnya adalah kasus korupsi. Korupsi tetap ada dari rezim kerezim. Yang berbeda hanyalah tekhniknya saja. Pada orde baru korupsi, kolusi dan nepotisme terjadi secara sentralisasi.Terpusat pada presiden saja. Karena tidak ada lembaga yang mengontrol kekuasaan presiden. Sedangkan pada era reformasi korupsi, kolusi dan nepotisme  terjadi secara desentralisasi. Korupsi sudah menjalar ke daerah-daerah. Karena adanya perimbangan peran lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Hal ini Terlihat dari banyaknya kepala daerah yang  terlibat kasus korupsi. Fakta-fakta ini membuktikan baik itu orde lama, orde baru maupun reformasi tidak memberikan perubahan yang signifikan terhadap masyarakat.

Disisi lain aktor-aktor pejuang “the next rezim” berbelok ditengah perjuangan.  Mereka yang dulu melakukan demonstrasi bersama rakyat ternyata setelah duduk diparlemen tidak berpihak kepada rakyat. Mereka mayoritas berada dibarisan partai-partai pendukung kebijakan yang nyata-nyata menyengsarakan rakyat, semisal Undang-Undang Omnibus Law. Sekarang mereka didemo seperti dulu mereka mendemo pemerintahnya. Fakta-fakta ini membuktikan kita tidak bisa berharap banyak kepada rezim. 

Orde dan rezim seperti apakah yang ditunggu umat? Islam adalah agama yang sempurna. Islam tidak hanya mengatur perihal ibadah saja, tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Baik sosial, ekonomi, budaya, pendidikan maupun politik. Sejarah membuktikan Islam telah berhasil memimpin dunia selama 13 abad. Islam pernah menjadi peradaban yang gemilang dan telah menyumbangkan banyak prestasi untuk dunia. Sebut saja Ibnu Sina. Pemuda yang lahir dari peradaban Islam. Temuannya masih dijadikan rujukan dalam bidang kedokteran sampai sekarang. Atau Muhammad al Fatih. Pemuda yang lahir dari peradaban Islam. Berhasil menahklukkan Konstatinopel saat berusia 21 Tahun.

Orde/tatanan pemerintahan yang ditunggu umat adalah orde/tatanan pemerintahan yang didalamnya diterapkan aturan-aturan Islam secara kaffah. Karena hanya Islam yang mampu menyejahterakan umat. Sebab  Islam berasal dari Allah pemilik kesempurnaan. Tentunya hukum dari Allah adalah hukum yang juga sempurna. Berbeda dengan demokrasi yang diciptakan oleh akal manusia yang serba terbatas. Aturannya diciptakan oleh manusia sesuai kepentingan si pembuat undang-undang. Tentunya hal seperti ini menyebabkan kerusakan dan demonstrasi disana-sini.
Allah SWT berfirman “apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.” (TQS Al-Maidah : 50)

Rezim yang ditunggu-tunggu umat adalah rezim yang tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Mereka mengatakan yang haq dan batil secara jelas. Mencintai umat melebihi dirinya sendiri. Seperti halnya Umar bin Khattab yang rela makan hanya dengan roti dan minyak saat tiba masa paceklik. Padahal sebagai pemimpin dia bisa makan dengan makanan mewah. “Akulah sejelek-jelek kepala Negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan,” begitu ungkapnya. 

Demokrasi Kapitalis tidak akan melahirkan rezim yang dicintai rakyat. Karena rezim yang dicintai rakyat hanya akan terwujud ketika Islam diterapkan secara totalitas. Sebab rezim hanya menjalankan aturan-aturan Allah yang merujuk kepada Al’quran dan Hadis. Bukan menjalankan aturan yang mereka buat sendiri.[]

Oleh : Ummu Safia 

Posting Komentar

0 Komentar