TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Corona Taklukkan Pemimpin Jumawa


Siapa sangka jika pemimpin negeri adidaya itu bisa takluk di hadapan makhluk kecil bernama corona. Apa hikmah di balik fakta? Tetap husnudzon, Allah hanya menghendaki kebaikan terjadi pada hambaNya.

Seperti dilansir dari VIVA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dinyatakan positif terinfeksi virus corona (COVID-19). Dia terinfeksi setelah berbulan-bulan sebelumnya sempat meremehkan tingkat keparahan virus dan menolak menggunakan masker kesehatan secara teratur. (2 Oktober 2020)

Sebuah berita mengagetkan seluruh dunia. Di saat setiap negeri di dunia memberitakan paparan virus corona menyerang ke mana saja. Tak terkecuali para pejabat tinggi yang tinggal di istana. Tempat yang paling baik di dunia, karena diduduki sang pemimpin. Tempat paling aman karena dijaga dan disterilkan dari bencana. Itu menurut ukuran manusia.

Namun kali ini musuhnya tak tampak mata. Siapa sangka jika virus kecil itu menempel di barang-barang penghuninya. Lolos dari sterilisasi para petugas istana. Bagi Allah semua jadi mudah. Ketika Allah menghendaki seseorang terpapar maka dia bisa terkena paparannya.Tanpa sebab kausalitas kasat mata.

Apapun masalah jika sudah terjadi itu berarti sudah qodlo Allah. Jika belum terjadi kita bisa mencegahnya, bertindak hati-hati dan waspada, patuhi protokol kesehatan dengan taat untuk memakai masker di mana pun berada, jaga jarak aman, mencuci tangan setiap kesempatan. Dan prosedur aman lainnya yang harus diperhatikan.

Dan yang lebih penting dari semua itu, ada teladan baik dan bermanfaat yang harus dulakukan pemimpin negara. Ketika ada wabah di suatu negeri, maka negeri yang mengalami wabah itu harus diisolasi. Penghuninya tidak boleh keluar, sementara yang di luar wilayah tidak boleh masuk. 

Dalam hal ini pemerintah bisa fokus mengatasi yang sakit agar mendapat fasilitas memadai dan mendukung kesembuhan. Sedangkan kebutuhan umat di wilayah pandemi atau wabah yang diisolasi maka akan dicukupi negara. Dari mana biaya untuk memenuhi kebutuhan? Dari wilayah yang tetap aktifitas seperti biasanya. Karena wilayahnya aman, maka aktifitas segala bidang kehidupan tetap berjalan lancar seperti biasanya.

Hal ini sudah diberi contoh oleh Rasulullah saw dan para sahabat waktu itu.

"Jika kalian mendengar wabab terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR. Al Bukhari).

Demikian pula ketika masa khalifah Umar bin Khattab. Diriwayatkan pada masa itu, terjadi wabah Thaun di negeri Syam.

"Khalifah Umar bin Khattab pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di tempat kalian, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu. (HR Al Bukhary).

Itu yang harus dilakukan pemimpin negara ketika wilayah di negerinya mengalami wabah. Sebagai bentuk pencegahan agar tidak menyebar ke wilayah lain. Semua dilakukan karena keimanan dan ketaatan kepada Allah. Apa yang diperintah Allah dan Rasul dilakukan tanpa banyak tanya apalagi menganalisa masalah. 

Keimanan di dadanya membawa kepada sebuah keyakinan utuh bahwa aturan buatan Allah pasti terbaik dan hasilnya membahagiakan. Sehingga tidak perlu membuat aturan baru yang justru merepotkan diri dan umat. Apalagi aturan yang dibuat belum ada jaminan keberhasilan. 

Bahkan berdasarkan fakta yang ada, aturan buatan manusia hasilnya kacau balau. Bukannya mensejahterakan umat, justru membuat kondisi negeri rusak, dengan meninggalkan beban kemiskinan, ketakutan, penderitaan umat.

Itu sebuah bukti jika pemimpin negara tidak menjalankan aturan  Allah. Jika Allah hendak menghancurkan ciptaanNya, maka begitu mudah dilakukan. Namun kasih sayang Allah melebihi kemarahanNya. Bukannya dihancurkan hamba-hamba yang dzalim itu. Bukannya dibinasakan negeri penuh maksiat itu. Namun Allah turunkan pasukan kecil tak tampak mata bernama virus corona tadi sebagai peringatan.

Sudah lebih tujuh bulan dunia berduka karena terjangan virus corona. Bagaiman bisa negara -negara kuat adidaya bisa hancur berkeping-keping karena virus corona. Siapa sangka para pemimpin dunia yang jumawa itu juga terkapar karena paparan virus corona.

Pemimpi  yang seharusnya memberikan contoh kebaikan kepada umat. Namun justru mengabaikan umat untuk kepentingan diri dan golongannya. Bukannya memberi contoh kebaikan kepada umat untuk antisipasi paparan virus corona. Justru ada yang abai dan tidak memperhatikan protokol kesehatan yang dibutnya selndiri.

Jika masih diberi kesempatan Allah untuk merasakan paparan virus corona, tetap berhusnudzon saja. Apa hak kita memvonis atau menjudgemen mereka? Sejahat apapun seseorang, jika Allah berkenan membukakan setitik cahaya hidayah. Siapa yang bisa menghalangi?

Tugas kita bersikap terbaik, melakukan terbaik tugas dan amanah sesuai aturan Allah. Dan jika melihat penyimpangan dalam penyelenggaraan amanah, maka kembali kepada hukum syara. Landasan, standart kebenaran adalah hukum syara, aturan dari Allah swt. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa.

Berharap pemimpin suatu negeri menjalankan ketaatan sesuai aturan Allah. Jika ada penyimpangan, hendaknya segera taubatan nasuha, taubat sungguh-sungguh. Kemudian bertekat kuat untuk kembali menjalankan ketaatan.

Namun kebanyakan tak mempan dengan sentilan halus. Maka Allah memberikan sentilan lebih keras semacam bencana alam. Namun kenyataannya, masih banyak pemimpin yang mengabaikan kepentingan umat. Maka serangan corona yang menyasar semua orang talk pandang usia. Tak pula melihat miskin kaya, laki-laki wanita, pejabat dan orang biasa, nakes juga para dokter. Bahkan para pejabat, mulai yang sedang, tinggi hingga adikuasa, semua dalam ancaman virus corona.

Pilihan tergantung  dirinya memilih jalan berkah sesuai  tuntunan Allah. Atau hendak merasakan paparan corona yang berada dekat di sekitarnya? Wallahu a'lam bish shawwab.[]

Oleh: Lilik Yani
(Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar