TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Indonesia Menyusul Normalisasi dengan Israel?


Lagi-lagi lagi negeri muslim merapat dengan Israel penjajah Palestina. Hal inilah yang dilakukan oleh  Yordania dan Mesir. Sebuah potret buram normalisasi UEA dan Bahrain - Israel menjadikan Palestina kian mengalami kemunduran. Konflik yang terjadi antara Palestina-Israel yang tak pernah berkesudahan menjadi catatan sejarah yang tak pernah terhapuskan dari benak kaum muslimin. Di tengah tekanan dan serangan bertubi-tubi dari tahun ke tahun yang menambah panjang  daftar kesedihan masyarakat Palestina. 

Satu persatu negara Arab kian melenggang melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, negeri penjajah dan tak satupun membela kehormatan negeri yang melahirkan para nabi. 

Pengamat bidang militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie mengatakan Indonesia harus berani membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Hal ini merupakan upaya untuk memudahkan Indonesia melakukan diplomasi dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina. “Sudah saatnya Indonesia bertindak konkrit agar bisa lebih memahami Israel dengan membuka diplomatic sehingga ada diskusi lebih lanjut, “ Ujar Connie, pada Sabtu (29/9) 
 
Seharusnya hal itu tak pernah terjadi, dan Indonesia tak perlu mengambil sikap untuk mementingkan normalisasi hubungan dengan penjajah. Adalah kesia-siaan ketika Indonesia memberikan bantuan moral memperjuangkan kemerdekaan Palestina secara konkrit di PBB. 

Bila negara kita tak sanggup membantu mengusir penjajah Israel, cukuplah menjadi negara yang mendukung penuh atas hak-hak masyarakat Palestina, selayaknya masyarakat Palestina terdahulu yang mendukung penuh serta mengakui kemerdekaan Republik Indonesia di barisan pertama kala itu. 
Sebagai negara yang tertindas oleh Yahudi, seharusnya negara-negara muslim termasuk Indonesia mampu menempatkan diri diantara yang hak dan bathil, bukan membela kepentingan pribadi. 

Miliaran muslim tak sanggup melawan kekejaman dan penjajahan yang dilakukan jutaan Yahudi terhadap Islam di Palestina. Pun dengan organisasi dunia, yang hanya berdiam diri membiarkan konflik berlarut-larut. Tidakkah  kekejaman Israel yang diterima rakyat Palestina selama ini adalah pelanggaran HAM yang seperti digembar gemborkan PBB selama ini? Namun, faktanya tidak ada pembelaan secara konkrit yang diterima oleh rakyat Palestina, tidak kah perampasan wilayah, pencurian sumber daya alam yang dilakukan Israel secara ilegal sudah melampui batas?

Maka tidak ada alasan bagi Indonesia untuk menormalisasi hubungan dengan negeri penjajah, sesuai dengan konstitusi bahwa tidak selayaknya kita membela penjajah. Hingga saat ini, tak ada satu negara bahkan pemimpin di dunia yang mampu membebaskan rakyat Muslim Palestina dari kejinya zionis Israel. Pemimpin muslim terikat dengan sistem kapitalis yang tak bisa berkutik karena kepentingan materi. Seharusnya jika sistem kapitalis dan komunisme yang saat ini memiliki tujuan untuk menyejahterakan, lantas mengapa masih ada negara yang terjajah? 

Islam dengan jelas memberikan gambaran dan aturan untuk bisa membebaskan negeri-negeri terjajah terlebih dari kolonialisme Yahudi, bahkan mencegah terjadinya penjajahan di setiap negeri. 

Pemimpin di dalam sistem Islam sangat melindungi dan memperjuangkan pembebasan tanah Palestina, karena tuntutan sistem yang berpegang teguh pada akidah. Hal ini bukan karena ikatan sistem yang kapitalis yang membuat para pemimpin negeri muslim tak berkutik. 

Sultan Abdul Hamid II, Khalifah terakhir  dari Turki Utsmani yang pembelaannya terhadap Palestina demikian fenomenal. Di saat posisinya sangat lemah akibat konspirasi Inggris dengan Mustafa Kemal dan di saat negaranya terjebak utang, beliau dengan tegas menolak sejumlah besar uang yang disodorkan utusan Hertzl (seorang pendiri Zionis) sebagai kompensasi jika Sultan mau menyerahkan Tanah Palestina kepadanya.
 
“Saya tidak akan mungkin melepaskan sejengkal pun tanah Palestina, meskipun itu hanya sejengkal. Palestina bukan milikku, namun milik umat Islam. Umat Islam telah banyak mengorbankan nyawa dalam mempertahankan Palestina. Sebaiknya kalian simpan uang tersebut. Jika suatu saat kekhalifahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan mampu menguasai Palestina hanya dengan cuma-cuma”.

Bahkan akhirnya, Sultan Abdul Hamid II diketahui mengeluarkan keputusan yang melarang orang-orang Yahudi untuk melakukan imigrasi ke Palestina, meskipun pada akhirnya kekuasaannya runtuh dan Turki berubah menjadi negara sekuler di bawah tangan kotor Mustafa Kemal. Sementara Inggris mendapat jalan mulus menjadikan Palestina sebagai “negara” bagi bangsa Israel. Lantas mengapa pemimpin-pemimpin negeri muslim tak sanggup menjadikan sistem Islam menjadi sistem yang mendunia yang akan menjadi pemersatu antar umat beragama yang penuh sengan kedamaian, tidak menjadikan sistem sekuler yang membutakan hingga membiarkan penjajahan. 

Wallahu a'lam bishshawab.[]

Oleh : Darni Salamah
Aktivis Muslimah Sukabumi

Posting Komentar

0 Komentar