TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Di Balik Cuitan Kaum Liberal tentang Kerudung Usia Dini


Media asal Jerman Deutch Welle (DW) dihujat sejumlah tokoh dan netizen karena membuat konten video yang mengulas tentang sisi negatif anak pakai jilbab sejak kecil.

DW Indonesia juga mewawancarai psikolog Rahajeng Ika. Ia menanyakan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab.

 “Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu,” kata Rahaeng Ika menjawab pertanyaan DW Indonesia.

“Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul,” tambahnya (jurnalgaya).

Benarkah memakai jilbab sejak dini adalah bentuk pemaksaan? Membiasakan anak sejak dini merupakan  bentuk pendidikan dalam Islam. Para orang tua harus bisa memahamkan pada anak-anak perempuan mereka bahwa jilbab itu bukan pilihan, tapi sebuah kewajiban. 

Pengarahan pada suatu yang benar diikuti dengan pembiasaan. Tanpa biasa akan berat namun yang berat akan ringan jika dengan pembiasaaan. Dan syariat Islam akan lebih tertanam dalam diri anak jika sudah diperkenalkan sedari dini.

Lantas ada apa dibalik cuitan tersebut? Kenapa ajaran Islam selalu diserang? 

Cuitan Islamofobia akan terus di suarakan. Apa yang dilakukan DW adalah bentuk serangan media sekuler. Hal tersebut terjadi karena  adanya perbedaan pandangan antara Islam dan DW yang sekuler liberal.
Tak ada pemikiran liberal dalam Islam. Di mana kebebasan berprilaku dan bersikap liberal menganggap bahwa Islam tak ada bedanya dengan agama lain. Dan hal tersebut  akan membuat kaum muslim yang sudah dididik sedari kecil dengan syariat Islam menjadi bingung tentang identitasnya. 

Mereka berupaya sedemikian rupa membentuk opini di tengah-tengah umat, bahwa Islam kafah adalah agama yang berdampak buruk bagi masyarakat. 

Lalu mereka seringkali membayangkan bahwa pendidikan anak dengan ajaran Islam itu penuh dengan paksaan, intimidasi dan ancaman. Dalam khayalan mereka, anak-anak keluarga muslim terkekang dan tertekan dengan ajaran-ajaran Islam.

Upaya tersebut merupakan upaya yang terstruktur dan sengaja dilontarkan agar Islam tidak bangkit kembali serta masyarakat alergi  terhadap ajaran Islam. Mereka memaksakan khayalan itu untuk diterima masyarakat, agar muncul kebencian pada Islam.

Oleh karena itu, Islamofobhia yang menjangkiti umat bukanlah penyakit biasa. Harus ada upaya luar biasa dan sistematis untuk menghancurkan penyakit tersebut.

Negera harusnya memiliki peran untuk  menjauhkan umat dari  isme –isme  yang merusak. Dan hal tersebut hanya bisa didapatkan dalam negara dengan sistem yang berlandaskan pada syariat Islam yaitu sistem Khilafah.

Karena hanya dalam khilafah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang baik dan inovatif dengan landasan akidah Islam, bukan dengan sekularisme-liberalisme

Oleh karena itu, mari kita kembalikan syariat Islam pada posisinya semula. Dengan menerapkannya secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan.
Wallahu ‘alam.[]


Oleh : Vitriastuti S.Si

Posting Komentar

0 Komentar