TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Dampak Definisi Kematian Corona Jika Diubah



Staf Ahli Menteri Kesehatan bidang Ekonomi Kesehatan Mohamad Subuh
menegaskan, pemerintah tidak akan mengubah penulisan angka kasus kematian akibat Covid-19 dan hanya menambah detail pada definisi kematian karena Covid-19
"Sebenarnya tidak mengubah definisi kematian akibat Covid-19. Tetapi menambahkan detail operasional kematian yang berhubungan dengan Covid-19," kata Subuh kepada Kompas.com, (22/9/2020).

Pernyataan tersebut, jika dikaitkan dengan jumlah kematian yang semakin bertambah, menjadikan tanda tanya apa benar kematian yang bertambah setiap harinya disebabkan oleh Covid-19. Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat jumlah kasus aktif virus corona di Indonesia menyatakan "Sedangkan kumulatif jumlah kasus meninggal 10.105 atau 3,9 persen di mana kasus dunia 3,05 persen," dilansir dari Okezone.com, (24/9).

Data tersebut diperkirakan akan terus bertambah, sehingga publik menuntut penanganan serius dari pemerintah bukan mempersoalkan definisi kematian. Selain itu Presiden terus menyuarakan keberhasilan karena meningkatnya angka kesembuhan. Ini tentu dirasa bukan tolak ukur keberhasilan. Selagi belum tertuntaskan masalah pandemi ini maka masyarakat akan terus terancam keselamatannya.

Dan juga, jika kita lihat bersama berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah hanya menyentuh permasalahan luarnya saja, belum sampai pada akarnya. Memberikan himbauan tentang protokol kesehatan pencegahan pandemi tanpa diimbangi dengan fasilitas kesehatan yang bisa diterima dan dijangkau oleh masyarakat, seperti pemeriksaan swab secara gratis, pemberian masker serta alat kesehatan lain yang harus digunakan demi mencegah terpapar virus, yang berdampak kematian.

Sayangnya, angka kematian yang bertambah setiap harinya berdasarkam data saat ini tanggal 4 Oktober 2020, dilaporkan 96 kasus kematian baru, sehingga total menjadi 11.151 kasus. Kompas.com (5/10). 

Kasus kematian yang semakin bertambah setiap harinya, mengidentifikasikan bahwa pemerintah belum juga dapat menuntaskan kasus tersebut. Ditambah lagi jika perlu adanya pencegahan dengan mengadakan tes sweb, maka seharusnya memang pengadaannya digratiskan bagi seluruh warga. Namun yang ada justru di lapangan pemeriksaan sweb dibebankan pada masing-masing masyarakat, dimana harganya tidaklah murah bisa mencapai satu jutaan rupiah. Padahal kita pahami keadaan masyakarat saat ini berada pada kondisi yang serba salah, memilih untuk menjaga kesehatan atau kebutuhan pangan yang tak bisa ditinggalkan. 

Kesehatan yang seharusnya gratis namun dijadikan obyek dagang oleh para kapital. Selain itu kebutuhan pokok yang juga menjadi tanggungjawab pemerintah, tak juga terjamah malahan abai akan hal ini. Lantas ini tidak bisa menjadikan kesalahan sepenuhnya oleh rakyat. Wujud nyata dan kesungguhan yang diharapkan rakyat membuat kebijakan yang benar-benar berorientasi pada keselamatan jiwa.

Kemudian, dimana letak kesalahannya? Ini tentu sistem yang menjadi biang keroknya. Sistem kapitalisme-Sekularisme yang mengukur segala sesuatunya dengan materi dan keuntungan tanpa mengindahkan keselamatan atau bahkan nyawa rakyat. Keberpihakan pada pemilik modal pun sangat kental terasa, sebagaimana yang disebutkan tadi, berkenaan dengan pengadaan swab, dan pengadaan obat-obatan yang tidak bisa gratis diterima rakyat.

Oleh karenanya, jika akar permasalahan semua ini terletak pada sistem maka seyogianyalah kita semua mencari sistem yang lain. Yang mampu mengentaskan semua problematika baik di bidang kesehatan, ekonomi, politik dan lainnya. Jika melihat sejarah yang pernah ada sistem Islam pernah berjaya dan sukses mengentaskan semua ini. Dimana kita pahami juga bahwa sistem Islam datang dari sang pencipta yang sempurna. Tentu tidak ada kekurangan sedikitpun. 

Jika kita ambil cara Islam mengentaskan permasalahan kesehatan di masa pandemi. Maka Islam akan memberikan solusi yang sistemis dan menyeluruh, sehingga tidak berimbas pada yang lainnya. Misalnya pada saat terjadi wabah di suatu negeri maka Islam memberikan solusi diantaranya, edukasi preventif dan promotif, menyediakan pelayanan kesehatan, sarana dan prasarana gratis, membangun ide karantina, negara menginspirasi untuk menciptakan vaksin. Inilah Islam dengan sistem sempurnanya memberikan solusi tuntas tanpa masalah. 

Maka, sudah saatnya kita sadar bahwa mengadopsi sistem yang salah akan berimbas pada permasalahan di segala lini kehidupan. Oleh karenanya kembali pada sistem Islam adalah pilihan yang tepat. Sehingga mengatasi pandemi bukan dengan merubah definisi kematian tapi bagaimana dengan serius dan kerja nyata.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.[]


Oleh: Nur Rahmawati, S.H.
Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar