TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Hallyu Menghantui Negeri



Perlu kita perhatikan mengapa industri budaya K-Pop (Hallyu) dan K-Drama menjadi dikenal oleh pemuda berbagai mancanegara termasuk Indonesia. Peran pemerintah Korea Selatan sangat besar didalamnya. Tak tanggung-tanggung usaha yang dilakukan pemerintah  untuk mendukung industri hiburan di sana. 

Di Korea Selatan, K-pop bukan sekadar musik atau hiburan. K-pop adalah industri dan artis K-pop layaknya komoditas sehingga betul-betul jadi perhatian pemerintah.  Korea selatan adalah Negara yang tidak memiliki sumber daya alam. Tetapi mereka mampu menjadi macan asia pasifik dengan mengandalkan industri dan teknologi. Dan salah satunya yang menjadi sumber pendapatan terbesar adalah budaya K pop.

Ibarat hantu, K pop benar-benar menjadi budaya yang membayangi seluruh dunia. Pendapatan besar grup musik Kpop tak lepas dari peran fans fanatik yang rela merogoh koceknya dalam dalam demi memenuhi hasratnya. Mereka membeli beragam pernak pernik grup band idolanya, membeli  musik digital di internet dan bahkan rela mendatangi konser idolanya diluar negeri.
Antusiame Kpopers tersebut juga berdampak terhadap jumlah kunjungan wisata ke Korea Selatan. Menurut Korea Tourism Organization jumlah wisatawan asal indonesia mencapai 98.000 orang per Agustus 2019.

Hal ini yang rupanya menginspirasi hingga akhirnya penguasa Negara ini ingin agar budaya Kpop menjadi contoh. Tetapi benarkah hal tersebut layak untuk di contoh ? 

Budaya K pop memang tampak gemerlap, seolah nampak surga dunia. Tetapi dibalik gemerlap budaya Kpop tersimpan beragam problematika yang muncul. Tak jarang kita mendengar berita bunuh dirinya para idol Kpop. Atau berita pelecehan seksual yang dialami para idol tersebut. Tentu belum hilang dari ingatan tentang skandal besar yang dilakukan oleh mantan anggota big band Seungri yang menyebabkan keguncangan di industri entertainment korea.


Wajar mereka rapuh secara kejiwaan. Karena pelaku K pop dipandang sebagai komoditas atau dianggap selayaknya barang. Standar kesuksesan adalah materi.  Dan untuk mencapai kesuksesan itu tak jarang mereka menghalalkan segala cara. Tak ada standar agama dalam setiap kebijakan yang diambil. Yang terpenting adalah seberapa banyak pendapatan yang diperoleh.


Hal ini tentu tak cocok dengan Negara kita, dimana mayoritas warganya adalah muslim. Standar kehidupan seorang muslim bukanlah materi tetapi seberapa besar ridho Allah atas diri kita. Dalam standar kapitalis yang menjadikan tujuan kebahagiaan adalah kesenangan jasmani. Menjadi wajar jika kesuksesan dunia selalu dinomorsatukan. Budaya hiburan dan hedonisme tumbuh subur. Padahal tujuan manusia hidup bukan bertumpu pada kepuasan semata.


Maka jika penguasa negeri ini menjadikan Kpop sebagai rujukan kemajuan. Maka Negara ini sedang dihantui gelombang Hallyu, yang mengancam generasi bangsa ini. Kerapuhan mental serta hedonisme akut yang membuat mereka hanya mengejar kebahagian dunia semata. Tanpa ada standar halal dan haram.

Kalau kita melihat sejarah dari masa lalu. Ketika Islam menjadi peradaban dunia. Negara Islam saat itu bernama Daulah Khilafah Islamiyah. Menerapkan islam sebagai ideologi bangsa. Menjadikan ridho Allah SWT sebagai standarnya. Maka peradaban itu mampu menaungi dunia kurang lebih 1.300 tahun lamanya. Sampai akhirnya runtuh tahun 1924 Masehi.

Berangkat dari tujuan diciptakannya manusia adalah beribadah kepada Allah, maka aktivitas apapun yang dilakukan sebagai sarana beribadah kepada Allah semata. Termasuk peradaban diatur sesuai standar islam, yaitu menciptakan berbagai produk untuk memudahkan kehidupan. 

Daulah Khilafah Islamiyah memberikan penguatan identitas diri pemuda dengan menanamkan ketaqwaan individu. Dengan memberikan kurikulum islam dalam sekolah-sekolah yang ada, baik itu sekolah negeri maupun swasta. Memberikan pengajaran tentang aqidah islam, bahasa arab, tarikh (sejarah), dan mata pelajaran lain secara benar. Kemudian negara memfasilitasi kreativitas anak bangsa dengan mendukung penuh riset-riset ilmiah.

Secara otomatis pemuda hanya disibukkan oleh dua hal, yaitu menuntut ilmu untuk menghasilkan kemaslahatan untuk umat atau sibuk beribadah kepada Allah. Karena kebutuhan sandang, papan dan pangan ditanggung oleh negara. Maka wajar kesibukan pemudanya hanya pada ilmu dan amal sholeh. 

Hiburan bagi mereka adalah sampingan bukan tujuan. Mendalami ilmu pengetahuan, al qur'an dan sedikit rihlah jika memang penat dalam belajar. Sungguh mulia ajaran islam yang menjadikan para pemuda disibukkan dalam kebaikan. Bukan berfoya-foya ataupun berputus dari harapan.

Negara Islam mengontrol dan memberikan rambu untuk tayangan bagi kaum muslimin melalui bagian penerangan. Hanya boleh yang bermanfaat dan islami saja. Media asing tidak boleh memberikan andil menyebarkan paham hedonisnya dan menyesatkan kaum muslimin.[]


Oleh: Meita Ciptawati

Posting Komentar

0 Komentar