TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Hidup Normal dengan Taubat Nasional

Kasus pasien positif corona masih berkibar dan terus menjalar. Hampir seluruh pelosok negeri sudah terpapar. Virus corona menginfeksi dengan bar-bar. Sementara vaksin dan kebijakan masih saja pudar.

Berbagai harapan dan rasa ketidakpercayaan kian tipis. Virus corona yang terus menyebar semakin ditepis. Rumah sakit sudah overload, nasib rakyat semakin tragis.

Sejak awal kedatangannya virus corona hanya menjadi objek lawakan. Mata rantai penyeberannya tak diperhitungkan. Protokol kesehatan hanya separuh hati dijalankan. Keselamatan dan nyawa rakyat tak begitu dihiraukan. Sementara, pertumbuhan dan aktivitas ekonomi diprioritaskan.

Kini, negara semakin kelabakan dengan lonjakan yang terus meningkat. Pasien berdatangan dengan cepat. Aktivitas ekonomi pun kian sekarat. Kehidupan rakyat bertambah melarat.

Presiden Joko Widodo dalam sambutan membuka Muktamar IV Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) secara virtual, Sabtu (26/9/2020) mengajak masyarakat membantu antar sesama di tengah pandemi covid-19 yang turut terdampak pada perekonomian. Bagi umat muslim, Pak Jokowi mengajak untuk memperbanyak infak dan sedekah. Baginya tak ada cara lain memutus rantai penularan virus corona kecuali seluruh masyarakat disiplin protokol kesehatan. 

Di akhir sambutannya, dia mengajak seluruh masyarakat berdoa agar covid-19 segera hilang dan keadaan kembali normal (kompas.com, 26/09/2020).

Tentu saja apa yang disampaikan presiden merupakan sesuatu hal yang indah. Keadaan normal juga didambakan setiap orang, dari kalangan atas hingga bawah. Namun demikian, praktiknya tidaklah mudah. Perlu edukasi dan sosialisasi yang kaffah dan istiqomah dari pemerintah.

Sistem yang ada di negeri ini, bahkan dunia tidaklah membaut virus corona segera pergi. Kapitalisme hanya menitikberatkan pada aspek ekonomi. Bagi mereka, segala kegiatan ekonomi harus terus berputar agar negeri tidak mati. Tak peduli berapa nyawa melayang, yang penting negara tidak rugi.

Bagi kapitalisme, semua dinilai dengan uang. Dana bantuan sosial jika perlu dikurangi atau bahkan ditiadakan. Alat kesehatan dan sarana kesehatan lainnya jangan sampai membebani negara.

Jika ingin keadaan dan hidup kembali normal, tak ada pilihan lain selain taubat nasional. Taubatan nasuha tidak hanya dilakukan individu saja, namun juga oleh negara. Negara sudah saatnya bertaubat dan menerapkan syariat. Sistem Islam dijadikan acuan dalam menyelesaikan persoalan kehidupan agar selamat.  

Islam mewajibkan kholifah (pemimpin negara) memperhatikan kehidupan dan kesejahteraan rakyat, bahkan harus menjadi pelayan rakyat. Kebutuhan pokok tiap individu akan dipenuhi, baik dalam kondisi normal maupun bencana alam atau wabah. Ketika wabah menyapa, karantina wilayah total menjadi solusi utama. Akses wilayah terdampak wabah akan ditutup. Segala keperluan mengenai obat-obatan dan aspek kesehatan akan disediakan dengan sangat memadai. Maka, rakyat akan tenang beraktivitas di rumah saja.

Suasana keimanan dan ketaqwaan juga akan dijaga ketika wabah melanda. Edukasi, sosialisasi dan motivasi akan disuguhkan tiada henti. Sehingga, kehidupan normal yang didamba akan segera tiba.

Hanya Islam yang mampu menuntaskan persoalan kehidupan. Karena Islam adalah aturan yang datang dari Sang Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. Wallahu a'lam bishshowab.[]

Oleh: Afiyah Rasyad
(Aktivis Peduli Ummat)

Posting Komentar

0 Komentar