TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Fokus Atasi Aborsi, Suburnya Zina Luput dari Atensi




Bukan kali pertama berita penggrebekkan klinik aborsi ilegal menyeruak, mengundang sesak dan keprihatinan. Bagaimana tidak, jumlahnya tidaklah sedikit. Motivasi kuat apa yang mampu meruntuhkan nurani seorang ibu, hingga tega menghabisi darah dagingnya sendiri? Bahkan kasusnya tak pernah tuntas dan terus berulang.

Polda Metro Jaya baru-baru ini berhasil mengungkap klinik aborsi yang diketahui sudah melakukan aktifitasnya sejak 2017 lalu. Sebanyak 32 ribu lebih janin disebut Polisi telah digugurkan oleh klinik yang berlokasi di Cempaka Putih, Jakarta Pusat ini. (Republika/26/09/2020). Kasus ini muncul tidak lama setelah penggrebekan klinik aborsi lain ditahun yang sama.  Kabid humas Polsa Metro Jaya menyatakan selama klinik dibuka sejak 21 bulan lalu, tersangka telah menggugurkan lebih dari 900 janin dari 1.300 pasien, dengan omzet mencapai 5 miliar rupiah. (Kompas.tv/17/02/2020).
 
Berdasarkan hasil penelitian Guttmacher Institute yang dikutip Solopos.com, Senin (17/2/2020), diperkirakan terjadi dua juta aborsi di Indonesia setiap tahun. Hal ini disebabkan banyaknya wanita yang mengalami kehamilan tidak direncanakan sehingga memilih aborsi. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2020, dari dua juta kasus, 30 persen dilakukan oleh kalangan remaja. (viva.co.id/24/08/2020). 

Namun sayang, solusinya hanya pada cara mengatasi tingginya angka aborsi ilegal karena tidak aman dan menjadi penyumbang penyebab kematian ibu, tapi mengabaikan kematian sang jabang bayi. Langkah yang diambil sebatas usaha agar aborsi tidak dilakukan, jika kehamilan tersebut hasil dari berzina. Bukan bagaimana caranya agar tidak ada lagi aktivitas haram tumbuh subur bahkan menjamur di tengah masyarakat.

Dampak lemahnya aqidah terhadap pergaulan remaja
Lemahnya pondasi aqidah adalah salah satu penyebab remaja terjebak pergaulan tanpa batas, menuruti syahwat. Keluarga sebagai benteng pertama penanaman aqidah, gagal menjalankan fungsinya. Apalagi saat orangtua memang tidak membekali diri dengan ilmu agama yang memadai. 

Keluarga menjadi jauh dari memahami hakikat diri, dari mana berasal, apa tujuan diciptakan dan akan kemana setelah mati. Tidak terbangun kesadaran bahwa segala perbuatan akan dipertanggungjawabkan. Tidak takut berbuat maksiat. Mengabaikan bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah, sehingga tidak lagi peduli halal-haram karena terlena dengan kenikmatan dunia.

Lemahnya kontrol sosial perburuk lingkungan pergaulan. Kondisi masyarakat jauh dari aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar karena sifat individualistik, saling acuh dan merasa cukup menjadi baik sendiri dengan dalih privasi. Padahal pergaulan punya andil besar dalam membentuk karakter sesorang. Bahkan anak hasil didikan keluarga yang taat agamapun bisa berubah saat bergaul di lingkungan yang buruk. 

Padahal masyarakat memegang peran kontrol sosial yang efektif dalam mengajak kebaikan dan mencegah kemaksiatan (amar ma’ruf nahi munkar). Pencuri akan sangat bahagia saat ada yang melihat aksinya tapi tidak bertindak. Begitu pula dengan aktivitas zina atau pacaran. Banyak remaja merasa nyaman berdua-duaan dengan yang bukan mahram karena dianggap wajar dan didiamkan oleh masyarakat.

Tidak hadirnya negara dalam menjaga aqidah umat. Terima atau tidak, negara turut menyumbang suburnya zina melalui kebijakan yang dikeluarkan. Pepatah mengatakan “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Aturan apa yang berlaku di sebuah wilayah atau negeri, maka itulah yang akan diikuti. Jika aturannya memberikan ruang untuk bebas berekspresi dengan dalih hak asasi, maka seperti itulah yang akan terjadi. 

Dari sisi pendidikan, sebagaimana kita ketahui, hari ini kita berkiblat pada sistem barat yaitu sistem sekuler kapitalis. Sekulerisme memisahkan agama dari kehidupan. Agama dianggap sebagai urusan pribadi, tak boleh ada campur tangan orang lain termasuk negara, apalagi sampai diterapkan dalam ranah pendidikan.

Sementara kapitalisme menanamkan konsep bahwa tolok ukur kesuksesaan adalah jabatan tinggi dan limpahan materi. Maka lembaga pendidikanpun berorientasi melahirkan lulusan yang fokus mengejar hal tersebut. Terbukti, yang ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya tidak jauh dari motivasi materi “Sekolah yang pinter, biar sukses, dapet kerja, gajinya besar, biar hidupnya nggak susah”. 

Dari sisi kontrol media, kita lihat hari ini pergaulan bebas telanjang dipertontonkan setiap hari di rumah-rumah melalui media, baik cetak, elektronik maupun media sosial. Adegan wanita memamerkan tubuh, aktivitas pacaran dengan kata-kata yang memikat bahkan aktivitas fisik yang mengundang syahwat sengaja diajarkan melalui tayangan iklan, sinteron, film yang begitu mudah diakses oleh siapapun. 
 
Fokus Atasi Aborsi, Suburnya Zina Luput dari Atensi

Ibarat sungai, aborsi adalah hilir. Aborsi muncul karena serentetan sebab. Tidak hanya satu tetapi banyak. Mayoritas kasus aborsi terjadi karena hamil di luar nikah, singkatnya zina. Zina semakin subur akibat gaya hidup bebas yang memang diberi ruang oleh sistem hari ini. Maka, kasus aborsipun tidak akan pernah tuntas selama solusinya tidak menyentuh sistem, yang menjadi hulu atau akar permasalahan. 

Sungguh akar semua permasalahan hari ini adalah karena penerapan sistem sekuler kapitalis yang rusak dan merusak. Islam yang pernah tegak selama berabad-abad kini ditinggalkan dan hanya dianggap sebagaimana agama-agama lain, yaitu sebatas agama ritual. Oleh karena itu, hanya dengan mengembalikan Islam menjadi aturan hiduplah, segala problematika tadi akan terpecahkan. Mulai dari masalah individu, masyarakat hingga negara. 

Peran Islam dalam menjaga aqidah umat 
Negara dalam sistem Islam berperan mengurusi urusan umat di segala bidang, termasuk aqidah. Keluarga mampu menjadi benteng pertama penanaman aqidah anak karena didukung sistem yang ada. Sistem pendidikan Islam dengan kurikulum yang ditetapkan oleh negara, bersinergi dengan keluarga mencetak generasi rabbani yang cerdas secara intelektual, emosional sekaligus spiritual. Pendidikan bertujuan melahirkan para mujtahid, ilmuwan dan penemu-penemu yang membawa kemaslatan umat, memajukan negeri, namun tetap dalam koridor hukum syara’.

Peran Islam dalam amar ma’ruf nahi munkar

Kontrol sosial di tengah masyarakat berjalan dengan baik, karena keimanan individu sudah tertancap kuat dan kokoh. Orang beriman paham betul wajibnya dakwah. Sebagaimana Rasulullah bersabda: “Demi Zat yang jiwaku berada ditanganNya, sungguh kalian (memiliki dua pilihan, yaitu) benar-benar memerintah berbuat ma’ruf (amar ma’ruf) dan melarang berbuat munkar (nahi munkar), ataukah Allah akan mendatangkan siksa dari sisiNya yang akan menimpa kalian. Kemudian setelah itu kalian berdoa, maka doa itu tidak akan dikabulkan”

Peran Islam dalam Mengontrol Pergaulan dan Media

Negara ketat mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan sebagaimana Islam telah mengaturnya dengan rinci dan tegas. Islam memberikan jaminan kehormatan, martabat dan perlindungan kepada kaum perempuan melalui perintah menurut aurat, menundukkan pandangan, larangan berhias, berduaan dengan yang bukan mahram, bebas bercampur baur antara laki-laki dan perempuan dan lain-lain. 

Prinsip kebebasan bergaul diganti dengan prinsip tanggungjawab, bukan hanya terhadap diri dan keinginan, tapi juga kepada Allah S.W.T. Pengamanan selama 24 jam dan penerapan sanksi tegas sesuai syariat Islam akan menimbulkan efek jera, sehingga kemaksiatan tidak terulang. Negara juga mengontrol media dari tayangan merusak berbau seksualitas, kekerasan, kriminalitas dan lain lain yang dapat memberikan pengaruh buruk pada masyarakat. 

Semuanya terintegrasi ke dalam seluruh aspek kehidupan, membawa kemaslahatan, keselamatan juga keberkahan. Oleh karea itu, tidak ada cara lain selain terus memahamkan kepada umat, bahwa hanya dengan menerapkan syariat Islamlah seluruh problematika umat akan terpecahkan. Saatnya meninggalkan solusi tambal sulam dan parsial ala sekuler kapitalis buatan manusia yang banyak cacat, jauh dari sempurna, kemudian menggantinya dengan syariat Islam yang pasti benar, pasti sempurna. Wallahu’alam bishawab.[]

Oleh: Anita Rachman – Pemerhati Sosial Politik

Posting Komentar

0 Komentar