TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Cukupkah Atasi Corona dengan Taubat Semata?

Pandemi corona tak kunjung pergi juga. Paparan corona masih menyebar ke seluruh wilayah dunia. Tak ketinggalan negeri tercinta. Paparan corona masuk negeri ini tak pilih mangsa. Semua orang ada peluang kena serangan corona. Tak lepas sasaran, corona juga masuk istana.

Corona, makhluk kecil ciptaan Allah memberi pengaruh luar biasa. Siapa sangka makhluk kecil tak tampak pandangan mata, namun bisa meluluh lantakkan dunia. Tanpa menggunakan perlengkapan senjata, negara adikuasa jatuh di tangan corona.

Segala bidang diterjang, termasuk perekonomian negara. Sendi kehidupan itu luluh lantak hingga titik terbawah. Dunia mengalami resesi. Bahkan lebih parah dibanding krisis moneter yang terjadi beberapa tahun lalu. Semua menganggap corona jadi biangkerok segala masalah. Betulkah demikian? 

Melihat segala masalah yang menimpa, sikap apa yang diambil pemimpin negara? Membuat kebijakan demi kebijakan namun tak kunjung membuat masalah reda. Korban berguguran menimpa segala sektor kehidupan. Nakes dan dokter yang paham kesehatan juga banyak menjadi korban paparan corona. 

Bahkan kementerian juga para pejabat tinggi tak lepas dari serangan corona. Kebijakan new normal yang dibuat oleh pemerintah dengan harapan menolong perekonomian negara. Justru hasilnya gagal semua. Perekonomian tak bisa ditolong, umat yang menjadi korban corona tak bisa dikendalikan. 

Kalau sudah demikian, apa yang bisa kita lakukan? Taubat, mohon ampunan kepada Allah Sang Pemilik kehidupan. Taubat atas semua kesalahan yang diperbuat dengan taubat sungguh-sungguh.

Seperti yang dilansir Merdeka.com - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengingatkan masyarakat untuk tidak lupa mengingat Allah SWT di tengah pandemi Covid-19. Salah satu caranya dengan berdzikir dan taubat. 

"Kita juga tidak boleh melupakan zikir, istighfar, taubat kepada Allah Subhana Wa Ta'ala," kata Jokowi saat membuka Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/9).

Semoga ini sebuah bentuk kesadaran sesungguhnya. Sadar atas segala khilaf atas apa yang diperbuat. Hingga Allah mendatangkan pandemi corona lebih dari tujuh bulan ini sebagai pengingat.

Adakah ini titik terang untuk negeri ini? Menyadari kesalahan lalu melakukan pertaubatan. Hendaknya dilakukan massal, seluruh umat manusia melakukan taubatan nasuha. Taubat yang sesungguhnya. Bukan sekedar ada di ucapan, namun perlu ada pembuktian.

Bukti yang harus dilakukan adalah menjalankan ketaatan kepada Allah dengan melakukan aktivitas berdasarkan hukum syara. Ini sebagai bentuk konsekuensi orang beriman yaitu terikat pada aturan Allah. Kita sebagai hamba Allah, hidup di bumi milik Allah dengan segala fasilitas lengkap pemberian Allah. Maka aturan yang dipakai untuk menjalankan aktifitas juga harus berdasarkan hukum syara yang sudah disiapkan Allah.

Jika tidak, maka bisa kita lihat betapa kacaunya kenyataan yang kita hadapi. Kesombongan manusia dengan membuat aturan sendiri untuk mengatur segala urusan, mengakibatkan kekacauan, kedzaliman, kekerasan dan segala maksiat lainnya. Hingga kesejahteraan umat sangat jauh dari jangkauan.

Jika pemimpin negeri sudah menyadari kesalahan, kemudian mengajak umat bertaubat itu suatu kebaikan. Namun jangan sebatas taubat di ucapan, harus ada perubahan nyata menuju kebaikan.
Maka tindak ketaatan kepada aturan Allah itulah bukti nyata suatu pertaubatan.

Ketika seluruh umat sudah taubat dan taat, maka tidak ada kesulitan bagi Allah untuk mengangkat wabah corona dari muka bumi. Kembalinya perekonomian, datangnya kesejahteraan umat, keberkahan negeri dan segala kebaikan akan meliputi negeri yang pemimpinnya mengajak umat dalam ketaatan.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (TQS al A'raf : 96)

Pilihan tergantung pemimpin negeri, jika menginginkan keberkahan meliputi negerinya maka tiada pilihan lain kecuali mengajak seluruh umat berada dalam ketaatan kepada Allah semata. Wallahu a'lam bish shawwab.[]

Oleh: Lilik Yani
(Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar