TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Daring sampai Kapan? Jangan sampai Bikin Darting (darah tinggi)



Dampak yang ditimbulkan dari mewabahnya covid -19 di penjuru dunia  sejak  awal tahun 2020 ini  sangat luar biasa di segala sektor kehidupan manusia. Salah satunya yaitu di bidang pendidikan. Pandemi ini telah merubah tatanan pendidikan dari segala tingkatan pendidikan dari tingkat dasar TK, SD, SMP, SMA sampai ke Perguruan Tinggi. Yang biasanya proses belajar siswa  melalui  tatap muka dengan guru di dalam kelas, berubah  menjadi pembelajaran jarak jauh (daring). Pembelajaran jarak jauh dilaksanakan dengan tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona di kalangan sekolah tetapi siswa tetap belajar. 

Sistem pembelajaran jarak jauh ini atau daring  dimulai sejak tanggal 16 Maret 2020. Dalam sistem ini siswa tidak perlu lagi pergi ke sekolah seperti biasanya tetapi mereka tetap mendapat pelajaran di rumah masing -masing. Namun jangankan sistem daring yang datangnya mendadak, sebenarnya kurikulum di Indonesia sejauh ini saja belum pernah mempunyai standarisasi. Terbukti setiap pergantian Menteri Pendidikan maka selalu terjadi perubahan kurikulum baru sehingga membingungkan pendidik dan anak didik. 

Nah, sekarang dengan adanya pandemi, maka diberlakukan sistem daring yang memaksa oang tua terlibat seutuhnya dalam pendampingan anak selama belajar di rumah. Dampaknya orang tua lebih stres dari pada anak-anaknya sendiri. 

Kenapa demikian? Karena selain sudah mempunyai tugas rutin dengan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan di luar rumah, para orang tua harus mendampingi anak belajar. Mungkin kalau anaknya hanya satu masih lebih ringan, tetapi kondisi yang terjadi sesungguhnya  banyak orang tua yang memiliki anak lebih dari satu. 

Belum lagi permasalahan kepemilikan smartphone. Masih banyak orang tua yang tidak memilikinya meskipun hidup di kota besar. Ditambah lagi masalah jaringan, kuota dan lain - lain. Inilah yang akhirnya membuat daring berubah menjadi darting bagi para orang tua. 

Melihat fenomena ini, apa yang terjadi dengan kebanyakan anak-anak usia tingkat sekolah dasar, sebenarnya mereka pun mulai bosan berada di dalam rumah terus menerus, Bahkan malah lebih banyak nonton televisi, bermain di luar, bermain game,  dan berkumpul dengan teman-teman tetangga. 

Karena orang tua pun tidak sanggup mengekang anak-anak mereka terus menerus berada di dalam rumah. Mereka berfikir, pemerintah saja sudah membuka tempat-tempat hiburan/wisata dan pusat-pusat perbelanjaan. Itulah juga alasan mengapa orang tua mengeluh kenapa sekolah-sekolah tidak dibuka saja. Sampai kapan anak-anak mengikuti proses belajar daring seperti ini?

Hal ini dibenarkan oleh  Wakil Ketua Komisi II DPRD Medan, Sudari  S.T, bahwa saat ini sudah banyak orang tua yang mengeluhkan sistem belajar daring. Selain proses belajar tidak effektif,  hal ini sangat bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah yang membuka kembali tempat-tempat hiburan/wisata serta pusat perbelanjaan moderen demi berjalannya roda perekonomian. (waspada.co.id, September 2020).

Seperti inilah  negara yang menganut paham kapitalis dalam menerapkan suatu peraturan. Peraturan yang mereka buat selalu saling tumpang tindih. Di satu sisi peraturam dimuat umtuk mencari keuntungan negara, di satu sisinya lagi malah menambah kesengsaraan rakyat. Seperti dua sisi koin yang jelas perbedaannya. Bagaimana mungkin sistem seperti ini dengan peraturan yang selalu berganti ganti terus bisa menyelesaikan berbagai permasalahan sekaligus dengan baik?

Rasulululloh saw bersabda:

إِنَّ اللهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ؟ حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ. 

“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya. Apakah ia pelihara ataukah ia sia-siakan, hingga seseorang ditanya tentang keluarganya.” 

Islam adalah agama rahmatan lil'alamin. Jika kita pandang dari sudut pandang Islam. kondisi hari ini sebenarnya adalah kesempatan emas bagi para guru untuk dapat lebih fokus dan memaksimalkan pendidikan pembentukan kepribadian anak. 

Membina mereka menjadi generasi yang tangguh, menghadapi ujian pandemi, bagaimana menjaga keselamatan jiwa, menjaga kebersihan, peduli lingkungan, semangat berbagi, beribadah dan lain sebagainya. Karena tujuan pendidikan dalam Islam  adalah membentuk kepribadian  anak-anak  mencakup pola pikir dan pola sikap.  Anak-anak  wajib dipahamkan tsaqafah keislaman, selain ilmu terapan seperti sains, kecakapan hidup, dan lain sebagainya. 

Orangtua juga harus berperan untuk ikut  andil  dengan menjadikan dirinya faqih fiddin, sehingga orangtua turut mampu membina tsaqofah, kepribadian dan kecakapan hidup anak. sedangkan sainstek yang mungkin butuh tatap muka di sekolah, bisa ditunda sampai pandemi ini benar-benar sudah dirasa aman untuk melakukan tatap muka seperti biasa.

Untuk mencapai hal tersebut, maka harus dibuat kurikulum yang disesuaikan dengan jenjang usia secara lengkap dan efektif untuk diajarkan. Jangan seperti yang terjadi sekarang ini, materi yang diajarkan sangat padat, tapi nihil dalam aspek pembentukan kepribadian keislaman, sehingga muncullah tadi istiah “daring menjadi darting”. Untuk selama masa pandemi ini juga tidak perlu dilakukan ujian atau tes yang menghasilkan nilai yang tidak jujur dari kebanyakan siswa/anak, karena jelas saja dengan keterlibatan orang tua, maka jawaban atas hasil tes/ujian sekolah bukan lagi murni dari siswa/anak. Wallahu’alam Bisshowwab.[]

Oleh: Ratih Yusdar (Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar