TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Edy Mulyadi: UU Omnibus Law adalah Perbudakan Gaya Baru di Era Modern



TintaSiyasi.com-- Presidium Aliansi Selamatkan Merah Putih (ASMaPi) Edy Mulyadi meyakini UU Omnibus Law adalah perbudakan gaya baru di era modern.

"Tak pelak lagi, UU ini adalah perbudakan gaya baru di era modern. Kita harus lawan. Kita dukung penuh perjuangan buruh menolak RUU Cipta Kerja," ujarnya kepada Tintasiyasi.com, Senin (5/10/2020).

Hal lain menurutnya yang tidak kalah memprihatinkan, UU Omnibus Law ini akan memberi hak kepada pengusaha untuk mengganti outsourcing dengan kontrak seumur hidup. Buruh akan berstatus kontrak, yang terus-menerus diperpanjang. 

Edy menyebut ini sebagai pintu masuk perbudakan. "Dengan konten yang menindas buruh seperti itu, pada hakikatnya RUU ini adalah pintu masuk bagi perbudakan terhadap buruh kita," tandasnya.

Bahkan lebih lanjut ia menjelaskan masih banyak pasal lain yang sangat mengeksploitasi dan menindas buruh. "Antara lain, semua karyawan berstatus tenaga kerja harian, libur hari raya hanya pada tanggal merah dan tidak ada penambahan cuti. Selain itu, tenaga kerja asing bebas masuk, dan istirahat hari Jumat hanya satu jam, termasuk shalat Jumat," lanjutnya.

Menurutnya, adanya larangan buruh protes atas semua penindasan itu karena RUU Cipta Kerja memberi hak kepada pengusaha untuk melakukan PHK kapan saja, tanpa ada kewajiban memberi pesangon serta dihapuskannya semua sanksi bagi pengusaha.

Edy memaparkan beberapa pasal UU Cipta Kerja yang dipastikan bakal menyengsarakan buruh antara lain dihilangkannya pesangon, dihapuskannya UMP, UMK dan UMSP serta upah buruh yang dihitung per jam.

"Selain itu, RUU ini juga menghapuskan semua hak cuti tanpa ada kompensasi. Di antaranya cuti sakit, cuti kawinan, khitanan, cuti kematian, dan cuti melahirkan hilang dan tidak ada kompensasi," pungkasnya.[] Dewi Srimurtinngsih

Posting Komentar

0 Komentar